Sabtu, 22 Maret 2025

TRIDUUM MENUJU KE PASKAH

Salam Sejahtera Dalam Kasih Kristus.

Saudara-saudaraku yang terkasih. Paskah merupakan pusat dari kehidupan iman percaya kita. Dengan demikian Masa Paskah senantiasa menghidupi seluruh kehidupan iman percaya kita sepanjang kehidupan. Tanpa peristiwa Paskah tidak akan ada janji keselamatan, juga tidak ada perayaan atau ibadah apapun. Paskah bukan hanya peristiwa kebangkitan Kristus, tetapi juga penderitaan dan kematian-Nya. Melalui peristiwa kematian dan kebangkitan Kristus, kita umat percaya memperoleh karunia pintu masuk yang baru kepada Allah. Dengan demikian melalui peristiwa Paskah, yaitu penderitaan-kematian-kebangkitan Kristus, kita yang semula bukan umat Allah dijadikan umat-Nya. Lebih daripada itu, kita diperkenankan untuk menjadi anak-anak Allah, pewaris Kerajaan Allah. Karena itu kita dipanggil mempersiapkan Masa Paskah secara khusus selama empat puluh hari yang dimulai pada Rabu Abu. Dengan demikian ibadah Rabu Abu merupakan awal dari masa Prapaskah yang ditandai dengan instrospeksi diri, pertobatan, perkabungan, dan kesediaan menerima pembaruan diri.

Makna instrospeksi diri, pertobatan, dan kesediaan pembaruan diri yang dimulai pada Rabu Abu, bukan berarti di luar masa Prapaskah, kita boleh hidup dalam sikap yang tidak mawas diri dan tanpa pertobatan. Sikap mawas diri dan pertobatan merupakan panggilan hidup umat percaya sepanjang hidupnya. Namun secara khusus selama masa Prapaskah yang dimulai pada Rabu Abu sampai Kamis Putih memiliki tempat yang khusus. Karena itu kita dipersiapkan untuk menyambut Tri hari Suci, yaitu: Kamis Putih (Yesus mencuci kaki para murid-Nya dan Perjamuan Malam Terakhir), Jumat Agung (jalan penderitaan dan wafat di bukit Golgota), Sabtu Sunyi (Jenasah Yesus di dalam makam), dan Paskah (Yesus bangkit dari kematian-Nya). Menjelang Paskah kita dipanggil untuk mempersiapkan diri dengan sikap mawas diri, bertarak, dan bertobat selama empat puluh hari. Persiapan yang cukup panjang selama masa Prapaskah merupakan media disiplin rohani yang diatur oleh gereja agar kita mampu menghayati karya keselamatan Allah di dalam kematian dan kebangkitan Kristus dengan pembaruan hidup. Dengan melatih diri secara khusus pada masa Prapaskah selama empat puluh hari, kita dimampukan untuk hidup dengan pembaruan diri setelah masa Paskah. Dengan demikian proses pembaruan dan pertobatan diharapkan menjadi gaya hidup kita percaya dalam kehidupannya sehari-hari. Pembaruan hidup atau pertobatan bukan hanya terjadi pada masa hari raya gerejawi, namun menjadi identitas diri dan pola hidup kita di tengah-tengah dunia.

Masa Raya Paskah meliputi tiga masa, yaitu Masa Pra Paskah, Masa Pekan Suci, Masa Paskah. Menjadi sangat penting untuk kita pahami beberapa kegiatan yang akan kita laksanakan, diantaranya:

1.      Rabu Abu

Rabu abu merupakan pembukaan masa Prapaskah, awal puasa dan pantang. Pada Ibadah Rabu Abu, warga jemaat dahinya diberi abu sebagai tanda pertobatan. Simbol ini mengingatkan umat akan ritual Israel kuno dimana seseorang menabur abu di atas kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, penyesalan dan pertobatan (Ester 4:1,3); duduk di atas abu sebagai tanda kesedihan yang mendalam (Ayub 2:8). Dalam Mazmur 102:10 secara figuratif, penyesalan juga digambarkan dengan memakan abu: “Sebab aku makan abu seperti roti, dan mencampur minumanku dengan tangisan.” Ibadah Rabu Abu mempersiapkan kita secara spiritual agar layak merayakan Tri hari Suci, sehingga mampu menghayati karya keselamatan Allah dalam ibadah. Pengolesan abu dalam ibadah Rabu Abu sebagai tindakan yang memiliki cakupan makna yang lebih luas, bersifat khusus, rohaniah, dan berkaitan dengan tanda-tanda rahmat Allah. Karena itu penggunaan simbol abu dalam Ibadah Rabu Abu juga penting dan bermakna. Penggunaan simbol abu memiliki makna iman yang berakar pada kesaksian Alkitab dan tradisi gereja selama berabad-abad. Simbol abu digunakan dalam ibadah Rabu Abu, supaya kita menyadari akan kefanaan, kerapuhan, dan keberdosaan, dan kita dipanggil terbuka untuk menerima anugerah keselamatan Allah dalam pengampunan-Nya. Namun simbol abu sebagai tanda pertobatan perlu diterapkan dalam kehidupan yang nyata. Apa artinya dahi kita diolesi dengan abu dan melaksanakan ibadah dengan khidmat tetapi hidup kita tidak mengalami pembaruan yang berarti. Karena itu pengolesan abu di dahi merupakan ekspresi rohaniah yang dengan sadar mengakui dan menyesali semua dosa dan kesalahan yang telah dilakukan, sehingga mohon kemurahan dan kerahiman Allah. Spiritualitas yang mendasari kita untuk bertobat mulai Rabu Abu sampai Sabtu Sunyi adalah hati yang hancur dan jiwa yang remuk.

Pertobatan yang dinyatakan dengan pembaruan hidup dinyatakan melalui relasi personal yang intim dengan Allah melalui Doa (Mat. 6:5-8), menyangkal diri melalui Puasa (Mat. 6:16-28), dan menyatakan kemurahan hati dengan memberi (Mat. 6:1-4). Makna Tiga Disiplin Spiritualitas dalam kehidupan kita adalah:

1.      Spiritualitas Doa merupakan komunikasi dan relasi personal yang intim dengan Allah, sehingga melalui doa kita mengalami kasih dan anugerah Allah yang berlimpah. Karena itu melalui spiritualitas doa, kita memuji dan memuliakan Allah. Kita juga mengalami kesadaran akan keberdosaannya tanpa menghukum diri sebab dilandasi oleh sikap iman yang percaya kerahiman Allah yang tanpa batas.

2.      Spiritualitas Berpuasa merupakan tindakan menyangkal diri terhadap segala sesuatu yang melekat secara duniawi. Puasa bukan suatu spiritualitas yang mempengaruhi hati Allah untuk kepentingan dan keinginan daging, tetapi perjuangan rohaniah untuk melawan keinginan daging. Melalui puasa kita menahan diri untuk melawan kenikmatan lahiriah, sehingga keinginan Roh menjadi dominan dan mengendalikan kehidupan kita. Karena itu spiritualitas berpuasa harus dilakukan secara disiplin dan berkesinambungan sehingga kehidupan kita semakin melekat kepada Kristus, dan bukan kepada dunia.

3.      Spiritualitas Memberi merupakan tindakan iman yang menyatakan kasih dan kemurahan hati kepada sesama yang dilandasi oleh kasih Allah di dalam penebusan Kristus. Melalui spiritualitas memberi setiap kita menyisihkan secara khusus uang atau makanan yang ditujukan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan, khususnya mereka yang menderita. Bantuan yang kita berikan diharapkan menjadi cara menguatkan dan memberdayakan mereka. Karena itu tujuan spiritualitas memberi adalah memberdayakan sesama yang mendapat bantuan.

 

Tiga Disiplin Spiritualitas yang diajarkan oleh Yesus tersebut wajib dipraktikkan kita dengan cara tersembunyi, yaitu: “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat.6:6). Spiritualitas ketersembunyian juga dipraktikkan saat kita berpuasa, yaitu: “supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat.6:16). Demikian pula saat kita memberi persembahan, yaitu: “Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat. 6:4). Berulang-ulang Yesus menekankan aspek ketersembunyiaan saat kita melakukan kebajikan rohaniah dalam bentuk Tiga Disiplin Spiritualitas, yaitu: Berdoa, Berpuasa, dan Memberi.

 

2.      Pekan Suci

Seminggu menjelang Hari Raya Paskah dikenal sebagai Pekan Suci, dimulai pada hari minggu Palma. Ini adalah hari-hari dalam seminggu dimana umat merefleksikan peristiwa sebelum kematian Yesus.

1.                Minggu Palmarum

Minggu Palmarum dirayakan sebagai bagian dari pekan suci. Dilaksanakan pada hari Minggu sebelum Minggu perayaan Paskah. Pada hari minggu Palmarum, umat Kristen merayakan prosesi Yesus memasuki kota Yerusalem. Menurut Injil, orang-orang dari Yerusalem memegang cabang pohon dan dedaunan di jalan untuk menyambut Yesus saat ia menunggangi seekor keledai memasuki kota Yerusalem. Dalam kebaktian Minggu Palmarum, penekanan kebaktian adalah harapan dan sukacita di tengah penderitaan.

 

2.                Kamis Putih

Pelayanan ibadah Kamis Putih bertujuan untuk mengenang peristiwa-peristiwa dimana Yesus mendekati masa-masa kematian-Nya. Beberapa peristiwa tersebut adalah; perempuan yang meminyaki Yesus dengan parfum dari buli-buli dan mengusapnya dengan rambutnya, perjamuan malam yang dilakukan Yesus, dimana untuk terakhir kalinya Yesus berbagi roti paskah dengan para murid, Yesus yang membasuh kaki para murid dan bertindak sebagai pelayan, namun juga mengenang tentang Petrus dan Yudas yang tidak setia. Kata “Putih” adalah simbol dari terang. Karena itu pada waktu ibadah Kamis Putih dihiasi dengan warna putih di tengah kegelapan. Hal ini menggambarkan peran Tuhan Yesus yang telah datang ke dunia membawa terang. Dalam terang Kristus, kita menemukan sebuah pesan, “melayani”. Karena itu kebaktian berpusat pada pelayanan doa dan di beberapa gereja pembasuhan kaki. Ibadah Kamis Putih merupakan penutup masa Prapaskah. Dalam ibadah Kamis Putih gereja mengenang Perjamuan Malam Terakhir yang dilakukan Yesus bersama para murid-Nya dengan terlebih dahulu membasuh kaki para murid-Nya. Perjamuan Malam Terakhir yang dilakukan oleh Yesus tersebut yang menjadi dasar teologis gereja merayakan Sakramen Perjamuan Tuhan. Dengan demikian dalam ibadah Kamis Putih, gereja secara utuh menghayati dan mengenang peristiwa Perjamuan Malam Terakhir, penetapan sakramen Perjamuan Tuhan, dan sikap Yesus yang menekankan kasih-Nya sebagai seorang hamba dengan membasuh kaki para murid-Nya.

 

Tujuan utama Yesus membasuh kaki para murid-Nya adalah memberi keteladanan agar setiap umat yang percaya saling merendahkan diri walau mereka sedang dalam kondisi dilukai dan dikhianati. Di Yohanes 13:14-15 Yesus berkata: “Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh kakimu, sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.”  Tindakan Yesus membasuh kaki para murid-Nya merupakan keteladanan yang sempurna dan menjadi simbol yang merangkum makna ritual dan spiritualitas secara utuh. Karena itu melalui peristiwa pembasuhan kaki para murid-Nya tersebut, Yesus memberikan perintah baru. Isi perintah baru dari Yesus tersebut adalah: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh. 13:34). Perintah Yesus tersebut disebut perintah yang baru sebab terdapat bagian yang paling utama, yaitu: “….sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” Para murid mendapat tugas untuk saling mengasihi dengan dilandasi oleh sikap kasih Yesus yang dicurahkan kepada diri mereka. Dimensi “kebaruan” dalam perintah Yesus tersebut terletak pada realitas kasih Yesus yang sudah diberikan kepada para murid-Nya. Karena itu dimensi terdalam dalam peristiwa perayaan hari Kamis Putih terletak pada “perintah baru” dari Yesus. Perintah baru itulah yang diekspresikan melalui ibadah dengan tindakan saling membasuh kaki di antara para murid dan dimanifestasikan sebagai spiritualitas dalam kehidupan umat sehari-hari.

 

Tindakan Yesus membasuh kaki para murid-Nya bukanlah suatu momen romantis dan sesaat saja secara emosional, tetapi merupakan suatu spiritualitas yang menjadi pola kehidupan umat percaya. Sebagai suatu spiritualitas, maka keteladanan yang telah Yesus lakukan seharusnya menjadi model dan bentuk kerohanian yang signifikan sehingga menjiwai setiap pola pikir-perasaan-kehendak setiap umat. Dengan demikian tindakan membasuh kaki di antara umat bukan sekadar suatu ritualisme, namun suatu spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu yang utama adalah bagaimanakah umat mempraktikkan makna membasuh kaki dalam kehidupan bersama sehingga spiritualitas tersebut memampukan umat jauh dari sikap angkuh, merasa paling penting, saling menguasai dan memanipulasi kekuasaan.

 

3.                Jumat Agung

Merupakan bagian dari Tri Hari Suci. Jumat Agung adalah hari Jumat sebelum Minggu Paskah, hari peringatan penyaliban Yesus Kristus dan wafat-Nya di Golgota. Melalui kurban penebusan Kristus yang menyerahkan nyawa melalui darah-Nya, kita mengalami pendamaian yang menyeluruh dengan Allah. Sebab melalui kematian-Nya, Yesus telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri. Karena itu peristiwa kematian Yesus disebut sebagai Jumat Agung, sebab dalam peristiwa Jumat Agung di Bukit Golgota Allah telah mendamaikan manusia dengan penebusan Kristus, dan Kristus mengaruniakan jalan baru yaitu keselamatan. Respons iman manusia terhadap karya penebusan dan pendamaian Allah di dalam Kristus adalah sikap percaya kepada Kristus dengan menerima Dia sebagai penebus dan penyelamat yang memulihkan kita dari kuasa dosa. Dengan demikian setiap kita dipanggil untuk memberlakukan karya pendamaian Allah dalam penebusan Kristus dengan berdamai dengan diri sendiri dan sesama serta lawan. Makna kematian Kristus yang menyerahkan nyawa-Nya seharusnya memampukan umat untuk mengalami rekonsiliasi yang menyeluruh sehingga mengalami proses pembaruan. Rekonsiliasi akan terjadi apabila kita memandang dan memperlakukan setiap sesama sebagai umat yang telah ditebus dan dikasihi Allah di dalam penebusan Kristus. Dengan demikian sesama dengan segala keberadaannya yang unik dan latar-belakang yang berbeda diterima secara utuh. Kita mengasihi sesama sebagaimana layakya Kristus mengasihi mereka.

 

4.                Sabtu Sunyi

Disebut juga Sabtu suci, Sabtu sepi yang merupakam juga bagian dari Tri Hari Suci. Sabtu Sunyi merupakan hari terakhir dalam Pekan Suci dan masa Prapaskah. Ibadah Hari Sabtu Suci memperingati pada saat tubuh Yesus Kristus dibaringkan di kubur setelah mati disalibkan. Pada ibadah Sabtu Sunyi, umat percaya menghayati masa transisi dari peristiwa kematian Yesus dan kebangkitan-Nya. Dalam masa transisi tersebut mengandung dua aspek yang saling menyatu, yaitu kedukaan dan harapan. Dimensi kedukaan adalah karena Yesus telah wafat di atas kayu salib yang telah dirayakan pada Jumat Agung, dan dimensi harapan karena Yesus akan bangkit dari kematian-Nya pada hari Paskah. Dalam ibadah Sabtu Sunyi, dimensi kedukaan dan harapan dilabuhkan dalam sikap iman. Seraya merenungkan makna kefanaan manusia di depan jenasah Yesus yang berada di dalam makam, umat menghayati makna Sabtu Sunyi dengan keheningan dan sikap meditatif.

 

Ibadah Sabtu Sunyi disebut dengan “Sabat Kedua” yang menggemakan ingatan umat akan karya Allah yang menciptakan langit, bumi dan seisinya selama enam hari dan pada hari ketujuh Allah berhenti menguduskan. Demikian pula pada Sabtu Sunyi, karya keselamatan Allah telah terjadi secara sempurna dalam kematian Kristus sehingga pada hari “Sabat Kedua” jenasah Kristus diam terkubur dalam perut bumi. Melalui kematian Kristus, Allah menciptakan kehidupan baru yang tampak pada hari Paskah, yaitu kebangkitan Kristus. Sabtu Sunyi juga disebut Sabbatum Sanctum, yaitu Sabat yang kudus. Pada awal kekristenan, umat percaya merayakan dengan khidmat Sabbatum Sanctum dan Paskah, sebab melalui Sabbatum Sanctum, umat mempersiapkan diri menyambut misteri Paskah yaitu kebangkitan Kristus.

 

Dalam ibadah Sabtu Sunyi kita melakukan perenungan yang sifatnya meditatif. Dalam perenungan menantikan kebangkitan Kristus yang terjadi pada Paskah Subuh. Tema perenungan pada hari Jumat Agung dan Sabtu Sunyi adalah karya keselamatan Allah yang telah terjadi dalam penderitaan dan kematian Kristus. Hiasan di sekitar mimbar pada Sabtu Sunyi biasanya memakai ranting-ranting kering, atau tanpa hiasan sama sekali. Ciri utama selama Sabtu Sunyi adalah keheningan agar umat secara intensif berdoa, membaca firman, dan merenungkan untuk menghayati makna kematian Kristus dan menantikan kebangkitan Kristus dengan harapan iman. Keheningan berdoa dan merefleksikan karya keselamatan Allah yang terjadi dalam kematian Kristus pada Sabtu Sunyi paralel dengan perintah Allah kepada umat Israel untuk menguduskan hari Sabat (Kel. 20:8-11). Melalui kematian Kristus, Allah mengingatkan kita akan karya penciptaan yang baru, yaitu melalui penebusan-Nya di atas kayu salib; Allah mengingatkan manusia akan karya penciptaan-Nya yang telah terjadi selama enam hari lamanya. Keduanya merupakan tema yang hakiki dalam sejarah kehidupan umat manusia. Allah telah berkarya dan menciptakan kehidupan namun telah dirusak oleh dosa, dan di dalam Kristus Allah kembali menciptakan kebaruan sehingga manusia hidup dalam anugerah-Nya. Perenungan pada Sabtu Sunyi merupakan tindakan retreat agar umat menemukan kembali sumber dan kekayaan rohaninya yang bersumber pada karya keselamatan Allah di dalam inkarnasi dan penebusan Kristus.

 

Merayakan Triduum (Tri Hari Suci), yaitu: Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Sunyi, dan Paskah merupakan perayaan gerejawi yang menjadi jantung keselamatan iman Kristen, karena melalui peristiwa-peristiwa Kristus tersebut karya keselamatan Allah mencapai puncaknya. Karya keselamatan Allah tersebut merupakan kebutuhan dan harapan manusia yang paling utama. Karena itu perayaan Triduum bukanlah suatu perayaan gerejawi yang terlepas dari konteks nyata kehidupan umat. Kita hidup di tengah-tengah budaya kematian yang menyebarkan sengat maut dalam berbagai manifestasinya. Karena itu melalui perenungan iman tentang kematian Kristus dan kebangkitan-Nya, kita akan memperoleh kekuatan rohani sehingga memampukan kita untuk memaknai realita hidup dengan perspektif harapan iman kepada Kristus yang telah bangkit. Tuhan Yesus Kristus senantiasa memberkati kehidupan bergereja kita. Selamat menyongsong Paskah. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar