Bahan Bacaan: Keluaran 18: 13-27
Dalam suatu kehidupan bersama, selalu dibutuhkan
seorang pemimpin setidaknya sebagai sosok pengendali. Sedangkan dalam lingkup
kehidupan bersama umat kepunyaan Tuhan, pola kepemimpinannya perlu dipahami
dalam dua sudut pandang atau sisi, yaitu sisi ilahi dan sisi manusiawi. Dari
sudut pandang ilahi menyadari bahwa kehidupan bersama itu dituntun oleh Allah,
sedangkan dari sisi manusiawinya sadar bahwa manusia dipakai Allah sebagai
alat-Nya untuk mewujudkan kehendak-Nya di dunia. Dan yang tidak kalah pentinya
yang perlu dipahami adalah pola kepemimpinan itu tidak akan pernah alergi
dengan apa yang namanya perubahan.
Musa sebagai sosok pemimpin memahami
sesungguhnya bahwa bangsa Israel dipimpin langsung oleh Allah, sedangkan
dirinya hanya perantara antara Allah dan umat-Nya. Karena itu, ia menerima umat
Allah datang kepadanya dan meminta petunjuk Allah serta mengatasi permasalahan
ketika ada perkara di antara mereka. Meskipun Musa melakukan semua itu atas dasar
kesadaran akan konsep kepemimpinan yang seperti itu, namun Yitro melihat bahwa
ada keterbatasan dalam diri Musa. Karena itu, ia memberikan nasihat agar Musa
berbagi kepemimpinan dengan orang-orang di antara bangsanya yang cakap dan
takut akan Allah, orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran
suap. Nasihat Yitro bukan hanya untuk kebaikan Musa saja, tetapi juga untuk
kebaikan bangsanya dan hal tersebut berkenan bagi Allah. Musa pun mengikuti
nasihat mertuanya dengan berbagi kepemimpinan dan kewenangan sehingga segala
sesuatu dapat berjalan lebih baik dan efektif. Ada hal lain dari kehidupan Musa
yaitu, dengan menganggap
orang lain mampu melakukan apa yang dia lakukan. Musa tidak egois. Ketika Musa
dinasihat oleh mertuanya, Musa mau menerima nasihat itu dan siap dalam
melakukan sebuah perubahan besar dalam pekerjaan pengadil Israel waktu itu.
Bekerja secara bersama-sama dengan orang lainnya
Pada umumnya, saat seseorang dipilih
menjadi pemimpin dan diberi kemampuan untuk memimpin, terkadang mereka lupa
diri. Kita perlu menyadari bahwa kita adalah manusia terbatas dan tidak semua
hal dapat kita lakukan sendirian tanpa bantuan orang lain. Di sisi lain, kita
perlu tahu bahwa Allah juga menganugerahkan potensi kepemimpinan dalam diri
orang lain. Oleh karena itu perlu kerendahan hati untuk berbagi kepemimpinan. Dalam
hal ini, ada tiga kriteria utama yang tidak bisa ditawar, yaitu orang yang
takut akan Allah, dapat dipercaya, dan yang membenci suap. Di
sisi yang berbeda, seorang juga harus mau menerima perubahan, berani mengambil resiko untuk
menghadapi satu perubahan yang mungkin merupakan langkah maju dalam
kehidupannya. Melalui renungan saat ini, ada beberapa hal yang kita renungkan agar
punya keterampilan untuk menghadapi perubahan: Milikilah keterampilan
menganalisa keadaan seperti yang dimiliki oleh Mertua Musa. Baru saja dilihat
oleh Mertua Musa apa yang dilakukan oleh Musa, dengan cepat Mertuanya bisa
menyimpulkan sesuatu yang membawa pencerahan bagi Musa. Milikilah kemampuan
untuk mendengarkan suara orang lain seperti yang dilakukan Musa. Realitas
menunjukkan bahwa seringkali orang lain jauh lebih bisa untuk berpikir jernih
daripada kita, ketika kita mungkin menghadapi satu masalah. Jadilah sosok yang
siap mendengarkan dari sisi orang lain dan siap untuk menghadapi perubahan! Tuhan
memberkati kita. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar