Senin, 10 Februari 2025

TUHAN YANG BERDAULAT

 Bahan Bacaan: 1 Samuel 28: 20-25

Tentu kita pernah memaksakan kehendak kepada teman atau saudara. Tetapi dipastikan kita tidak bermaksud memaksakan kehendak kepadaTuhan. Namun tanpa kita sadari kita juga mungkin kerap menjadi orang yang memaksakan kehendak kepada Tuhan. Kita terus berupaya untuk mendapatkan sesuatu yang bukan kehendak-Nya. Kita bahkan berdoa memaksakan keinginan itu kepada Tuhan. Jika hal tersebut kita lakukan, dipastikan tetap tidak berhasil. Kita lupa bahwa Allah kita adalah Tuhan yang berdaulat yang tidak dapat diperintah oleh siapapun. Beruntung kita diberi kesemptan untuk berdoa memohon ampun, jika saja kita masih sering memaksakan kehendak kepada Tuhan. Mengaku berdosa di hadapan-Nya jika kita pernah berusaha mendikte Tuhan agar memenuhi keinginan kita.

 Bacaan kita saat ini mengingatkan bahwa Saul adalah raja yang hebat yang diberi kemampuan oleh Tuhan untuk mengalahkan musuh-musuh bangsa Israel. Pada dasarnya Saul sadar bahwa setiap pertempuran yang dilakukannya, dimenangkan karena ada penyertaan Tuhan. Namun seiring berjalannya waktu, dalam kemegahannya sebagai raja dan kemenangan-kemenangan yang diperolehnya, ia menjadi tidak setia dan tidak sabar mengikuti petunjuk dari Tuhan. Dari kisah perjalanan Saul selama menjadi raja Israel menunjukkan bahwa ia adalah seorang dengan pribadi yang tidak teguh. Walaupun ia adalah orang yang percaya kepada Tuhan dan selalu meminta petunjuk dari Tuhan, tetapi seringkali juga ia tidak sabar menunggu jawaban dari Tuhan dan mengambil tindakan sendiri. Hal itu yang membuat ia ditolak oleh Tuhan. Dan ia tahu bahwa Tuhan memang menolaknya seperti yang disampaikan oleh Samuel sebelum nabi itu mati. Keadaan yang sudah diketahuinya itu bukan membuat Saul sadar dan berbalik atau menyerahkan diri kepada keputusan Tuhan, melainkan ia berusaha untuk mengambil jalannya sendiri. Jadi, tidak heran kalau hatinya tidak tenang ketika orang Filistin mulai bergerak maju menyerang. Pemaksaan kehendak ini akhirnya membuat Saul mencari kembali para pemanggil arwah dan roh peramal. Padahal sebelumnya ia sudah mengusir mereka. Pengusiran itu sesungguhnya sudah tepat karena ritual seperti itu bertentangan dengan Hukum Musa. Ia ingin mengetahui kehendak Tuhan saat menghadapi perang melalui arwah Samuel. Akan tetapi, jawaban arwah Samuel malah semakin menegaskan bahwa ia tidak dapat memaksa Tuhan memenuhi kehendak-Nya. Semua ini menunjukkan bahwa Allah berdaulat. Ia bukanlah Allah yang dapat dipaksa untuk melakukan apa yang menjadi kehendak manusia.

Dari kisah ini dapat kita renungkan, bahwa dalam berbagai keadaan yang kita alami, adalah benar jika berserah kepada Tuhan dan mempercayakan tangan Tuhan yang bekerja, dan tetap setia meskipun mungkin apa yang Tuhan tentukan tidak sesuai dengan harapan kita. Kita tidak punya hak memaksakan keinginan kita yang sebenarnya menuntut Tuhan menjawab apa yang kita minta. Tetaplah menantikan jawabanNya sambil tetap setia berjalan pada apa yang sudah diajarkan dalam firmanNya. Dan yang tidak kalah pentingya adalah sadar dan kembali kepada Tuhan ketika Ia menegur kita dari hal yang kecil dan jangan berpaling dari Tuhan, karena jika kita berpaling dari Tuhan untuk hal yang kecil, semakin lama akan sulit bagi kita untuk kembali kepadaNya, seperti Saul yang semakin lama semakin jauh dari Tuhan bahkan ditolak oleh Tuhan. Tuhan memberkati kita. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar