Salam Sejahtera Dalam Kasih Kristus.
Saudara-saudaraku yang terkasih. Paskah merupakan pusat dari kehidupan iman percaya kita. Dengan demikian Masa Paskah senantiasa menghidupi seluruh kehidupan iman percaya kita
sepanjang kehidupan. Tanpa peristiwa Paskah tidak
akan ada janji keselamatan, juga tidak ada perayaan atau ibadah apapun. Paskah bukan hanya peristiwa kebangkitan Kristus, tetapi juga penderitaan dan
kematian-Nya. Melalui peristiwa kematian dan kebangkitan
Kristus, kita umat percaya memperoleh karunia pintu masuk yang baru kepada
Allah. Dengan demikian melalui peristiwa Paskah, yaitu
penderitaan-kematian-kebangkitan Kristus, kita yang semula bukan umat Allah
dijadikan umat-Nya. Lebih daripada itu, kita diperkenankan untuk menjadi
anak-anak Allah, pewaris Kerajaan Allah. Karena itu kita dipanggil
mempersiapkan Masa Paskah secara khusus selama empat
puluh hari yang dimulai pada Rabu Abu. Dengan demikian ibadah Rabu Abu
merupakan awal dari masa Prapaskah yang ditandai dengan instrospeksi diri,
pertobatan, perkabungan, dan kesediaan menerima pembaruan diri.
Makna instrospeksi diri, pertobatan,
dan kesediaan pembaruan diri yang dimulai pada Rabu Abu, bukan berarti di luar
masa Prapaskah, kita boleh hidup dalam sikap yang
tidak mawas diri dan tanpa pertobatan. Sikap mawas diri dan pertobatan
merupakan panggilan hidup umat percaya sepanjang hidupnya. Namun secara khusus
selama masa Prapaskah yang dimulai pada Rabu Abu sampai Kamis Putih memiliki
tempat yang khusus. Karena itu kita dipersiapkan untuk menyambut Tri hari
Suci, yaitu: Kamis Putih (Yesus mencuci kaki para murid-Nya
dan Perjamuan Malam Terakhir), Jumat Agung (jalan penderitaan
dan wafat di bukit Golgota), Sabtu Sunyi (Jenasah Yesus di
dalam makam), dan Paskah (Yesus bangkit dari kematian-Nya).
Menjelang Paskah kita dipanggil untuk mempersiapkan
diri dengan sikap mawas diri, bertarak, dan bertobat selama empat puluh hari.
Persiapan yang cukup panjang selama masa Prapaskah merupakan media disiplin
rohani yang diatur oleh gereja agar kita mampu menghayati karya keselamatan
Allah di dalam kematian dan kebangkitan Kristus dengan pembaruan hidup. Dengan melatih diri secara khusus pada masa Prapaskah selama empat puluh
hari, kita dimampukan untuk hidup dengan pembaruan diri setelah masa Paskah.
Dengan demikian proses pembaruan dan pertobatan diharapkan menjadi gaya hidup
kita percaya dalam kehidupannya sehari-hari. Pembaruan hidup atau pertobatan
bukan hanya terjadi pada masa hari raya gerejawi, namun menjadi identitas diri
dan pola hidup kita di tengah-tengah dunia.
Masa Raya Paskah
meliputi tiga masa, yaitu Masa Pra Paskah, Masa Pekan
Suci, Masa Paskah. Menjadi
sangat penting untuk kita pahami beberapa kegiatan yang akan kita laksanakan,
diantaranya:
1.
Rabu
Abu
Rabu
abu merupakan pembukaan masa Prapaskah, awal puasa dan pantang. Pada Ibadah Rabu
Abu, warga jemaat dahinya diberi abu sebagai tanda pertobatan. Simbol ini
mengingatkan umat akan ritual Israel kuno dimana seseorang menabur abu di atas
kepalanya atau di seluruh tubuhnya sebagai tanda kesedihan, penyesalan dan
pertobatan (Ester 4:1,3); duduk di atas abu sebagai tanda kesedihan yang
mendalam (Ayub 2:8). Dalam Mazmur 102:10 secara figuratif, penyesalan juga
digambarkan dengan memakan abu: “Sebab aku makan abu seperti roti, dan
mencampur minumanku dengan tangisan.” Ibadah Rabu Abu mempersiapkan kita
secara spiritual agar layak merayakan Tri hari Suci, sehingga mampu menghayati karya keselamatan Allah
dalam ibadah. Pengolesan abu dalam ibadah Rabu Abu sebagai tindakan yang
memiliki cakupan makna yang lebih luas, bersifat khusus, rohaniah, dan
berkaitan dengan tanda-tanda rahmat Allah. Karena itu penggunaan simbol abu
dalam Ibadah Rabu Abu juga penting dan bermakna. Penggunaan simbol abu memiliki
makna iman yang berakar pada kesaksian Alkitab dan tradisi gereja selama
berabad-abad. Simbol abu digunakan dalam ibadah Rabu Abu, supaya kita menyadari
akan kefanaan, kerapuhan, dan keberdosaan, dan kita dipanggil terbuka untuk
menerima anugerah keselamatan Allah dalam pengampunan-Nya. Namun simbol abu
sebagai tanda pertobatan perlu diterapkan dalam kehidupan yang nyata. Apa
artinya dahi kita diolesi dengan abu dan melaksanakan ibadah dengan khidmat
tetapi hidup kita tidak mengalami pembaruan yang berarti. Karena itu pengolesan
abu di dahi merupakan ekspresi rohaniah yang dengan sadar mengakui dan
menyesali semua dosa dan kesalahan yang telah dilakukan, sehingga mohon
kemurahan dan kerahiman Allah. Spiritualitas yang mendasari kita untuk bertobat
mulai Rabu Abu sampai Sabtu Sunyi adalah hati yang hancur dan jiwa yang remuk.
Pertobatan yang dinyatakan dengan
pembaruan hidup dinyatakan melalui relasi personal yang intim dengan Allah
melalui Doa (Mat. 6:5-8), menyangkal diri melalui Puasa (Mat. 6:16-28), dan
menyatakan kemurahan hati dengan memberi (Mat. 6:1-4). Makna Tiga
Disiplin Spiritualitas dalam kehidupan kita adalah:
1.
Spiritualitas Doa merupakan
komunikasi dan relasi personal yang intim dengan Allah, sehingga melalui doa
kita mengalami kasih dan anugerah Allah yang berlimpah. Karena itu melalui
spiritualitas doa, kita memuji
dan memuliakan Allah. Kita juga mengalami kesadaran akan keberdosaannya tanpa
menghukum diri sebab dilandasi oleh sikap iman yang percaya kerahiman Allah
yang tanpa batas.
2.
Spiritualitas Berpuasa merupakan
tindakan menyangkal diri terhadap segala sesuatu yang melekat secara duniawi.
Puasa bukan suatu spiritualitas yang mempengaruhi hati Allah untuk kepentingan
dan keinginan daging, tetapi perjuangan rohaniah untuk melawan keinginan
daging. Melalui puasa kita menahan diri untuk melawan kenikmatan lahiriah,
sehingga keinginan Roh menjadi dominan dan mengendalikan kehidupan kita. Karena
itu spiritualitas berpuasa harus dilakukan secara disiplin dan berkesinambungan
sehingga kehidupan kita semakin melekat kepada Kristus, dan bukan kepada dunia.
3.
Spiritualitas Memberi merupakan
tindakan iman yang menyatakan kasih dan kemurahan hati kepada sesama yang
dilandasi oleh kasih Allah di dalam penebusan Kristus. Melalui spiritualitas memberi
setiap kita menyisihkan secara khusus uang atau makanan yang ditujukan untuk
membantu orang-orang yang membutuhkan, khususnya mereka yang menderita. Bantuan
yang kita berikan diharapkan menjadi cara menguatkan dan memberdayakan mereka.
Karena itu tujuan spiritualitas memberi adalah memberdayakan sesama yang
mendapat bantuan.
Tiga Disiplin Spiritualitas yang
diajarkan oleh Yesus tersebut wajib dipraktikkan kita dengan cara tersembunyi,
yaitu: “Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu
dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang
melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat.6:6). Spiritualitas ketersembunyian juga dipraktikkan saat kita
berpuasa, yaitu: “supaya jangan dilihat oleh orang bahwa engkau sedang
berpuasa, melainkan hanya oleh Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka
Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat.6:16).
Demikian pula saat kita memberi persembahan, yaitu: “Hendaklah sedekahmu itu diberikan
dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya
kepadamu” (Mat. 6:4). Berulang-ulang Yesus menekankan aspek ketersembunyiaan
saat kita melakukan kebajikan rohaniah dalam bentuk Tiga Disiplin
Spiritualitas, yaitu: Berdoa, Berpuasa, dan Memberi.
2.
Pekan
Suci
Seminggu menjelang Hari
Raya Paskah dikenal sebagai Pekan Suci, dimulai pada hari minggu Palma. Ini
adalah hari-hari dalam seminggu dimana umat merefleksikan peristiwa sebelum
kematian Yesus.
1.
Minggu
Palmarum
Minggu
Palmarum dirayakan sebagai bagian dari pekan suci. Dilaksanakan pada hari
Minggu sebelum Minggu perayaan Paskah. Pada hari minggu Palmarum, umat Kristen
merayakan prosesi Yesus memasuki kota Yerusalem. Menurut Injil, orang-orang
dari Yerusalem memegang cabang pohon dan dedaunan di jalan untuk menyambut
Yesus saat ia menunggangi seekor keledai memasuki kota Yerusalem. Dalam
kebaktian Minggu Palmarum, penekanan kebaktian adalah harapan dan sukacita di
tengah penderitaan.
2.
Kamis
Putih
Pelayanan ibadah
Kamis Putih bertujuan untuk mengenang peristiwa-peristiwa dimana Yesus
mendekati masa-masa kematian-Nya. Beberapa peristiwa tersebut adalah; perempuan
yang meminyaki Yesus dengan parfum dari buli-buli dan mengusapnya dengan
rambutnya, perjamuan malam yang dilakukan Yesus, dimana untuk terakhir kalinya
Yesus berbagi roti paskah dengan para murid, Yesus yang membasuh kaki para
murid dan bertindak sebagai pelayan, namun juga mengenang tentang Petrus dan
Yudas yang tidak setia. Kata “Putih” adalah simbol dari terang. Karena itu pada
waktu ibadah Kamis Putih dihiasi dengan warna putih di tengah kegelapan. Hal
ini menggambarkan peran Tuhan Yesus yang telah datang ke dunia membawa terang. Dalam
terang Kristus, kita menemukan sebuah pesan, “melayani”. Karena itu kebaktian
berpusat pada pelayanan doa dan di beberapa gereja pembasuhan kaki. Ibadah
Kamis Putih merupakan penutup masa Prapaskah. Dalam ibadah Kamis Putih gereja
mengenang Perjamuan Malam Terakhir yang dilakukan Yesus bersama para murid-Nya
dengan terlebih dahulu membasuh kaki para murid-Nya. Perjamuan Malam Terakhir
yang dilakukan oleh Yesus tersebut yang menjadi dasar teologis gereja merayakan
Sakramen Perjamuan Tuhan. Dengan demikian dalam ibadah Kamis Putih, gereja
secara utuh menghayati dan mengenang peristiwa Perjamuan Malam Terakhir,
penetapan sakramen Perjamuan Tuhan, dan sikap Yesus yang menekankan kasih-Nya
sebagai seorang hamba dengan membasuh kaki para murid-Nya.
Tujuan utama Yesus
membasuh kaki para murid-Nya adalah memberi keteladanan agar setiap umat yang
percaya saling merendahkan diri walau mereka sedang dalam kondisi dilukai dan
dikhianati. Di Yohanes 13:14-15 Yesus berkata: “Jadi jikalau Aku membasuh
kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamupun wajib saling membasuh
kakimu, sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga
berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” Tindakan Yesus
membasuh kaki para murid-Nya merupakan keteladanan yang sempurna dan menjadi
simbol yang merangkum makna ritual dan spiritualitas secara utuh. Karena itu
melalui peristiwa pembasuhan kaki para murid-Nya tersebut, Yesus memberikan
perintah baru. Isi perintah baru dari Yesus tersebut adalah: “Aku memberikan
perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku
telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi” (Yoh. 13:34).
Perintah Yesus tersebut disebut perintah yang baru sebab terdapat bagian yang
paling utama, yaitu: “….sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula
kamu harus saling mengasihi.” Para murid mendapat tugas untuk saling mengasihi
dengan dilandasi oleh sikap kasih Yesus yang dicurahkan kepada diri mereka.
Dimensi “kebaruan” dalam perintah Yesus tersebut terletak pada realitas kasih
Yesus yang sudah diberikan kepada para murid-Nya. Karena itu dimensi terdalam
dalam peristiwa perayaan hari Kamis Putih terletak pada “perintah baru” dari
Yesus. Perintah baru itulah yang diekspresikan melalui ibadah dengan tindakan
saling membasuh kaki di antara para murid dan dimanifestasikan sebagai spiritualitas
dalam kehidupan umat sehari-hari.
Tindakan Yesus membasuh kaki para murid-Nya bukanlah suatu momen
romantis dan sesaat saja secara emosional, tetapi merupakan suatu spiritualitas
yang menjadi pola kehidupan umat percaya. Sebagai suatu spiritualitas, maka
keteladanan yang telah Yesus lakukan seharusnya menjadi model dan bentuk
kerohanian yang signifikan sehingga menjiwai setiap pola
pikir-perasaan-kehendak setiap umat. Dengan demikian tindakan membasuh kaki di
antara umat bukan sekadar suatu ritualisme, namun suatu spiritualitas dalam
kehidupan sehari-hari. Karena itu yang utama adalah bagaimanakah umat
mempraktikkan makna membasuh kaki dalam kehidupan bersama sehingga
spiritualitas tersebut memampukan umat jauh dari sikap angkuh, merasa paling
penting, saling menguasai dan memanipulasi kekuasaan.
3.
Jumat
Agung
Merupakan bagian dari Tri Hari Suci. Jumat Agung adalah hari Jumat
sebelum Minggu Paskah, hari peringatan penyaliban Yesus Kristus dan wafat-Nya
di Golgota. Melalui kurban penebusan Kristus yang
menyerahkan nyawa melalui darah-Nya, kita mengalami pendamaian yang menyeluruh
dengan Allah. Sebab melalui kematian-Nya, Yesus telah membuka jalan yang baru
dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri. Karena itu
peristiwa kematian Yesus disebut sebagai Jumat Agung, sebab
dalam peristiwa Jumat Agung di Bukit Golgota Allah telah mendamaikan manusia
dengan penebusan Kristus, dan Kristus mengaruniakan jalan baru yaitu
keselamatan. Respons iman manusia terhadap karya penebusan dan pendamaian Allah
di dalam Kristus adalah sikap percaya kepada Kristus dengan menerima Dia
sebagai penebus dan penyelamat yang memulihkan kita dari kuasa dosa. Dengan
demikian setiap kita dipanggil untuk memberlakukan karya pendamaian Allah dalam
penebusan Kristus dengan berdamai dengan diri sendiri dan sesama serta lawan.
Makna kematian Kristus yang menyerahkan nyawa-Nya seharusnya memampukan umat
untuk mengalami rekonsiliasi yang menyeluruh sehingga mengalami proses
pembaruan. Rekonsiliasi akan terjadi apabila kita memandang dan memperlakukan
setiap sesama sebagai umat yang telah ditebus dan dikasihi Allah di dalam
penebusan Kristus. Dengan demikian sesama dengan segala keberadaannya yang unik
dan latar-belakang yang berbeda diterima secara utuh. Kita mengasihi sesama
sebagaimana layakya Kristus mengasihi mereka.
4.
Sabtu
Sunyi
Disebut juga Sabtu suci, Sabtu sepi yang merupakam juga bagian dari Tri Hari Suci.
Sabtu Sunyi merupakan hari terakhir dalam Pekan Suci dan masa Prapaskah. Ibadah
Hari Sabtu Suci memperingati pada saat tubuh Yesus Kristus dibaringkan di kubur
setelah mati disalibkan. Pada ibadah Sabtu Sunyi,
umat percaya menghayati masa transisi dari peristiwa kematian Yesus dan
kebangkitan-Nya. Dalam masa transisi tersebut mengandung dua aspek yang saling menyatu,
yaitu kedukaan dan harapan. Dimensi kedukaan adalah karena Yesus telah wafat di
atas kayu salib yang telah dirayakan pada Jumat Agung, dan dimensi harapan
karena Yesus akan bangkit dari kematian-Nya pada hari Paskah. Dalam ibadah
Sabtu Sunyi, dimensi kedukaan dan harapan dilabuhkan dalam sikap iman. Seraya
merenungkan makna kefanaan manusia di depan jenasah Yesus yang berada di dalam
makam, umat menghayati makna Sabtu Sunyi dengan keheningan dan sikap meditatif.
Ibadah Sabtu Sunyi disebut dengan “Sabat Kedua”
yang menggemakan ingatan umat akan karya Allah yang menciptakan langit, bumi
dan seisinya selama enam hari dan pada hari ketujuh Allah berhenti menguduskan.
Demikian pula pada Sabtu Sunyi, karya keselamatan Allah telah terjadi secara
sempurna dalam kematian Kristus sehingga pada hari “Sabat Kedua” jenasah
Kristus diam terkubur dalam perut bumi. Melalui kematian Kristus, Allah
menciptakan kehidupan baru yang tampak pada hari Paskah, yaitu kebangkitan
Kristus. Sabtu Sunyi juga disebut Sabbatum Sanctum,
yaitu Sabat yang kudus. Pada awal kekristenan, umat percaya merayakan dengan
khidmat Sabbatum Sanctum dan Paskah, sebab melalui Sabbatum Sanctum, umat mempersiapkan diri menyambut
misteri Paskah yaitu kebangkitan Kristus.
Dalam ibadah Sabtu Sunyi kita melakukan
perenungan yang sifatnya meditatif. Dalam perenungan menantikan kebangkitan
Kristus yang terjadi pada Paskah Subuh. Tema perenungan pada hari Jumat Agung
dan Sabtu Sunyi adalah karya keselamatan Allah yang telah terjadi dalam
penderitaan dan kematian Kristus. Hiasan di sekitar mimbar pada Sabtu Sunyi
biasanya memakai ranting-ranting kering, atau tanpa hiasan sama sekali. Ciri
utama selama Sabtu Sunyi adalah keheningan agar umat secara intensif berdoa,
membaca firman, dan merenungkan untuk menghayati makna kematian Kristus dan
menantikan kebangkitan Kristus dengan harapan iman. Keheningan berdoa dan
merefleksikan karya keselamatan Allah yang terjadi dalam kematian Kristus pada
Sabtu Sunyi paralel dengan perintah Allah kepada umat Israel untuk menguduskan
hari Sabat (Kel. 20:8-11). Melalui kematian Kristus, Allah mengingatkan kita
akan karya penciptaan yang baru, yaitu melalui penebusan-Nya di atas kayu
salib; Allah mengingatkan manusia akan karya penciptaan-Nya yang telah terjadi
selama enam hari lamanya. Keduanya merupakan tema yang hakiki dalam sejarah
kehidupan umat manusia. Allah telah berkarya dan menciptakan kehidupan namun
telah dirusak oleh dosa, dan di dalam Kristus Allah kembali menciptakan
kebaruan sehingga manusia hidup dalam anugerah-Nya. Perenungan pada Sabtu Sunyi
merupakan tindakan retreat agar
umat menemukan kembali sumber dan kekayaan rohaninya yang bersumber pada karya
keselamatan Allah di dalam inkarnasi dan penebusan Kristus.
Merayakan Triduum (Tri Hari Suci), yaitu: Kamis Putih,
Jumat Agung, Sabtu Sunyi, dan Paskah merupakan perayaan gerejawi yang
menjadi jantung keselamatan iman Kristen, karena melalui peristiwa-peristiwa
Kristus tersebut karya keselamatan Allah mencapai puncaknya. Karya keselamatan
Allah tersebut merupakan kebutuhan dan harapan manusia yang paling utama.
Karena itu perayaan Triduum bukanlah
suatu perayaan gerejawi yang terlepas dari konteks nyata kehidupan umat. Kita hidup di tengah-tengah budaya
kematian yang menyebarkan sengat maut dalam berbagai manifestasinya. Karena itu
melalui perenungan iman tentang kematian Kristus dan kebangkitan-Nya, kita akan
memperoleh kekuatan rohani sehingga memampukan kita untuk memaknai realita
hidup dengan perspektif harapan iman kepada Kristus yang telah bangkit. Tuhan
Yesus Kristus senantiasa memberkati kehidupan bergereja kita. Selamat
menyongsong Paskah. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar