Senin, 10 Februari 2025

MENYEMBAH KEPADA YANG MENCIPTAKAN

 Bahan Bacaan: Keluaran 32: 1-14


Betapa sulitnya manusia untuk setia dan memihak pada yang memiliki kehidupan yaitu Allah sebagai Sang Pencipta. Kesetiaan yang sudah ditunjukkan oleh Allah menyertai perjalanan panjang hidup manusia rupanya tidak cukup untuk menumbuhkan kesetiaan sebagai suatu tanggapan yang semestinya. Berkat dan kebaikan Allah cenderung untuk sekedar dinikmati sesaat. Kesulitan baru dan dorongan untuk hidup serakah gampang membuat manusia lupa akan kasih dan kebaikan Tuhan. Situasi ini sebetulnya hanya akan berakhir dengan suatu kehancuran. Syukur bahwa dalam kehidupan umat yang dikasihinya ada sosok yang berperan istimewa sebagai figur yang setia dalam keadaan apapun, termasuk dalam situasi yang secara manusiawi sudah tidak ada alasan untuk dibela, yaitu keberadaan Roh Kudus yang menuntun kehidupan manusia.

Perikop yang kita renungkan saat ini, mengingatkan akan Allah yang telah mengikat perjanjian dengan Israel di atas gunung Sinai. Allah telah memberikan berbagai peraturan dan petunjuk kepada Musa untuk membuat Kemah Suci dan berbagai kelengkapan pendukungnya. Bahkan Allah menuliskan sendiri, sepuluh hukum Allah pada dua loh batu. Kita tahu bahwa dua hukum yang pertama mengharuskan umat Israel untuk mengutamakan Allah dan melarang mereka untuk menyembah ilah lain. Namun sangat bertentangan pada kenyataannya, ketika berada di kaki gunung saat menantikan Musa, ternyata membuat umat Israel tidak sabar. Mereka mengira bahwa Musa sudah binasa dalam api yang terlihat menghanguskan di puncak gunung Sinai. Maka bagai anak ayam kehilangan induk, bangsa Israel terlihat kacau. Lalu mereka mendesak Harun untuk membuat allah lain, yang akan memimpin mereka. Sayangnya, Harun mengikuti kemauan orang Israel dengan membuat patung lembu emas. Dengan berbuat demikian, mereka menyamakan Allah dengan patung yang tidak memiliki kuasa apapun. Mereka melupakan Allah yang masih hadir dalam kemuliaan-Nya di atas gunung Sinai. Allah yang telah membebaskan mereka dari perbudakan Mesir dan memelihara hidup mereka. Mereka lebih ingin percaya kepada allah palsu, buatan tangan mereka sendiri. Tidak heran, Allah murka sehingga ingin membinasakan Israel. Namun Musa, sebagai pemimpin yang mengasihi umat, memohon agar Tuhan mengampuni umat-Nya demi nama baik-Nya agar tidak diolok-olok oleh orang Mesir, juga demi perjanjian dengan leluhur Israel. Tuhan mendengarkan permohonan Musa yang setia terhadap bangsanya yang keras hati, bangsa Israel memperoleh pengampunan dari Tuhan. Tuhan tidak jadi menghukum atau bahkan membinasakan bangsa Israel. Kesetiaan Musa berbuah pengampunan Tuhan yang membuat sejarah penyelamatan tetap.

Karena doa Musa didengar Tuhan, Ia tidak jadi melenyapkan umat-Nya. Dibalik sikap ketegasan tersimpan cintanya yang begitu besar kepada bangsanya dan keyakinan pribadinya bahwa kasih setia Tuhan memang luar biasa. Saatnya kita mawas diri bahwa kemarahan Allah memperlihatkan ketidaksukaan-Nya bila umat tidak menjadikan Dia sebagai Allah satu-satunya. Sebab itu mari kita introspeksi, adakah kita menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang kita sembah atau adakah pihak lain yang menjadi sandaran hidup kita? Ingatlah, kita hanya boleh menyembah dan memprioritaskan Allah di atas segala sesuatu karena Dia senantiasa mengasihi kita, terlebih telah menebus kita. Tuhan memberkati kita. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar