Bahan Bacaan: Yesaya 30: 27-33
Salah
satu kelemahan manusia adalah tidak mudah untuk memaafkan atas perlakuan menyakitkan
yang diterima dari sesamanya, terlebih teman dekat yang sudah sangat akrab.
Ketika seseorang memilik rasa sakit hati karena perbuatan orang lain, seringkali
menanggapinya dengan melakukan pembalasan. Bakan dalam hatinya berkeinginan
keras untuk memberi balasan yang lebih kejam lagi, dari perlakuan yang diterima
sebelumnya. Namun, tentu tidak semudah itu juga pemahaman yang dimiliki orang
yang beriman, bahwa pembalasan bukanlah merupakan tindakan yang benar. Pembalasan
bukan merupakan hak otoritas bagi mereka yang dikasihi Tuhan. Pengalaman kehidupan
membuktikan bahwa pembalasan tidak pernah menyelesaikan masalah bagi yang
bertikai. Yang dipastikan akan menyelesaikan masalah adalah, ketika Allah
sendiri yang akan ambil tindakan dan sikap terbaik-Nya.
Bahan
bacaan saat ini mengingatkan kepada kita akan kemarahan dan hukuman Allah atas
Asyur. Sangat terang benderang menunjukkan kepada kita bahwa Allah tidak akan
pernah tinggal diam dalam setiap persoalan umat-Nya. Dia senantiasa memperhatikan
kondisi umat-Nya dan membela mereka. Kembali kita diingatkan akan gambaran
kemarahan Allah kepada Asyur, karena telah menindas umat-Nya dengan sangat
berlebihan. Api, asap, angin, dan banjir dipakai untuk melukiskan kekuasaan,
kekuatan, dan geram-Nya kepada Asyur. Kemarahan-Nya menimpa Asyur seperti api
yang menghanguskan, hujan lebat, hujan batu, dan badai. Ketika penghukuman
sedang menimpa Asyur, umat Allah akan berpesta merayakan kemenangan dan
keselamatan yang Allah berikan. Mereka akan bergembira sebab Allah sendiri yang
berperang bagi mereka. Tentu cara dan waktu Allah menjalankan hukuman itu tidak
selalu selaras dengan keinginan umat-Nya. Bisa jadi, waktunya dianggap terlalu
lambat, atau bisa pula hukumannya dianggap kurang begitu kuat. Namun, Allah
memiliki kebijaksanaan-Nya sendiri. Dia memberi keadilan kepada orang yang
tertekan. Dia berpihak kepada orang-orang yang lemah. Allah memberi kesempatan
bagi umat-Nya untuk lepas dari himpitan musuh.
Kita
memiliki sistem hukum untuk menentukan kesalahan seseorang dan menjatuhkan
hukuman. Namun, dalam hubungan antar pribadi, tidak ada hak bagi kita untuk
menghakimi dan menghukum orang lain. Dalam situasi demikian, kita hanya perlu
memohon kasih Allah melimpah bagi mereka. Kita tidak berdiam diri dan tidak
pasrah dengan keadaan, namun justru berusaha keluar dari beragam kesulitan.
Kita pun harus berusaha untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Bagi
orang-orang yang menghimpit orang-orang lemah dan melakukan kejahatan kepada
sesamanya, marilah kita doakan agar Allah berkarya dalam hatinya. Sebab bila kita senantiasa mendekat
dan berlindung kepada Tuhan, Dia yang akan mengalahkan musuh-musuh iman kita
agar tetap aman. Sebab tidak ada musuh, sebesar apapun yang tidak tunduk kepada
Pelindung yang Maha Kuasa. Tuhan mau kita belajar bergantung sepenuhnya
kepada-Nya. Ketika Tuhan memiliki maksud untuk berada di belakang dimana kita
tidak mudah melihat-Nya, hal itu memiliki makna bahwa Tuhan hendak melatih iman
kita. Tiada yang terbaik bagi kita, kecuali merelakan diri berserah kepada
Tuhan, sebab hanya Dialah yang tahu jalan mana yang harus kita tempuh. Tuhan
memberkati kita. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar