Sabtu, 29 Maret 2025

Sudah Selesai

Bacaan: Ibrani 10:16-23

 Kematian Yesus Kristus tidak berbeda jauh dengan kematian umat manusia lainnya. Kematian Yesus merupakan salah satu kematian yang tragis dan menyedihkan, tetapi makna dan pengaruh kematianNya tidaklah sama dengan kematian semua umat manusia. Peristiwa kematian Kristus sangatlah unik, mengandung misteri yang tidak terpecahkan, dan membawa pengaruh serta perubahan yang luar biasa bagi kehidupan umat manusia sepanjang abad. Tanpa melalui kematian Kristus di atas kayu salib, kita semua selaku umat manusia tidak mungkin dapat masuk ke dalam tempat kudus yaitu takhta Allah. Tepatnya tanpa melalui kematian Kristus, semua umat manusia tidak dapat memperoleh keselamatan dan hidup kekal di hadapan Allah. Mungkin tanpa kematian Kristus umat manusia tetap dapat beragama, memiliki keyakinan dan melakukan berbagai ibadah yang indah dan pengajaran yang berhikmat. Tetapi tanpa darah Kristus, dengan usaha dan berbagai jasa perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia, sesungguhnya tidak mungkin benar di hadirat takhta Allah. Pengertian dosa dihayati sebagai suatu perlawanan atau pemberontakan terhadap diri Allah sendiri. Itu sebabnya hukuman atas dosa oleh Allah seharusnya berupa kematian. Perbuatan dosa tidak dapat dibayar dengan sekedar perbuatan baik, atau ibadah seseorang. Pendamaian atas perbuatan dosa hanya dapat dibayar dengan penumpahan darah. Jadi jelaslah alasan mengapa pencurahan darah Kristus mutlak diperlukan, karena hanya dengan darah Kristus sajalah yang memungkinkan umat yang percaya dapat masuk ke hadirat Allah dan berkenan kepadaNya. Darah Kristus yang ditumpahkan menjadi sangat sempurna untuk membuka jalan yang baru bagi kehidupan seluruh umat manusia. Sehingga melalui darah salib Kristus, kita telah diperdamaikan dengan Allah.

Menjelang kematianNya, Kristus tidak pernah berpusat perhatianNya kepada kepentingan diri sendiri. Dia tidak pernah mengucapkan kata-kata yang kasar, ungkapan-ungkapan kemarahan, kebencian dan kutukan sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang disalib pada zaman itu. Sebaliknya perkataan-perkataan Kristus senantiasa penuh dengan pengampunan, ucapan berkat dan penghiburan kepada orang-orang yang berada di dekat salibNya. Dalam hal ini Kristus telah membuktikan diriNya sebagai korban yang sangat sempurna di hadapan Allah dan manusia. Saat Dia akan menghembuskan nafasNya yang terakhir, perkataan yang diucapkan oleh Tuhan Yesus adalah “Sudah selesai”, lalu Dia wafat. Perkataan “sudah selesai” yang diucapkan oleh Tuhan Yesus mau menyatakan bahwa seluruh hidupNya telah menjadi korban yang sempurna di hadapan Allah. Dia telah berhasil menyelesaikan seluruh karya Allah yang mendamaikan secara sempurna sampai pada akhirnya. Itu sebabnya karya Kristus yang “sudah selesai” di atas kayu salib pada hakikatnya menunjuk kepada tindakan yang bermakna menyelesaikan atau menyempurnakan secara lengkap.

Kematian Kristus yang membuka suatu jalan yang baru bagi manusia dapat memberikan kepada kita suatu harapan iman yang mengubah cara pandang di saat kita menghadapi penderitaan, kepedihan, kegagalan. Pada saat yang demikian, kita merasa tidak sanggup lagi menjalani pergumulan kehidupan ini. Saat itu hidup kita seperti terkurung dalam api yang begitu menyiksa. Tetapi pada saat kita berada dalam bayang-bayang maut, tiba-tiba kita dapat mendengar ucapan Tuhan Yesus saat Dia akan menghembuskan nafasNya “Sudah selesai!” Apa yang terjadi dalam diri kita, bukankah pada saat itu kita merasakan atau mengalami seluruh beban yang begitu berat dan menindih kita, tiba-tiba dapat terangkat lepas? Ucapan Kristus tersebut memberikan kepada kita suatu kekuatan yang luar biasa, sehingga kita dapat menemukan suatu jalan yang baru di tengah-tengah berbagai persoalan hidup yang menerpa kita. Beban pergumulan dan dosa atau kesalahan kita hanya dapat terangkat lepas saat Kristus meneguhkan kita, bahwa kuasa maut pada hakikatnya telah dipatahkan karena Dia telah menyelesaikan karya pendamaian di atas kayu salib dengan sempurna.

Tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita senantiasa tergoda untuk menyelesaikan segala persoalan, kegagalan, dan dosa-dosa yang telah membelenggu dengan usaha dan kekuatan kita sendiri. Kematian Kristus membuka jalan yang baru bagi kita dan tidak pernah membuat diri kita hidup secara eksklusif. Karya Kristus yang mendamaikan tidak pernah mendorong kita untuk menjadi pribadi yang cinta diri dengan menutup relasi yang hangat dengan sesama. Sebaliknya karya Kristus yang mendamaikan dengan membuka jalan yang baru senantiasa mendorong kita untuk menghayati makna dan tujuan hidup kita yang baru dalam persekutuan jemaat. Karya Kristus yang mendamaikan di atas kayu salib bukan hanya mendamaikan diri kita dengan Allah, tetapi juga mendamaikan diri kita dengan setiap sesama kita, bahkan juga karya Kristus tersebut mendamaikan diri kita dengan diri sendiri sehingga kita dimampukan untuk menerima keberadaan orang lain. Tujuannya agar jalan yang baru dan yang hidup dari Kristus tersebut dapat kita nyatakan dan hadirkan dalam lingkup yang lebih luas, yaitu persekutuan demi persekutuan. Sehingga dalam setiap komunitas di mana kita hadir, senantiasa akan terjadi karya keselamatan Allah yang mendamaikan. Tugas ini tidak dapat kita elakkan karena sesungguhnya Kristus telah memanggil dan menetapkan kita untuk menjadi para hambaNya, yaitu kita dipanggil untuk mengkomunikasikan jalan yang baru dalam karyaNya kepada dunia di sekitar kita, agar keselamatan Allah dapat terwujud. 

Sabtu, 22 Maret 2025

TRIDUUM MENUJU KE PASKAH

Salam Sejahtera Dalam Kasih Kristus.

Saudara-saudaraku yang terkasih. Paskah merupakan pusat dari kehidupan iman percaya kita. Dengan demikian Masa Paskah senantiasa menghidupi seluruh kehidupan iman percaya kita sepanjang kehidupan. Tanpa peristiwa Paskah tidak akan ada janji keselamatan, juga tidak ada perayaan atau ibadah apapun. Paskah bukan hanya peristiwa kebangkitan Kristus, tetapi juga penderitaan dan kematian-Nya. Melalui peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus, kita umat percaya memperoleh karunia pintu masuk yang baru kepada Allah. Dengan demikian melalui peristiwa Paskah, yaitu penderitaan-kematian-kebangkitan Kristus, kita yang semula bukan umat Allah dijadikan umat-Nya. Lebih daripada itu, kita diperkenankan untuk menjadi anak-anak Allah, pewaris Kerajaan Allah. Karena itu kita dipanggil mempersiapkan Masa Paskah secara khusus selama empat puluh hari yang dimulai pada Rabu Abu. Dengan demikian ibadah Rabu Abu merupakan awal dari masa Prapaskah yang ditandai dengan instrospeksi diri, pertobatan, perkabungan, dan kesediaan menerima pembaruan diri.

Makna instrospeksi diri, pertobatan, dan kesediaan pembaruan diri yang dimulai pada Rabu Abu, bukan berarti di luar masa Prapaskah, kita boleh hidup dalam sikap yang tidak mawas diri dan tanpa pertobatan. Sikap mawas diri dan pertobatan merupakan panggilan hidup umat percaya sepanjang hidupnya. Namun secara khusus selama masa Prapaskah yang dimulai pada Rabu Abu sampai Kamis Putih memiliki tempat yang khusus. Karena itu kita dipersiapkan untuk menyambut Tri hari Suci, yaitu: Kamis Putih (Yesus mencuci kaki para murid-Nya dan Perjamuan Malam Terakhir), Jumat Agung (jalan penderitaan dan wafat di bukit Golgota), Sabtu Sunyi (Jenasah Yesus di dalam makam), dan Paskah (Yesus bangkit dari kematian-Nya). Menjelang Paskah kita dipanggil untuk mempersiapkan diri dengan sikap mawas diri, bertarak, dan bertobat selama empat puluh hari. Persiapan yang cukup panjang selama masa Prapaskah merupakan media disiplin rohani yang diatur oleh gereja agar kita mampu menghayati karya keselamatan Allah di dalam kematian dan kebangkitan Kristus dengan pembaruan hidup. Dengan melatih diri secara khusus pada masa Prapaskah selama empat puluh hari, kita dimampukan untuk hidup dengan pembaruan diri setelah masa Paskah. Dengan demikian proses pembaruan dan pertobatan diharapkan menjadi gaya hidup kita percaya dalam kehidupannya sehari-hari. Pembaruan hidup atau pertobatan bukan hanya terjadi pada masa hari raya gerejawi, namun menjadi identitas diri dan pola hidup kita di tengah-tengah dunia.

Masa Raya Paskah meliputi tiga masa, yaitu Masa Pra Paskah, Masa Pekan Suci, Masa Paskah. Menjadi sangat penting untuk kita pahami beberapa kegiatan yang akan kita laksanakan, diantaranya:

1.      Rabu Abu

Rabu abu merupakan pembukaan masa Prapaskah, awal puasa dan pantang. Pada Ibadah Rabu Abu, warga jemaat dahinya diberi abu sebagai tanda pertobatan. Simbol ini mengingatkan umat akan ritual Israel kuno dimana seseorang menabur abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, penyesalan dan pertobatan (Ester 4:1,3); duduk di atas abu sebagai tanda kesedihan yang mendalam (Ayub 2:8). Dalam Mazmur 102:10 secara figuratif, penyesalan juga digambarkan dengan memakan abu: “Sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan.” Ibadah Rabu Abu mempersiapkan kita secara spiritual agar layak merayakan Tri hari Suci, sehingga mampu menghayati karya keselamatan Allah dalam ibadah. Pengolesan abu dalam ibadah Rabu Abu sebagai tindakan yang memiliki cakupan makna yang lebih luas, bersifat khusus, rohaniah, dan berkaitan dengan tanda-tanda rahmat Allah. Karena itu penggunaan simbol abu dalam Ibadah Rabu Abu juga penting dan bermakna. Penggunaan simbol abu memiliki makna iman yang berakar pada kesaksian Alkitab dan tradisi gereja selama berabad-abad. Simbol abu digunakan dalam ibadah Rabu Abu, supaya kita menyadari akan kefanaan, kerapuhan, dan keberdosaan, dan kita dipanggil terbuka untuk menerima anugerah keselamatan Allah dalam pengampunan-Nya. Namun simbol abu sebagai tanda pertobatan perlu diterapkan dalam kehidupan yang nyata. Apa artinya dahi kita diolesi dengan abu dan melaksanakan ibadah dengan khidmat tetapi hidup kita tidak mengalami pembaruan yang berarti. Karena itu pengolesan abu di dahi merupakan ekspresi rohaniah yang dengan sadar mengakui dan menyesali semua dosa dan kesalahan yang telah dilakukan, sehingga mohon kemurahan dan kerahiman Allah. Spiritualitas yang mendasari kita untuk bertobat mulai Rabu Abu sampai Sabtu Sunyi adalah hati yang hancur dan jiwa yang remuk.

Pertobatan yang dinyatakan dengan pembaruan hidup dinyatakan melalui relasi personal yang intim dengan Allah melalui Doa (Mat. 6:5-8), menyangkal diri melalui Puasa (Mat. 6:16-28), dan menyatakan kemurahan hati dengan memberi (Mat. 6:1-4). Makna Tiga Disiplin Spiritualitas dalam kehidupan kita adalah:

1.      Spiritualitas Doa merupakan komunikasi dan relasi personal yang intim dengan Allah, sehingga melalui doa kita mengalami kasih dan anugerah Allah yang berlimpah. Karena itu melalui spiritualitas doa, kita memuji dan memuliakan Allah. Kita juga mengalami kesadaran akan keberdosaannya tanpa menghukum diri sebab dilandasi oleh sikap iman yang percaya kerahiman Allah yang tanpa batas.

2.      Spiritualitas Berpuasa merupakan tindakan menyangkal diri terhadap segala sesuatu yang melekat secara duniawi. Puasa bukan suatu spiritualitas yang mempengaruhi hati Allah untuk kepentingan dan keinginan daging, tetapi perjuangan rohaniah untuk melawan keinginan daging. Melalui puasa kita menahan diri untuk melawan kenikmatan lahiriah, sehingga keinginan Roh menjadi dominan dan mengendalikan kehidupan kita. Karena itu spiritualitas berpuasa harus dilakukan secara disiplin dan berkesinambungan sehingga kehidupan kita semakin melekat kepada Kristus, dan bukan kepada dunia.

3.      Spiritualitas Memberi merupakan tindakan iman yang menyatakan kasih dan kemurahan hati kepada sesama yang dilandasi oleh kasih Allah di dalam penebusan Kristus. Melalui spiritualitas memberi setiap kita menyisihkan secara khusus uang atau makanan yang ditujukan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan, khususnya mereka yang menderita. Bantuan yang kita berikan diharapkan menjadi cara menguatkan dan memberdayakan mereka. Karena itu tujuan spiritualitas memberi adalah memberdayakan sesama yang mendapat bantuan.

 

Tiga Disiplin Spiritualitas yang diajarkan oleh Yesus tersebut wajib dipraktikkan kita dengan cara tersembunyi, yaitu: “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat.6:6). Spiritualitas ketersembunyian juga dipraktikkan saat kita berpuasa, yaitu: “supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat.6:16). Demikian pula saat kita memberi persembahan, yaitu: “Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat. 6:4). Berulang-ulang Yesus menekankan aspek ketersembunyiaan saat kita melakukan kebajikan rohaniah dalam bentuk Tiga Disiplin Spiritualitas, yaitu: Berdoa, Berpuasa, dan Memberi.

 

2.      Pekan Suci

Seminggu menjelang Hari Raya Paskah dikenal sebagai Pekan Suci, dimulai pada hari minggu Palma. Ini adalah hari-hari dalam seminggu dimana umat merefleksikan peristiwa sebelum kematian Yesus.

1.                Minggu Palmarum

Minggu Palmarum dirayakan sebagai bagian dari pekan suci. Dilaksanakan pada hari Minggu sebelum Minggu perayaan Paskah. Pada hari minggu Palmarum, umat Kristen merayakan prosesi Yesus memasuki kota Yerusalem. Menurut Injil, orang-orang dari Yerusalem memegang cabang pohon dan dedaunan di jalan untuk menyambut Yesus saat ia menunggangi seekor keledai memasuki kota Yerusalem. Dalam kebaktian Minggu Palmarum, penekanan kebaktian adalah harapan dan sukacita di tengah penderitaan.

 

2.                Kamis Putih

Pelayanan ibadah Kamis Putih bertujuan untuk mengenang peristiwa-peristiwa dimana Yesus mendekati masa-masa kematian-Nya. Beberapa peristiwa tersebut adalah; perempuan yang meminyaki Yesus dengan parfum dari buli-buli dan mengusapnya dengan rambutnya, perjamuan malam yang dilakukan Yesus, dimana untuk terakhir kalinya Yesus berbagi roti paskah dengan para murid, Yesus yang membasuh kaki para murid dan bertindak sebagai pelayan, namun juga mengenang tentang Petrus dan Yudas yang tidak setia. Kata “Putih” adalah simbol dari terang. Karena itu pada waktu ibadah Kamis Putih dihiasi dengan warna putih di tengah kegelapan. Hal ini menggambarkan peran Tuhan Yesus yang telah datang ke dunia membawa terang. Dalam terang Kristus, kita menemukan sebuah pesan, “melayani”. Karena itu kebaktian berpusat pada pelayanan doa dan di beberapa gereja pembasuhan kaki. Ibadah Kamis Putih merupakan penutup masa Prapaskah. Dalam ibadah Kamis Putih gereja mengenang Perjamuan Malam Terakhir yang dilakukan Yesus bersama para murid-Nya dengan terlebih dahulu membasuh kaki para murid-Nya. Perjamuan Malam Terakhir yang dilakukan oleh Yesus tersebut yang menjadi dasar teologis gereja merayakan Sakramen Perjamuan Tuhan. Dengan demikian dalam ibadah Kamis Putih, gereja secara utuh menghayati dan mengenang peristiwa Perjamuan Malam Terakhir, penetapan sakramen Perjamuan Tuhan, dan sikap Yesus yang menekankan kasih-Nya sebagai seorang hamba dengan membasuh kaki para murid-Nya.

 

Tujuan utama Yesus membasuh kaki para murid-Nya adalah memberi keteladanan agar setiap umat yang percaya saling merendahkan diri walau mereka sedang dalam kondisi dilukai dan dikhianati. Di Yohanes 13:14-15 Yesus berkata: “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu, sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”  Tindakan Yesus membasuh kaki para murid-Nya merupakan keteladanan yang sempurna dan menjadi simbol yang merangkum makna ritual dan spiritualitas secara utuh. Karena itu melalui peristiwa pembasuhan kaki para murid-Nya tersebut, Yesus memberikan perintah baru. Isi perintah baru dari Yesus tersebut adalah: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh. 13:34). Perintah Yesus tersebut disebut perintah yang baru sebab terdapat bagian yang paling utama, yaitu: “….sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Para murid mendapat tugas untuk saling mengasihi dengan dilandasi oleh sikap kasih Yesus yang dicurahkan kepada diri mereka. Dimensi “kebaruan” dalam perintah Yesus tersebut terletak pada realitas kasih Yesus yang sudah diberikan kepada para murid-Nya. Karena itu dimensi terdalam dalam peristiwa perayaan hari Kamis Putih terletak pada “perintah baru” dari Yesus. Perintah baru itulah yang diekspresikan melalui ibadah dengan tindakan saling membasuh kaki di antara para murid dan dimanifestasikan sebagai spiritualitas dalam kehidupan umat sehari-hari.

 

Tindakan Yesus membasuh kaki para murid-Nya bukanlah suatu momen romantis dan sesaat saja secara emosional, tetapi merupakan suatu spiritualitas yang menjadi pola kehidupan umat percaya. Sebagai suatu spiritualitas, maka keteladanan yang telah Yesus lakukan seharusnya menjadi model dan bentuk kerohanian yang signifikan sehingga menjiwai setiap pola pikir-perasaan-kehendak setiap umat. Dengan demikian tindakan membasuh kaki di antara umat bukan sekadar suatu ritualisme, namun suatu spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu yang utama adalah bagaimanakah umat mempraktikkan makna membasuh kaki dalam kehidupan bersama sehingga spiritualitas tersebut memampukan umat jauh dari sikap angkuh, merasa paling penting, saling menguasai dan memanipulasi kekuasaan.

 

3.                Jumat Agung

Merupakan bagian dari Tri Hari Suci. Jumat Agung adalah hari Jumat sebelum Minggu Paskah, hari peringatan penyaliban Yesus Kristus dan wafat-Nya di Golgota. Melalui kurban penebusan Kristus yang menyerahkan nyawa melalui darah-Nya, kita mengalami pendamaian yang menyeluruh dengan Allah. Sebab melalui kematian-Nya, Yesus telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri. Karena itu peristiwa kematian Yesus disebut sebagai Jumat Agung, sebab dalam peristiwa Jumat Agung di Bukit Golgota Allah telah mendamaikan manusia dengan penebusan Kristus, dan Kristus mengaruniakan jalan baru yaitu keselamatan. Respons iman manusia terhadap karya penebusan dan pendamaian Allah di dalam Kristus adalah sikap percaya kepada Kristus dengan menerima Dia sebagai penebus dan penyelamat yang memulihkan kita dari kuasa dosa. Dengan demikian setiap kita dipanggil untuk memberlakukan karya pendamaian Allah dalam penebusan Kristus dengan berdamai dengan diri sendiri dan sesama serta lawan. Makna kematian Kristus yang menyerahkan nyawa-Nya seharusnya memampukan umat untuk mengalami rekonsiliasi yang menyeluruh sehingga mengalami proses pembaruan. Rekonsiliasi akan terjadi apabila kita memandang dan memperlakukan setiap sesama sebagai umat yang telah ditebus dan dikasihi Allah di dalam penebusan Kristus. Dengan demikian sesama dengan segala keberadaannya yang unik dan latar-belakang yang berbeda diterima secara utuh. Kita mengasihi sesama sebagaimana layakya Kristus mengasihi mereka.

 

4.                Sabtu Sunyi

Disebut juga Sabtu suci, Sabtu sepi yang merupakam juga bagian dari Tri Hari Suci. Sabtu Sunyi merupakan hari terakhir dalam Pekan Suci dan masa Prapaskah. Ibadah Hari Sabtu Suci memperingati pada saat tubuh Yesus Kristus dibaringkan di kubur setelah mati disalibkan. Pada ibadah Sabtu Sunyi, umat percaya menghayati masa transisi dari peristiwa kematian Yesus dan kebangkitan-Nya. Dalam masa transisi tersebut mengandung dua aspek yang saling menyatu, yaitu kedukaan dan harapan. Dimensi kedukaan adalah karena Yesus telah wafat di atas kayu salib yang telah dirayakan pada Jumat Agung, dan dimensi harapan karena Yesus akan bangkit dari kematian-Nya pada hari Paskah. Dalam ibadah Sabtu Sunyi, dimensi kedukaan dan harapan dilabuhkan dalam sikap iman. Seraya merenungkan makna kefanaan manusia di depan jenasah Yesus yang berada di dalam makam, umat menghayati makna Sabtu Sunyi dengan keheningan dan sikap meditatif.

 

Ibadah Sabtu Sunyi disebut dengan “Sabat Kedua” yang menggemakan ingatan umat akan karya Allah yang menciptakan langit, bumi dan seisinya selama enam hari dan pada hari ketujuh Allah berhenti menguduskan. Demikian pula pada Sabtu Sunyi, karya keselamatan Allah telah terjadi secara sempurna dalam kematian Kristus sehingga pada hari “Sabat Kedua” jenasah Kristus diam terkubur dalam perut bumi. Melalui kematian Kristus, Allah menciptakan kehidupan baru yang tampak pada hari Paskah, yaitu kebangkitan Kristus. Sabtu Sunyi juga disebut Sabbatum Sanctum, yaitu Sabat yang kudus. Pada awal kekristenan, umat percaya merayakan dengan khidmat Sabbatum Sanctum dan Paskah, sebab melalui Sabbatum Sanctum, umat mempersiapkan diri menyambut misteri Paskah yaitu kebangkitan Kristus.

 

Dalam ibadah Sabtu Sunyi kita melakukan perenungan yang sifatnya meditatif. Dalam perenungan menantikan kebangkitan Kristus yang terjadi pada Paskah Subuh. Tema perenungan pada hari Jumat Agung dan Sabtu Sunyi adalah karya keselamatan Allah yang telah terjadi dalam penderitaan dan kematian Kristus. Hiasan di sekitar mimbar pada Sabtu Sunyi biasanya memakai ranting-ranting kering, atau tanpa hiasan sama sekali. Ciri utama selama Sabtu Sunyi adalah keheningan agar umat secara intensif berdoa, membaca firman, dan merenungkan untuk menghayati makna kematian Kristus dan menantikan kebangkitan Kristus dengan harapan iman. Keheningan berdoa dan merefleksikan karya keselamatan Allah yang terjadi dalam kematian Kristus pada Sabtu Sunyi paralel dengan perintah Allah kepada umat Israel untuk menguduskan hari Sabat (Kel. 20:8-11). Melalui kematian Kristus, Allah mengingatkan kita akan karya penciptaan yang baru, yaitu melalui penebusan-Nya di atas kayu salib; Allah mengingatkan manusia akan karya penciptaan-Nya yang telah terjadi selama enam hari lamanya. Keduanya merupakan tema yang hakiki dalam sejarah kehidupan umat manusia. Allah telah berkarya dan menciptakan kehidupan namun telah dirusak oleh dosa, dan di dalam Kristus Allah kembali menciptakan kebaruan sehingga manusia hidup dalam anugerah-Nya. Perenungan pada Sabtu Sunyi merupakan tindakan retreat agar umat menemukan kembali sumber dan kekayaan rohaninya yang bersumber pada karya keselamatan Allah di dalam inkarnasi dan penebusan Kristus.

 

Merayakan Triduum (Tri Hari Suci), yaitu: Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, dan Paskah merupakan perayaan gerejawi yang menjadi jantung keselamatan iman Kristen, karena melalui peristiwa-peristiwa Kristus tersebut karya keselamatan Allah mencapai puncaknya. Karya keselamatan Allah tersebut merupakan kebutuhan dan harapan manusia yang paling utama. Karena itu perayaan Triduum bukanlah suatu perayaan gerejawi yang terlepas dari konteks nyata kehidupan umat. Kita hidup di tengah-tengah budaya kematian yang menyebarkan sengat maut dalam berbagai manifestasinya. Karena itu melalui perenungan iman tentang kematian Kristus dan kebangkitan-Nya, kita akan memperoleh kekuatan rohani sehingga memampukan kita untuk memaknai realita hidup dengan perspektif harapan iman kepada Kristus yang telah bangkit. Tuhan Yesus Kristus senantiasa memberkati kehidupan bergereja kita. Selamat menyongsong Paskah. Amin.

SELAMAT DATANG ”YBPK NEW INSTRUCTION PARADIGM”

Salam sejahtera dalam kasih Kristus.
Semaraknya program sertifikasi guru yang dicanangkan oleh pemerintah, menjadikan semangat baru bagi para guru di negeri ini. Sebab wacana yang berkembang di masyarakat, banyak yang menginginkan supaya “pahlawan tanpa tanda jasa” ini mendapatkan penghargaan yang semestinya. Yang menarik dari program ini adalah tidak semata-mata dengan memberikan tambahan pendapatan bagi para guru, tetapi juga penilaian akan kelayakan bagi guru supaya benar-benar profesional dengan cara menilai kinerja dan faktor pendukung lainnya diluar kegiatan mengajarnya yaitu dengan cara mengumpulkan piagam-piagam penghargaan atau berkas-berkas sejenisnya yang sering disebut dengan penilaian “forto-folio”. Lepas apakah ada yang berbuat tidak semestinya saat mengumpulkan berkas-berkas tersebut, namun pemerintah mengatasinya dengan mengadakan pelatihan bagi guru yang dinyatakan tidak berhasil saat penilaian forto-folionya.
Bagaimana dengan keluarga besar YBPK-GKJW berkenaan dengan program pemerintah tersebut ? Melalui pertemuan para pengurus yang secara rutin dan pembicaraan-pembicaraan yang dilakukan dengan beberapa yayasan-lembaga lain yang berkecipung dengan dunia pendidikan, YBPK-GKJW berkeinginan menciptakan paradigma baru di setiap lini, yang intinya adalah mengembangkan tidak hanya pada proses perkembangan kelembagaannya tetapi juga mengembangkan proses pengembangan pengajaran ataupun pembelajaran. Kita bisa melihat bahwa rencana ini nampaknya telah menjadi program yang sebenarnya sejak lama menjadi bahan pemikiran pengurus YBPK-GKJW, dimana jauh sebelum bergulirnya wacana sertifikasi, telah dilakukan pembenahan-pembenahan yang telah kita rasakan.
Dari lini keorganisasian atau kelembagaan, YBPK-GKJW di tingkat “pusat” ada nuansa baru dengan adanya kecenderungan penajaman kejelasan kinerja dimana kita sekarang akan mengenal “Pembina-Pengurus-Pengawas” semua bagian terisi dengan personalia yang diharapkan melakukannya dengan sepenuh hati dan menjaga keprofesionalitasnya. Kita semua berharap bahwa setiap pribadi yang ada dalam lingkup “pengurus pusat” dapat menjadi konvokator yang baik bagi kita semua.
Menurut pengamatan sederhana, secara umum bahwa yang menjadi sasaran kita saat ini adalah perolehan siswa yang signifikan, peningkatan SDM secara keseluruhan serta peningkatan dan atau penataan sarana prasarana. Ketiga sasaran tersebut saling berkaitan satu dengan lainnya, dimana supaya mendapatkan siswa yang signifikan tentu harus disertai peningkatan kualitas SDM dan kelengkapan sarana prasarana sebagai pendukungnya. Demikian sebaliknya ketika kita mendapatkan siswa yang signifikan tentu ada pemasukan dana yang memadai yang semestinya akan dipergunakan dalam meningkatkan peran dan peranan SDM dan pembenahan sarana prasarana sebagai penunjangnya. Dari sudut pandang lainnya, ada satu hal yang membanggakan sebetulnya bagi kita semua ketika kita berbicara tentang peningkatan kualitas SDM nya, yaitu disamping kita lebih profesional karena adanya pelatihan-pelatihan, juga pendapatan kita juga diharapkan ada peningkatan seperti yang telah dirasakan dibeberapa unit sekolah beberapa bulan terakhir ini dimana ada banyak perhatian yang telah diberikan oleh Jemaat setempat, bahkan ada hasil persidangan Majelis Daerah yang salah satu keputusannya adalah setiap Jemaat mengadakan kantong persembahan khusus pada minggu tertentu setiap bulan untuk diserahkan kepada unit sekolah YBPK yang ada dalam “wilayah pelayanan” Majelis Daerah tersebut.
Pembenahan kelembagaan dilakukan dengan harapan bisa menjawab tantangan saat ini dengan banyak bermunculan lembaga-lembaga pendidikan yang merupakan partnership kita ( maaf saya memilih kata partnership daripada kompetitor) yang siap berkiprah bersama mendidik anak-anak bangsa di era globalisasi ini. Namun demikian perlu kiranya kita memperhatikan pemikiran pemikiran berikut ini sebagai bahan masukan berkaitan dengan pembenahan atau penyempurnaan kelembagaan kita yaitu dengan mengambil langkah-langkah praktis dimana kita seharusnya :
v Mengamati dalam arti mengontrol diri atau “mawas diri” akan apa yang sedang kita atau YBPK-GKJW lakukan selama ini yang ditujukan kepada arah pengembangan di semua lini.
v Menentukan dengan cara saling memberi masukan/saran kritik yang membangun apa yang seharusnya dilakukan diantara kita di masa yang akan datang terhadap pengembangan di semua lini.
v Menganalisa terhadap perubahan-perubahan yang terjadi diluar lembaga / perhimpunan kita yang bisa mempengaruhi pengembangan di semua lini sebagai bahan kajian bagi kita.
v Klarifikasi dan lakukan penekanan beberapa program kegiatan yang telah dan sedang dilakukan apakah masih relevan diterapkan/dilanjutkan dalam rangka membantu YBPK-GKJW dalam memenuhi kebutuhannya, mencapai misinya dan menyadari tujuan perencanaan strategi dan sasarannya.
v Identifikasi sumber-sumber yang terbaik seperti bakat dan sumber daya yang kita miliki karena pasti ada banyak bermunculan pribadi-pribadi yang berubah dan sangat berkompeten tetapi belum pernah terlihat atau terdengar untuk mengimplementasi bakat dan kemampuannya dalam rangka membantu pengembangan di semua lini.

Selanjutnya secara lebih khusus kita bisa merenungkan apa yang telah terjadi di YBPK-GKJW kita terhadap perhatiannya kepada peningkatan SDM. Ada banyak kegiatan yang seharusnya dilakukan kepada kita keluarga besar YBPK-GKJW. Ada banyak pelatihan yang seharusnya dilakukan baik yang ditujukan kepada para Kepala sekolah, guru maupun karyawan. Kita tentu masih ingat pakar pendidikan yang bukunya sangat terkenal dan teorinya banyak dipakai oleh banyak pendidik atau pemerhati pendidikan sampai dengan saat ini yaitu Dick & Carey dalam bukunya “The Systematic Design Of Instruction “ di edisi kelimanya, tentang model pendekatan system yang mengilustrasikan bahwa kinerja seseorang dalam melaksanakan kegiatannnya bagaikan orang memasak, bahwa dengan penataan dapur sendiri, racikan bumbu atau resep sendiri akan menghasilkan masakan yang unik dan lezat. Sebagai orang yang masuk dalam tim di dunia pendidikan, kita tidak hanya dituntut untuk mengembangkan dan menguasai bidang studi keahlian kita saja melainkan juga dituntut untuk mampu mengalihkan keahlian kita itu kepada para siswa, sehingga terjadi transformasi nilai, sikap dan kemampuan pada diri mereka. Ini merupakan salah satu tugas utama dan profesional sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan.
Peran ini sangatlah perlu dikembangkan, dan inilah yang sedang kita renungkan untuk segera diimplementasikan, dimana lembaga kita YBPK-GKJW memulai dengan menggarap kita sebagai tenaga pengajar. Kita tentunya mempunyai banyak asumsi mengapa ini dilakukan terhadap tenaga pengajar, menurut analisa yang berkembang karena adanya beberapa asumsi yang dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan :
1. Tenaga pengajar merupakan sumber pendidikan yang paling penting.
2. Kualitas keilmuan dan keprofesionalannya sangat perlu ditingkatkan karena tuntutan kondisi dan tantangan dunia.
3. Mengajar merupakan serangkaian sikap, pengetahuan, ketrampilan, motivasi dan nilai yang komplek, sehingga seharusnya dihindari penanganan secara sederhana.
4. Tidak ada satu model, pendekatan atau teknik yang abadi atau tunggal yang dapat diterapkan sepanjang masa untuk menjadikan proses belajar-mengajar yang efektif.
5. Keberagaman karakteristik siswa yang memiliki kemampuan, minat, latar belakang serta orientasi yang berbeda juga perlu ditanggapi dengan memberikan pengalaman belajar yang berbeda.

Dari pertimbangan diatas yang berangkat dari asumsi-asumsi yang ada, maka tentunya ada kelanjutan tindakan yang seharusnya dilakukan oleh lembaga kita, YBPK-GKJW yaitu : (menurut saya, perlu : )
1. Pengembangan professional, yang berupa peningkatan kompetensi pengajaran.
2. Pengembangan ketrampilan pendukung kompetensi pengajaran, yaitu perencanaan dan pengelolaan pengajaran, penilaian, penggunaan berbagai macam metode, media dan ketrampilan khusus lainnya.
3. Peningkatan motivasi dan kegairahan kerja yang menuju kepada peningkatan kepuasan intrinsik (baca: hakiki).
4. Peningkatan ketrampilan hubungan antar pribadi serta pemahaman yang lebih baik terhadap teman sejawat terlebih dengan siswa.
5. Pertumbuhan dalam jabatan.

Itu semua adalah harapan kita sebagai unsur SDM yang akan diperhatikan, sebab tentu YBPK-GKJW sangat memahami bahwa pengembangan tenaga pengajar (instructor development) merupakan bagian inti dari pengembangan kelembagaan (institutional development). Yang perlu kita pahami bersama adalah untuk peningkatan kualitas SDM tidak mungkin berjalan begitu saja tanpa adanya pendukung untuk penyelenggaraan kegiatan itu. Yang dimaksudkan disini adalah kondisi yang mendukung yang mendorong dan menarik untuk memprakarsai dalam melaksanakan pembaharuan, suatu iklim yang menggairahkan. Sebagai pendukungnya diantaranya adalah :
1. Dukungan Moral dan Kebijakan :
Dukungan ini diperlukan dari seluruh jajaran Pengurus Pusat maupun Cabang hingga para Kepala Sekolah. Dukungan ini sangat menentukan dalam meningkatkan aktivitas instruksional atau pengajaran. Tanpa ada perhatian dan dukungan, maka semangat dan dedikasi sumber daya manusia akan menurun atau bahkan susut.
2. Dukungan Organisasi/ Lembaga
Dukungan moral perlu diterjemahkan dalam serangkaian tindakan. Untuk penerjemahan dan penyusunan serangkaian tindakan itulah diperlukan adanya dukungan organisasi, yaitu lembaga yang terus – menerus melaksanakan fungsi pengelolaan dan pelaksanakannya, yaitu suatu organisasi yang seperti kita miliki dimana penekanan kita bukan lembaga struktural tetapi secara fungional lembaga kita terbentuk.
3. Dukungan Tenaga Ahli
Adanya tenaga ahli yang berdedikasi serta memiliki keahlian khusus, dan ini adalah juga merupakan prasyarat mutlak untuk berfungsinya suatu lembaga. Pembinaan personalia pengajar pada lembaga kita semestinya segera kita rasakan, yaitu yang ditangani oleh jajaran Pengurus, hanya mungkin ada pikiran yang berbeda bahwa kita perlu berkolaborasi dengan para pakar dan konsultan ahli yang memiliki kepedulian dalam peningkatan kualitas pembelajaran.
4. Dukungan Dana
Dukungan ini mungkin merupakan masalah besar, karena semua lini dalam kelembagaan kita memerlukan dana. Dalam jangka panjang akan terlihat ketercapaian efektifitas dan efisiensinya. Dukungan dana ini seringkali merupakan bukti penting akan adanya dukungan moral dari pengurus. Di lembaga kita nampaknya sangat diperlukan adanya bagian yang mengelola hal ini yang tidak lagi secara tradisional.
5. Dukungan Fasilitas
Fasilitas yang dimasudkan disini tidak hanya berupa fisik, yang hanya berupa gedung, media, peralatan dan sebagainya. Tetapi juga diperlukan dukungan fasilitas nonfisik, yaitu berupa kemudahan dan kesempatan dalam melaksanakan atau mengikuti suatu kegiatan.

Kita tentu sepakat bahwa semua di dunia itu tidak kekal. Paradigma penataan kelembagaan yang sudah mapanpun akan mengalami perubahan kearah paradigma baru dengan adanya penemuan baru, artinya proses terjadinya perubahan paradigma diawali dengan adanya keyakinan akan suatu paradigma yang terusik oleh sejumlah penemuan atau kondisi baru, sehingga timbul keraguan atas paradigma yang telah diyakini atau dimiliki sebelumnya. Namun seharusnya keraguan itu diikuti oleh sejumlah usaha untuk mengatasi atau mencari penyelesaian terbaiknya, disertai dengan tumbuhnya kesadaran untuk menggabungkan beberapa ide, konsep pemikiran, yang pada akhirnya menciptakan paradigma baru.itulah harapan kita, dengan pertolongan Tuhan, semoga berhasil.
Demikian yang dapat saya tulis untuk menjadi perenungan kita bersama, apabila ada sesuatu yang tidak berkenan mohon dimaafkan. Tuhan memberkati.

Salam hangat,

Yohanes.Didik.S.
Catatan: Pernah dimuat di Majalah Duta GKJW.