Bahan Bacaan: 1 Samuel 28: 20-25
Tentu kita pernah
memaksakan kehendak kepada teman atau saudara. Tetapi dipastikan kita tidak
bermaksud memaksakan kehendak kepadaTuhan. Namun tanpa kita sadari kita juga
mungkin kerap menjadi orang yang memaksakan kehendak kepada Tuhan. Kita terus
berupaya untuk mendapatkan sesuatu yang bukan kehendak-Nya. Kita bahkan berdoa
memaksakan keinginan itu kepada Tuhan. Jika hal tersebut kita lakukan,
dipastikan tetap tidak berhasil. Kita lupa bahwa Allah kita adalah Tuhan yang
berdaulat yang tidak dapat diperintah oleh siapapun. Beruntung kita diberi
kesemptan untuk berdoa memohon ampun, jika saja kita masih sering memaksakan
kehendak kepada Tuhan. Mengaku berdosa di hadapan-Nya jika kita pernah berusaha
mendikte Tuhan agar memenuhi keinginan kita.
Bacaan kita saat ini mengingatkan bahwa Saul
adalah raja yang hebat yang diberi kemampuan oleh Tuhan untuk mengalahkan
musuh-musuh bangsa Israel. Pada dasarnya Saul sadar bahwa setiap pertempuran
yang dilakukannya, dimenangkan karena ada penyertaan Tuhan. Namun seiring
berjalannya waktu, dalam kemegahannya sebagai raja dan kemenangan-kemenangan
yang diperolehnya, ia menjadi tidak setia dan tidak sabar mengikuti petunjuk
dari Tuhan. Dari kisah perjalanan Saul selama menjadi raja Israel menunjukkan
bahwa ia adalah seorang dengan pribadi yang tidak teguh. Walaupun ia adalah
orang yang percaya kepada Tuhan dan selalu meminta petunjuk dari Tuhan, tetapi
seringkali juga ia tidak sabar menunggu jawaban dari Tuhan dan mengambil
tindakan sendiri. Hal itu yang membuat ia ditolak oleh Tuhan. Dan ia tahu bahwa
Tuhan memang menolaknya seperti yang disampaikan oleh Samuel sebelum nabi itu
mati. Keadaan yang sudah diketahuinya itu bukan membuat Saul sadar dan berbalik
atau menyerahkan diri kepada keputusan Tuhan, melainkan ia berusaha untuk
mengambil jalannya sendiri. Jadi, tidak heran kalau hatinya tidak tenang ketika
orang Filistin mulai bergerak maju menyerang. Pemaksaan kehendak ini akhirnya
membuat Saul mencari kembali para pemanggil arwah dan roh peramal. Padahal
sebelumnya ia sudah mengusir mereka. Pengusiran itu sesungguhnya sudah tepat
karena ritual seperti itu bertentangan dengan Hukum Musa. Ia ingin mengetahui kehendak
Tuhan saat menghadapi perang melalui arwah Samuel. Akan tetapi, jawaban arwah
Samuel malah semakin menegaskan bahwa ia tidak dapat memaksa Tuhan memenuhi
kehendak-Nya. Semua ini menunjukkan bahwa Allah berdaulat. Ia bukanlah Allah
yang dapat dipaksa untuk melakukan apa yang menjadi kehendak manusia.
Dari kisah ini dapat kita renungkan, bahwa dalam berbagai keadaan yang kita
alami, adalah benar jika berserah kepada Tuhan dan mempercayakan tangan Tuhan
yang bekerja, dan tetap setia meskipun mungkin apa yang Tuhan tentukan tidak
sesuai dengan harapan kita. Kita tidak punya hak memaksakan keinginan kita yang
sebenarnya menuntut Tuhan menjawab apa yang kita minta. Tetaplah menantikan
jawabanNya sambil tetap setia berjalan pada apa yang sudah diajarkan dalam
firmanNya. Dan yang tidak kalah pentingya adalah sadar dan kembali kepada Tuhan
ketika Ia menegur kita dari hal yang kecil dan jangan berpaling dari Tuhan,
karena jika kita berpaling dari Tuhan untuk hal yang kecil, semakin lama akan
sulit bagi kita untuk kembali kepadaNya, seperti Saul yang semakin lama semakin
jauh dari Tuhan bahkan ditolak oleh Tuhan. Tuhan memberkati kita. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar