Senin, 10 Februari 2025

KEPEMIMPINAN DAN PERUBAHAN

 Bahan Bacaan: Keluaran 18: 13-27

Dalam suatu kehidupan bersama, selalu dibutuhkan seorang pemimpin setidaknya sebagai sosok pengendali. Sedangkan dalam lingkup kehidupan bersama umat kepunyaan Tuhan, pola kepemimpinannya perlu dipahami dalam dua sudut pandang atau sisi, yaitu sisi ilahi dan sisi manusiawi. Dari sudut pandang ilahi menyadari bahwa kehidupan bersama itu dituntun oleh Allah, sedangkan dari sisi manusiawinya sadar bahwa manusia dipakai Allah sebagai alat-Nya untuk mewujudkan kehendak-Nya di dunia. Dan yang tidak kalah pentinya yang perlu dipahami adalah pola kepemimpinan itu tidak akan pernah alergi dengan apa yang namanya perubahan.

Musa sebagai sosok pemimpin memahami sesungguhnya bahwa bangsa Israel dipimpin langsung oleh Allah, sedangkan dirinya hanya perantara antara Allah dan umat-Nya. Karena itu, ia menerima umat Allah datang kepadanya dan meminta petunjuk Allah serta mengatasi permasalahan ketika ada perkara di antara mereka. Meskipun Musa melakukan semua itu atas dasar kesadaran akan konsep kepemimpinan yang seperti itu, namun Yitro melihat bahwa ada keterbatasan dalam diri Musa. Karena itu, ia memberikan nasihat agar Musa berbagi kepemimpinan dengan orang-orang di antara bangsanya yang cakap dan takut akan Allah, orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap. Nasihat Yitro bukan hanya untuk kebaikan Musa saja, tetapi juga untuk kebaikan bangsanya dan hal tersebut berkenan bagi Allah. Musa pun mengikuti nasihat mertuanya dengan berbagi kepemimpinan dan kewenangan sehingga segala sesuatu dapat berjalan lebih baik dan efektif. Ada hal lain dari kehidupan Musa yaitu, dengan menganggap orang lain mampu melakukan apa yang dia lakukan. Musa tidak egois. Ketika Musa dinasihat oleh mertuanya, Musa mau menerima nasihat itu dan siap dalam melakukan sebuah perubahan besar dalam pekerjaan pengadil Israel waktu itu. Bekerja secara bersama-sama dengan orang lainnya

Pada umumnya, saat seseorang dipilih menjadi pemimpin dan diberi kemampuan untuk memimpin, terkadang mereka lupa diri. Kita perlu menyadari bahwa kita adalah manusia terbatas dan tidak semua hal dapat kita lakukan sendirian tanpa bantuan orang lain. Di sisi lain, kita perlu tahu bahwa Allah juga menganugerahkan potensi kepemimpinan dalam diri orang lain. Oleh karena itu perlu kerendahan hati untuk berbagi kepemimpinan. Dalam hal ini, ada tiga kriteria utama yang tidak bisa ditawar, yaitu orang yang takut akan Allah, dapat dipercaya, dan yang membenci suap. Di sisi yang berbeda, seorang juga harus mau menerima perubahan, berani mengambil resiko untuk menghadapi satu perubahan yang mungkin merupakan langkah maju dalam kehidupannya. Melalui renungan saat ini,  ada beberapa hal yang kita renungkan agar punya keterampilan untuk menghadapi perubahan: Milikilah keterampilan menganalisa keadaan seperti yang dimiliki oleh Mertua Musa. Baru saja dilihat oleh Mertua Musa apa yang dilakukan oleh Musa, dengan cepat Mertuanya bisa menyimpulkan sesuatu yang membawa pencerahan bagi Musa. Milikilah kemampuan untuk mendengarkan suara orang lain seperti yang dilakukan Musa. Realitas menunjukkan bahwa seringkali orang lain jauh lebih bisa untuk berpikir jernih daripada kita, ketika kita mungkin menghadapi satu masalah. Jadilah sosok yang siap mendengarkan dari sisi orang lain dan siap untuk menghadapi perubahan!  Tuhan memberkati kita. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar