Senin, 10 Februari 2025

KEPEMIMPINAN DAN PERUBAHAN

 Bahan Bacaan: Keluaran 18: 13-27

Dalam suatu kehidupan bersama, selalu dibutuhkan seorang pemimpin setidaknya sebagai sosok pengendali. Sedangkan dalam lingkup kehidupan bersama umat kepunyaan Tuhan, pola kepemimpinannya perlu dipahami dalam dua sudut pandang atau sisi, yaitu sisi ilahi dan sisi manusiawi. Dari sudut pandang ilahi menyadari bahwa kehidupan bersama itu dituntun oleh Allah, sedangkan dari sisi manusiawinya sadar bahwa manusia dipakai Allah sebagai alat-Nya untuk mewujudkan kehendak-Nya di dunia. Dan yang tidak kalah pentinya yang perlu dipahami adalah pola kepemimpinan itu tidak akan pernah alergi dengan apa yang namanya perubahan.

Musa sebagai sosok pemimpin memahami sesungguhnya bahwa bangsa Israel dipimpin langsung oleh Allah, sedangkan dirinya hanya perantara antara Allah dan umat-Nya. Karena itu, ia menerima umat Allah datang kepadanya dan meminta petunjuk Allah serta mengatasi permasalahan ketika ada perkara di antara mereka. Meskipun Musa melakukan semua itu atas dasar kesadaran akan konsep kepemimpinan yang seperti itu, namun Yitro melihat bahwa ada keterbatasan dalam diri Musa. Karena itu, ia memberikan nasihat agar Musa berbagi kepemimpinan dengan orang-orang di antara bangsanya yang cakap dan takut akan Allah, orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap. Nasihat Yitro bukan hanya untuk kebaikan Musa saja, tetapi juga untuk kebaikan bangsanya dan hal tersebut berkenan bagi Allah. Musa pun mengikuti nasihat mertuanya dengan berbagi kepemimpinan dan kewenangan sehingga segala sesuatu dapat berjalan lebih baik dan efektif. Ada hal lain dari kehidupan Musa yaitu, dengan menganggap orang lain mampu melakukan apa yang dia lakukan. Musa tidak egois. Ketika Musa dinasihat oleh mertuanya, Musa mau menerima nasihat itu dan siap dalam melakukan sebuah perubahan besar dalam pekerjaan pengadil Israel waktu itu. Bekerja secara bersama-sama dengan orang lainnya

Pada umumnya, saat seseorang dipilih menjadi pemimpin dan diberi kemampuan untuk memimpin, terkadang mereka lupa diri. Kita perlu menyadari bahwa kita adalah manusia terbatas dan tidak semua hal dapat kita lakukan sendirian tanpa bantuan orang lain. Di sisi lain, kita perlu tahu bahwa Allah juga menganugerahkan potensi kepemimpinan dalam diri orang lain. Oleh karena itu perlu kerendahan hati untuk berbagi kepemimpinan. Dalam hal ini, ada tiga kriteria utama yang tidak bisa ditawar, yaitu orang yang takut akan Allah, dapat dipercaya, dan yang membenci suap. Di sisi yang berbeda, seorang juga harus mau menerima perubahan, berani mengambil resiko untuk menghadapi satu perubahan yang mungkin merupakan langkah maju dalam kehidupannya. Melalui renungan saat ini,  ada beberapa hal yang kita renungkan agar punya keterampilan untuk menghadapi perubahan: Milikilah keterampilan menganalisa keadaan seperti yang dimiliki oleh Mertua Musa. Baru saja dilihat oleh Mertua Musa apa yang dilakukan oleh Musa, dengan cepat Mertuanya bisa menyimpulkan sesuatu yang membawa pencerahan bagi Musa. Milikilah kemampuan untuk mendengarkan suara orang lain seperti yang dilakukan Musa. Realitas menunjukkan bahwa seringkali orang lain jauh lebih bisa untuk berpikir jernih daripada kita, ketika kita mungkin menghadapi satu masalah. Jadilah sosok yang siap mendengarkan dari sisi orang lain dan siap untuk menghadapi perubahan!  Tuhan memberkati kita. Amin.

PENYERTAAN TUHAN

 Bahan Bacaan: Hakim-hakim 6: 1-10

Tidaklah sedikit orang-orang yang terpanggil mengikut Tuhan yang akhirnya terjebak dalam rasa kecewa. Sebab setelah mengikut Tuhan dalam waktu yang cukup lama, masih saja mereka merasakan kesusahan dalam perjalanan hidupnya. Masih banyak beragam persoalan yang harus dihadapinya. Mereka merasa heran, dalam hati mereka mengira bahwa ketika memutuskan untuk mengikut Tuhan, itu berarti  bahwa kehidupan akan senantiasa disertai oleh Tuhan. Dalam hati mereka juga selalu muncul pertanyaan bahwa mengapa semua kesusahan atau penderitaan masih juga menimpanya.

Dalam perjalanan sejarah bangsa Israel, pernah mengalami keterpurukan selama tujuh tahun, terutama saat mereka dijajah oleh bangsa Midian. Bangsa Israel benar-benar menjadi sangat miskin oleh perbuatan orang Midian itu. Hal tersebut dikarenakan bangsa Israel memberontak kepada Tuhan,  mereka melakukan apa yang jahat di mata Tuhan, itulah sebabnya Tuhan mengijinkan penderitaan terjadi atas bangsa Israel. Gideon menuturkan pernyataan serupa. Ia merasa heran mengapa bangsa Israel, yang adalah bangsa yang dikatakan selalu disertai oleh Tuhan, dibiarkan dijajah oleh bangsa Midian. Begitu perkasanya bangsa Midian sehingga bangsa Israel mengalami ketakutan yang luar biasa, hingga mereka harus bersembunyi di gua-gua dan kubu-kubu.  Meski demikian, ketika mereka berseru-seru kepada Tuhan, Ia pun tetap mengindahkannya dan memberikan pertolongan. Lalu Tuhan mengutus Gideon, yang sedang mengirik gandum dalam tempat pemerasan anggur, karena ia juga sangat ketakutan terhadap bangsa Midian dan Amalek, untuk pergi memerangi orang Midian, sebab padanya ada kekuatan untuk mengalahkan mereka. Secara manusia Gideon bukanlah orang yang gagah berani.  Ia juga seorang yang penakut dan tidak punya kemampuan yang bisa diandalkan. Dari sudut pandang manusia, Gideon bukanlah orang muda yang gagah berani. Dari latar belakang keluarganya pun Gideon hanyalah berasal dari kelompok terkecil suku Manasye, dan ia pun yang termuda dari antara kaum keluarganya. Tetapi pilihan Tuhan tidak pernah salah.

Disertai Tuhan bukan berarti kita tidak lagi mengalami persoalan. Disertai Tuhan berarti kita telah diberi Tuhan kekuatan untuk menghadapi semua persoalan. Penyertaan Tuhan bukan jaminan ketiadaan persoalan. Faktanya, selama kita hidup menumpang di dunia ini, kita masih mengalami aneka ragam persoalan. Penyertaan Tuhan ialah jaminan kemenangan. Aneka ragam persoalan menerpa kehidupan kita, tetapi kita selalu diberi kemampuan mengatasinya. Sebab dalam kehidupan kita ada kekuatan dari Tuhan. Bila hari ini kita mengalami persoalan, jangan tawar hati berkata, Jika Tuhan menyertai, mengapa hal ini menimpaku. Sebaliknya, marilah dengan penuh percaya diri kita pergi memerangi persoalan dengan kekuatan yang sudah Tuhan anugerahkan bagi kita. Kata-kata pergilah dengan kekuatanmu, mengungkap kebenaran yang kerap kita lupakan. Apa pun keadaan kita saat ini, jangan pernah menyerah. Tuhan selalu punya jalan keajaiban. Dia sanggup mengubahkan segala sesuatu, dari keterpurukan menjadi kemenangan.  Apa pun keadaan kita saat ini, jangan pernah menyerah. Tuhan selalu punya jalan keajaiban. Dia sanggup mengubahkan segala sesuatu dari keterpurukan menjadi kemenangan, yang tak mungkin, menjadi mungkin. Tuhan memberkati kita. Amin.

KETAKUTAN DAN DAMPAKNYA

 Bahan Bacaan: Hakim-hakim 15: 9-20

Jika dikaji lebih mendalam, musuh terbesar manusia bukanlah sesama yang terkuat, mereka yang terpintar, atau yang tercerdik. Musuh utama manusia adalah ketakutannya sendiri. Ketakutan adalah tanggapan awal dan terutama seseorang terhadap hadirnya bahaya terhadap fisik dan emosional. Rasa takut membuat seseorang seakan-akan tidak bisa melindungi diri sendiri, akan bahaya yang mengancam dihadapannya. Ketika seseorang merasa takut, maka pikiran dan tubuhnya berjalan atau bergerak sangat cepat. Pengaruhnya tidak hanya pada respon biologis saja, seperti jantung berdetak kencang, pusing, keringat panas dingin, tetapi juga berpengaruh pada mental dan tindakan yang diambil.

Itulah yang dialami oleh suku Yehuda ketika orang Filistin yang marah karena ladang gandum mereka yang siap panen dibakar oleh Simson. Simson meluapkan kemarahannya karena ia dilarang bertemu dengan istrinya, bahkan istrinya diserahkan kepada orang lain. Orang Yehuda merasa takut jikalau orang Filistin menyerang mereka, karena itu mereka datang kepada Simson. Ketakutan dirasakan oleh orang-orang Yehuda saat mereka didatangi orang Filistin yang sedang mencari Simson. Untuk mencari rasa aman supaya orang Filistin tidak menyerang Yehuda, maka tiga ribu orang suku Yehuda mendatangi gua di gunung batu Etam tempat Simson berada, mereka ingin menyerahkan Simson kepada orang Filistin. Tidak seperti orang-orang Yehuda yang ketakutan mencari aman dari pasukan Filistin, Simson justru berani diikat dan diserahkan kepada pasukan Filistin di Lehi. Tetapi Allah tidak meninggalkan Simson sendirian, Roh Tuhan berkuasa atas Simson sehingga dia dengan mudah melepaskan ikatan di tangan dan badannya. Dengan sebuah tulang rahang keledai sebagai senjata, Simson berhasil mengalahkan seribu pasukan Filistin. Tidak hanya kemenangan yang diberikan, penyertaan Allah juga ditunjukkan saat Simson kelelahan dan merasakan kehausan setelah melawan orang Filistin, Allah membelah liang batu dan keluar air untuk diminum oleh Simson yang membuat dia kuat dan segar kembali.

Banyak hal menjadi penyebab orang merasa takut menjalani kehidupan. Takut jika harapan dan cita-citanya tidak tercapai. Atau kalau harapannya yang sudah tercapai, semua akan hilang dan hidupnya menjadi susah. Karena ketakutannya, ada orang yang tidak berani melakukan sesuatu, atau ada juga orang yang menghalalkan segala cara meski hal itu merugikan orang lain bahkan tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Kita meyakini bahwa Allah juga turut berkerja dalam segala situasi, termasuk di dalam situasi yang menakutkan sekalipun. Kita manusia memang penuh dengan keterbatasan, tetapi yakinlah bahwa jika Roh Allah bekerja atas diri orang percaya maka tidak ada sesuatu yang mustahil untuk bisa kita lakukan. Mari tetap andalkan Tuhan dalam hidup ini. Jangan biarkan ketakutan masih menguasai hidup kita. Hendaknya kita bangkit dari ketakutan, kita ganti dengan percaya kepada Tuhan. Iman kepada Tuhan itulah yang menjadikan kita mampu melewati segala perkara dalam hidup kita. Bukan karena kuat dan gagah kita namun karena kuasa Tuhan dalam hidup kita. Beriman kepada Tuhan. Itulah yang utama dalam hidup kita. Iman itulah yang memandu kita dalam hidup kita, bahkan ketika kita sedang terpuruk sekalipun. Tuhan memberkati kita. Amin.

ALLAH YANG BERKARYA

 Bahan Bacaan: Yesaya 30: 27-33

 

Salah satu kelemahan manusia adalah tidak mudah untuk memaafkan atas perlakuan menyakitkan yang diterima dari sesamanya, terlebih teman dekat yang sudah sangat akrab. Ketika seseorang memilik rasa sakit hati karena perbuatan orang lain, seringkali menanggapinya dengan melakukan pembalasan. Bakan dalam hatinya berkeinginan keras untuk memberi balasan yang lebih kejam lagi, dari perlakuan yang diterima sebelumnya. Namun, tentu tidak semudah itu juga pemahaman yang dimiliki orang yang beriman, bahwa pembalasan bukanlah merupakan tindakan yang benar. Pembalasan bukan merupakan hak otoritas bagi mereka yang dikasihi Tuhan. Pengalaman kehidupan membuktikan bahwa pembalasan tidak pernah menyelesaikan masalah bagi yang bertikai. Yang dipastikan akan menyelesaikan masalah adalah, ketika Allah sendiri yang akan ambil tindakan dan sikap terbaik-Nya.

Bahan bacaan saat ini mengingatkan kepada kita akan kemarahan dan hukuman Allah atas Asyur. Sangat terang benderang menunjukkan kepada kita bahwa Allah tidak akan pernah tinggal diam dalam setiap persoalan umat-Nya. Dia senantiasa memperhatikan kondisi umat-Nya dan membela mereka. Kembali kita diingatkan akan gambaran kemarahan Allah kepada Asyur, karena telah menindas umat-Nya dengan sangat berlebihan. Api, asap, angin, dan banjir dipakai untuk melukiskan kekuasaan, kekuatan, dan geram-Nya kepada Asyur. Kemarahan-Nya menimpa Asyur seperti api yang menghanguskan, hujan lebat, hujan batu, dan badai. Ketika penghukuman sedang menimpa Asyur, umat Allah akan berpesta merayakan kemenangan dan keselamatan yang Allah berikan. Mereka akan bergembira sebab Allah sendiri yang berperang bagi mereka. Tentu cara dan waktu Allah menjalankan hukuman itu tidak selalu selaras dengan keinginan umat-Nya. Bisa jadi, waktunya dianggap terlalu lambat, atau bisa pula hukumannya dianggap kurang begitu kuat. Namun, Allah memiliki kebijaksanaan-Nya sendiri. Dia memberi keadilan kepada orang yang tertekan. Dia berpihak kepada orang-orang yang lemah. Allah memberi kesempatan bagi umat-Nya untuk lepas dari himpitan musuh.

Kita memiliki sistem hukum untuk menentukan kesalahan seseorang dan menjatuhkan hukuman. Namun, dalam hubungan antar pribadi, tidak ada hak bagi kita untuk menghakimi dan menghukum orang lain. Dalam situasi demikian, kita hanya perlu memohon kasih Allah melimpah bagi mereka. Kita tidak berdiam diri dan tidak pasrah dengan keadaan, namun justru berusaha keluar dari beragam kesulitan. Kita pun harus berusaha untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Bagi orang-orang yang menghimpit orang-orang lemah dan melakukan kejahatan kepada sesamanya, marilah kita doakan agar Allah berkarya dalam hatinya. Sebab bila kita senantiasa mendekat dan berlindung kepada Tuhan, Dia yang akan mengalahkan musuh-musuh iman kita agar tetap aman. Sebab tidak ada musuh, sebesar apapun yang tidak tunduk kepada Pelindung yang Maha Kuasa. Tuhan mau kita belajar bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Ketika Tuhan memiliki maksud untuk berada di belakang dimana kita tidak mudah melihat-Nya, hal itu memiliki makna bahwa Tuhan hendak melatih iman kita. Tiada yang terbaik bagi kita, kecuali merelakan diri berserah kepada Tuhan, sebab hanya Dialah yang tahu jalan mana yang harus kita tempuh. Tuhan memberkati kita. Amin.

MENYEMBAH KEPADA YANG MENCIPTAKAN

 Bahan Bacaan: Keluaran 32: 1-14


Betapa sulitnya manusia untuk setia dan memihak pada yang memiliki kehidupan yaitu Allah sebagai Sang Pencipta. Kesetiaan yang sudah ditunjukkan oleh Allah menyertai perjalanan panjang hidup manusia rupanya tidak cukup untuk menumbuhkan kesetiaan sebagai suatu tanggapan yang semestinya. Berkat dan kebaikan Allah cenderung untuk sekedar dinikmati sesaat. Kesulitan baru dan dorongan untuk hidup serakah gampang membuat manusia lupa akan kasih dan kebaikan Tuhan. Situasi ini sebetulnya hanya akan berakhir dengan suatu kehancuran. Syukur bahwa dalam kehidupan umat yang dikasihinya ada sosok yang berperan istimewa sebagai figur yang setia dalam keadaan apapun, termasuk dalam situasi yang secara manusiawi sudah tidak ada alasan untuk dibela, yaitu keberadaan Roh Kudus yang menuntun kehidupan manusia.

Perikop yang kita renungkan saat ini, mengingatkan akan Allah yang telah mengikat perjanjian dengan Israel di atas gunung Sinai. Allah telah memberikan berbagai peraturan dan petunjuk kepada Musa untuk membuat Kemah Suci dan berbagai kelengkapan pendukungnya. Bahkan Allah menuliskan sendiri, sepuluh hukum Allah pada dua loh batu. Kita tahu bahwa dua hukum yang pertama mengharuskan umat Israel untuk mengutamakan Allah dan melarang mereka untuk menyembah ilah lain. Namun sangat bertentangan pada kenyataannya, ketika berada di kaki gunung saat menantikan Musa, ternyata membuat umat Israel tidak sabar. Mereka mengira bahwa Musa sudah binasa dalam api yang terlihat menghanguskan di puncak gunung Sinai. Maka bagai anak ayam kehilangan induk, bangsa Israel terlihat kacau. Lalu mereka mendesak Harun untuk membuat allah lain, yang akan memimpin mereka. Sayangnya, Harun mengikuti kemauan orang Israel dengan membuat patung lembu emas. Dengan berbuat demikian, mereka menyamakan Allah dengan patung yang tidak memiliki kuasa apapun. Mereka melupakan Allah yang masih hadir dalam kemuliaan-Nya di atas gunung Sinai. Allah yang telah membebaskan mereka dari perbudakan Mesir dan memelihara hidup mereka. Mereka lebih ingin percaya kepada allah palsu, buatan tangan mereka sendiri. Tidak heran, Allah murka sehingga ingin membinasakan Israel. Namun Musa, sebagai pemimpin yang mengasihi umat, memohon agar Tuhan mengampuni umat-Nya demi nama baik-Nya agar tidak diolok-olok oleh orang Mesir, juga demi perjanjian dengan leluhur Israel. Tuhan mendengarkan permohonan Musa yang setia terhadap bangsanya yang keras hati, bangsa Israel memperoleh pengampunan dari Tuhan. Tuhan tidak jadi menghukum atau bahkan membinasakan bangsa Israel. Kesetiaan Musa berbuah pengampunan Tuhan yang membuat sejarah penyelamatan tetap.

Karena doa Musa didengar Tuhan, Ia tidak jadi melenyapkan umat-Nya. Dibalik sikap ketegasan tersimpan cintanya yang begitu besar kepada bangsanya dan keyakinan pribadinya bahwa kasih setia Tuhan memang luar biasa. Saatnya kita mawas diri bahwa kemarahan Allah memperlihatkan ketidaksukaan-Nya bila umat tidak menjadikan Dia sebagai Allah satu-satunya. Sebab itu mari kita introspeksi, adakah kita menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang kita sembah atau adakah pihak lain yang menjadi sandaran hidup kita? Ingatlah, kita hanya boleh menyembah dan memprioritaskan Allah di atas segala sesuatu karena Dia senantiasa mengasihi kita, terlebih telah menebus kita. Tuhan memberkati kita. Amin.

MEMELIHARA KESETIAAN

 Bahan Bacaan: Yosua 22: 1-9


Mendengar kata hadiah setidaknya tanggapan kita lebih cepat ketika mendengar kata tanggung jawab. kata hadiah menarik perhatian, namun ketika mendengar kata tanggung jawab, mungkin kita akan mengerut dahi kita. Secara alamiah, kita menyukai penghargaan dan sering kali meremehkan yang namanya tanggung jawab.

Bacaan kita mengungkapkan bagaimana Yosua berbicara, ia berbicara dengan jujur ​​dan sebagai seorang nabi Allah. Ia memuji suku Ruben, suku Gad, dan setengah suku Manasye. Kita tentu ingat bahwa suku-suku ini diberi jatah tanah di sisi timur Sungai Yordan. Namun, mereka tidak langsung menetap di sana. Mereka membantu suku-suku Israel yang tersisa dengan terus berperang melawan orang Kanaan. Atas hal ini, mereka patut dipuji. Mereka tidak meninggalkan saudara-saudara mereka, tetapi bertempur berdampingan dengan mereka. Lalu berkatalah Yosua bahwa mereka telah melakukan segala yang diperintahkan Musa, dan telah mendengarkan firman Allah dalam segala yang diperintahkan kepadanya. Pujian terhadap suku-suku tersebut tentu saja mencakup tindakan mereka dalam pertempuran militer. Namun, pujian itu juga lebih luas dari itu dengan mengatakan bahwa mereka telah menaati semua perintah Yosua, dan yang lebih penting lagi, mereka telah berhati-hati dalam memelihara tugas dari Tuhan Allah. Meskipun jelas bahwa mereka dipuji karena mereka menaati perintah Tuhan, namun penyebab sebenarnya mereka dipuji, adalah apa yang ada di balik mereka, dan itu tidak lain adalah iman. Perbuatan mereka adalah hasil dari iman. Jadi, meskipun perbuatan mereka dipuji, yang harus dipahami adalah bahwa pada akhirnya iman merekalah yang sebenarnya dipuji. Mereka percaya kepada Tuhan melalui peperangan selama bertahun-tahun bahwa suatu hari mereka akan kembali ke tanah yang telah diberikan kepada mereka.

Pada akhirnya, menarik untuk dikaji selanjutnya, bahwa sebenarnya bagi seorang yang beriman Kristus, hadiah itu adalah iman dan iman itu adalah mengenal Tuhan. Oleh karena itu, hadiahnya adalah mengenal Tuhan kita sendiri. Dia adalah hadiah iman kita. Itulah sebabnya hadiahnya ada disini dan sekarang serta selamanya. Dan inilah hadiah terbesar yang ada, yaitu mengenal Tuhan dan bersatu denganNya. Seperti yang tertulis dalam Kitab Suci, bahwa kita memiliki pikiran Kristus. Kita mengetahui sebagian dari apa yang Dia ketahui. Kita terhubung dengan Tuhan dalam pengetahuan dan iman. Demikian juga tentang tanggung jawab, mari kita cermati dari suku-suku yang diberi hadiah, mereka tetap didorong untuk tetap kuat di dalam Tuhan. Mereka telah memenangkan peperangan, tetapi mereka tidak boleh lengah dalam ketaatan mereka kepada Tuhan. Yosua menyuruh mereka pulang ke rumah mereka di sebelah timur Sungai Yordan dan berpesan bahwa mereka harus sungguh-sungguh melakukan perintah dan hukum yang diperintahkan kepadanya oleh Musa, yakni mengasihi Allah, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, berpegang pada perintah-perintah-Nya, berpaut pada-Nya dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa. Hal tersebut dilakukan bukan untuk meraih hadiah atau meneruskan mendapatkan hadiah yang berupa tanahnya, tetapi untuk menunjukkan keimanan mereka terhadap apa yang sudah mendatangkan pahala bagi mereka. Jadi kita diselamatkan oleh iman, tetapi diberi tanggung jawab untuk mengamalkan iman itu. ini adalah tanggung jawab kita.  Tuhan memberkati kita. Amin.

BUKAN SUATU KEBETULAN

Bahan Bacaan: Rut 2: 1-23


Setiap kita tentu pernah mengalami sebuah peristiwa kehidupan yang unik, baik keunikan yang menyedihkan atau yang bahkan menyenangkan. Terkadang dibalik keunikan yang tidak menyenangkan, tiba-tiba secara kebetulan ada berkat yang kita dapatkan diluar pikiran, rencana bahkan nalar kita. Bagi kita, tentu ada banyak hal yang terjadi secara kebetulan di luar rencana kita. Namun seperti apapun cara pandang dan berpikir kita tentang sebuah peristiwa, apa yang nampak sebagai kebetulan, ternyata Tuhan sedang bekerja dibalik semuanya itu. Kita diingatkan bahwa apa yang kita anggap sebagai suatu kebetulan, sebenarnya bukanlah suatu kebetulan, peristiwa tanpa sebab, tetapi Tuhan memang sedang mengerjakan sesuatu dalam hidup kita. Oleh karena itu, amatlah baik jika dalam setiap rencana, kita meminta pimpinan Tuhan. Dengan demikian, apapun peristiwa yang kita alami, membuat kita dapat belajar memahami serta menghayati setiap kehendak Tuhan.

Bacaan kita hari ini kembali mengingatkan kembali akan sebagian kisah kehidupan seorang wanita setia yaitu Rut. Suatu saat Rut meminta ijin dari Naomi agar dapat memungut bulir-bulir jelai di ladang gandum milik Boas. Sesungguhnya Rut tidak mengetahui tentang Boas, dia hanya ingin bekerja memenuhi kebutuhan hidup mereka. Akan tetapi, peristiwa ini sedang dalam rencana Tuhan bagi masa depan Naomi dan Rut. Perjumpaan dengan Boas membuat Rut tidak hanya menerima kesempatan bekerja tetapi juga mendapat perlindungan dari Boas dalam menjalani pekerjaannya itu. Semua ini terjadi karena perhatian yang serius yang dimiliki oleh Rut dan ketulusannya serta kesetiaannya kepada Naomi. Hal ini menunjukkan kepada kita bagaimana Allah turut bekerja mendatangkan segala sesuatu yang baik dalam kehidupan.

Tantangan hidup yang kita alami karena suatu keadaan yang sulit, dapat diubah oleh Allah menjadi suatu kesempatan bagi kita untuk mendapatkan kesejahteraan di masa depan. Kuncinya adalah dua hal yang dapat kita pelajari dari pribadi Rut, yaitu; pertama, Rut tetap memiliki integritas sehingga tidak mau meninggalkan Naomi yang dengan begitu dia tetap setia kepada Allah yang disembah keluarga besar Naomi. Kedua, Rut memiliki ketulusan sehingga dengan kerendahan hati dia mau bekerja untuk kelangsungan hidupnya dan Naomi. Mari kita menghayati kehidupan Rut beserta Naomi, yang pada akhirnya kita akan memiliki dan menerapkan dua kebaikan dalam kepribadian Rut dalam kehidupan kita. Maka kesejahteraan dari Allah akan dikaruniakan kepada keluarga kita.

Melalui cerita kehidupan Rut yang adalah contoh bagaimana Allah dapat mengubah kehidupan dan membawanya ke arah yang telah Ia tentukan. Kita melihat penggenapan rancangan sempurna dalam kehidupan Rut, sama-halnya dengan semua anak-anak pilihanNya. Meskipun Rut berasal dari latar belakang keluarga yang tidak mengenal Tuhan, bahkan keluarga penyembah berhala di Moab, namun pada saat menjumpai Allah Israel, ia menjadi saksi hidup akan orang yang beriman kepada Allah. Demikian juga disaat ia harus tinggal dalam kesederhanaan sebelum menikahi Boas, ia percaya bahwa Allah setia dalam memelihara umat-Nya. Rut juga merupakan teladan pekerja keras dan penuh kesetiaan. Kita tahu bahwa Allah membalas setiap kesetiaan umat pilihanNya. Karena Allah tentunya akan memberi upah kepada orang yang sungguh mencari dan percaya kepadaNya.Tuhan memberkati kita. Amin.

TUHAN YANG BERDAULAT

 Bahan Bacaan: 1 Samuel 28: 20-25

Tentu kita pernah memaksakan kehendak kepada teman atau saudara. Tetapi dipastikan kita tidak bermaksud memaksakan kehendak kepadaTuhan. Namun tanpa kita sadari kita juga mungkin kerap menjadi orang yang memaksakan kehendak kepada Tuhan. Kita terus berupaya untuk mendapatkan sesuatu yang bukan kehendak-Nya. Kita bahkan berdoa memaksakan keinginan itu kepada Tuhan. Jika hal tersebut kita lakukan, dipastikan tetap tidak berhasil. Kita lupa bahwa Allah kita adalah Tuhan yang berdaulat yang tidak dapat diperintah oleh siapapun. Beruntung kita diberi kesemptan untuk berdoa memohon ampun, jika saja kita masih sering memaksakan kehendak kepada Tuhan. Mengaku berdosa di hadapan-Nya jika kita pernah berusaha mendikte Tuhan agar memenuhi keinginan kita.

 Bacaan kita saat ini mengingatkan bahwa Saul adalah raja yang hebat yang diberi kemampuan oleh Tuhan untuk mengalahkan musuh-musuh bangsa Israel. Pada dasarnya Saul sadar bahwa setiap pertempuran yang dilakukannya, dimenangkan karena ada penyertaan Tuhan. Namun seiring berjalannya waktu, dalam kemegahannya sebagai raja dan kemenangan-kemenangan yang diperolehnya, ia menjadi tidak setia dan tidak sabar mengikuti petunjuk dari Tuhan. Dari kisah perjalanan Saul selama menjadi raja Israel menunjukkan bahwa ia adalah seorang dengan pribadi yang tidak teguh. Walaupun ia adalah orang yang percaya kepada Tuhan dan selalu meminta petunjuk dari Tuhan, tetapi seringkali juga ia tidak sabar menunggu jawaban dari Tuhan dan mengambil tindakan sendiri. Hal itu yang membuat ia ditolak oleh Tuhan. Dan ia tahu bahwa Tuhan memang menolaknya seperti yang disampaikan oleh Samuel sebelum nabi itu mati. Keadaan yang sudah diketahuinya itu bukan membuat Saul sadar dan berbalik atau menyerahkan diri kepada keputusan Tuhan, melainkan ia berusaha untuk mengambil jalannya sendiri. Jadi, tidak heran kalau hatinya tidak tenang ketika orang Filistin mulai bergerak maju menyerang. Pemaksaan kehendak ini akhirnya membuat Saul mencari kembali para pemanggil arwah dan roh peramal. Padahal sebelumnya ia sudah mengusir mereka. Pengusiran itu sesungguhnya sudah tepat karena ritual seperti itu bertentangan dengan Hukum Musa. Ia ingin mengetahui kehendak Tuhan saat menghadapi perang melalui arwah Samuel. Akan tetapi, jawaban arwah Samuel malah semakin menegaskan bahwa ia tidak dapat memaksa Tuhan memenuhi kehendak-Nya. Semua ini menunjukkan bahwa Allah berdaulat. Ia bukanlah Allah yang dapat dipaksa untuk melakukan apa yang menjadi kehendak manusia.

Dari kisah ini dapat kita renungkan, bahwa dalam berbagai keadaan yang kita alami, adalah benar jika berserah kepada Tuhan dan mempercayakan tangan Tuhan yang bekerja, dan tetap setia meskipun mungkin apa yang Tuhan tentukan tidak sesuai dengan harapan kita. Kita tidak punya hak memaksakan keinginan kita yang sebenarnya menuntut Tuhan menjawab apa yang kita minta. Tetaplah menantikan jawabanNya sambil tetap setia berjalan pada apa yang sudah diajarkan dalam firmanNya. Dan yang tidak kalah pentingya adalah sadar dan kembali kepada Tuhan ketika Ia menegur kita dari hal yang kecil dan jangan berpaling dari Tuhan, karena jika kita berpaling dari Tuhan untuk hal yang kecil, semakin lama akan sulit bagi kita untuk kembali kepadaNya, seperti Saul yang semakin lama semakin jauh dari Tuhan bahkan ditolak oleh Tuhan. Tuhan memberkati kita. Amin.