Senin, 10 Februari 2025

ALLAH YANG BERKARYA

 Bahan Bacaan: Yesaya 30: 27-33

 

Salah satu kelemahan manusia adalah tidak mudah untuk memaafkan atas perlakuan menyakitkan yang diterima dari sesamanya, terlebih teman dekat yang sudah sangat akrab. Ketika seseorang memilik rasa sakit hati karena perbuatan orang lain, seringkali menanggapinya dengan melakukan pembalasan. Bakan dalam hatinya berkeinginan keras untuk memberi balasan yang lebih kejam lagi, dari perlakuan yang diterima sebelumnya. Namun, tentu tidak semudah itu juga pemahaman yang dimiliki orang yang beriman, bahwa pembalasan bukanlah merupakan tindakan yang benar. Pembalasan bukan merupakan hak otoritas bagi mereka yang dikasihi Tuhan. Pengalaman kehidupan membuktikan bahwa pembalasan tidak pernah menyelesaikan masalah bagi yang bertikai. Yang dipastikan akan menyelesaikan masalah adalah, ketika Allah sendiri yang akan ambil tindakan dan sikap terbaik-Nya.

Bahan bacaan saat ini mengingatkan kepada kita akan kemarahan dan hukuman Allah atas Asyur. Sangat terang benderang menunjukkan kepada kita bahwa Allah tidak akan pernah tinggal diam dalam setiap persoalan umat-Nya. Dia senantiasa memperhatikan kondisi umat-Nya dan membela mereka. Kembali kita diingatkan akan gambaran kemarahan Allah kepada Asyur, karena telah menindas umat-Nya dengan sangat berlebihan. Api, asap, angin, dan banjir dipakai untuk melukiskan kekuasaan, kekuatan, dan geram-Nya kepada Asyur. Kemarahan-Nya menimpa Asyur seperti api yang menghanguskan, hujan lebat, hujan batu, dan badai. Ketika penghukuman sedang menimpa Asyur, umat Allah akan berpesta merayakan kemenangan dan keselamatan yang Allah berikan. Mereka akan bergembira sebab Allah sendiri yang berperang bagi mereka. Tentu cara dan waktu Allah menjalankan hukuman itu tidak selalu selaras dengan keinginan umat-Nya. Bisa jadi, waktunya dianggap terlalu lambat, atau bisa pula hukumannya dianggap kurang begitu kuat. Namun, Allah memiliki kebijaksanaan-Nya sendiri. Dia memberi keadilan kepada orang yang tertekan. Dia berpihak kepada orang-orang yang lemah. Allah memberi kesempatan bagi umat-Nya untuk lepas dari himpitan musuh.

Kita memiliki sistem hukum untuk menentukan kesalahan seseorang dan menjatuhkan hukuman. Namun, dalam hubungan antar pribadi, tidak ada hak bagi kita untuk menghakimi dan menghukum orang lain. Dalam situasi demikian, kita hanya perlu memohon kasih Allah melimpah bagi mereka. Kita tidak berdiam diri dan tidak pasrah dengan keadaan, namun justru berusaha keluar dari beragam kesulitan. Kita pun harus berusaha untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Bagi orang-orang yang menghimpit orang-orang lemah dan melakukan kejahatan kepada sesamanya, marilah kita doakan agar Allah berkarya dalam hatinya. Sebab bila kita senantiasa mendekat dan berlindung kepada Tuhan, Dia yang akan mengalahkan musuh-musuh iman kita agar tetap aman. Sebab tidak ada musuh, sebesar apapun yang tidak tunduk kepada Pelindung yang Maha Kuasa. Tuhan mau kita belajar bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Ketika Tuhan memiliki maksud untuk berada di belakang dimana kita tidak mudah melihat-Nya, hal itu memiliki makna bahwa Tuhan hendak melatih iman kita. Tiada yang terbaik bagi kita, kecuali merelakan diri berserah kepada Tuhan, sebab hanya Dialah yang tahu jalan mana yang harus kita tempuh. Tuhan memberkati kita. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar