Bacaan: Ibrani 10:16-23
Menjelang
kematianNya, Kristus tidak pernah berpusat perhatianNya kepada kepentingan diri
sendiri. Dia tidak pernah mengucapkan kata-kata yang kasar, ungkapan-ungkapan
kemarahan, kebencian dan kutukan sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang
disalib pada zaman itu. Sebaliknya perkataan-perkataan Kristus senantiasa penuh
dengan pengampunan, ucapan berkat dan penghiburan kepada orang-orang yang
berada di dekat salibNya. Dalam hal ini Kristus telah membuktikan diriNya
sebagai korban yang sangat sempurna di hadapan Allah dan manusia. Saat Dia akan
menghembuskan nafasNya yang terakhir, perkataan yang diucapkan oleh Tuhan Yesus
adalah “Sudah selesai”, lalu Dia wafat. Perkataan “sudah selesai” yang
diucapkan oleh Tuhan Yesus mau menyatakan bahwa seluruh hidupNya telah menjadi
korban yang sempurna di hadapan Allah. Dia telah berhasil menyelesaikan seluruh
karya Allah yang mendamaikan secara sempurna sampai pada akhirnya. Itu sebabnya
karya Kristus yang “sudah selesai” di atas kayu salib pada hakikatnya menunjuk
kepada tindakan yang bermakna menyelesaikan atau menyempurnakan secara lengkap.
Kematian
Kristus yang membuka suatu jalan yang baru bagi manusia dapat memberikan kepada
kita suatu harapan iman yang mengubah cara pandang di saat kita menghadapi
penderitaan, kepedihan, kegagalan. Pada saat yang demikian, kita merasa tidak
sanggup lagi menjalani pergumulan kehidupan ini. Saat itu hidup kita seperti
terkurung dalam api yang begitu menyiksa. Tetapi pada saat kita berada dalam
bayang-bayang maut, tiba-tiba kita dapat mendengar ucapan Tuhan Yesus saat Dia
akan menghembuskan nafasNya “Sudah selesai!” Apa yang terjadi dalam diri kita,
bukankah pada saat itu kita merasakan atau mengalami seluruh beban yang begitu
berat dan menindih kita, tiba-tiba dapat terangkat lepas? Ucapan Kristus tersebut
memberikan kepada kita suatu kekuatan yang luar biasa, sehingga kita dapat
menemukan suatu jalan yang baru di tengah-tengah berbagai persoalan hidup yang
menerpa kita. Beban pergumulan dan dosa atau kesalahan kita hanya dapat
terangkat lepas saat Kristus meneguhkan kita, bahwa kuasa maut pada hakikatnya
telah dipatahkan karena Dia telah menyelesaikan karya pendamaian di atas kayu
salib dengan sempurna.
Tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita senantiasa tergoda untuk menyelesaikan segala persoalan, kegagalan, dan dosa-dosa yang telah membelenggu dengan usaha dan kekuatan kita sendiri. Kematian Kristus membuka jalan yang baru bagi kita dan tidak pernah membuat diri kita hidup secara eksklusif. Karya Kristus yang mendamaikan tidak pernah mendorong kita untuk menjadi pribadi yang cinta diri dengan menutup relasi yang hangat dengan sesama. Sebaliknya karya Kristus yang mendamaikan dengan membuka jalan yang baru senantiasa mendorong kita untuk menghayati makna dan tujuan hidup kita yang baru dalam persekutuan jemaat. Karya Kristus yang mendamaikan di atas kayu salib bukan hanya mendamaikan diri kita dengan Allah, tetapi juga mendamaikan diri kita dengan setiap sesama kita, bahkan juga karya Kristus tersebut mendamaikan diri kita dengan diri sendiri sehingga kita dimampukan untuk menerima keberadaan orang lain. Tujuannya agar jalan yang baru dan yang hidup dari Kristus tersebut dapat kita nyatakan dan hadirkan dalam lingkup yang lebih luas, yaitu persekutuan demi persekutuan. Sehingga dalam setiap komunitas di mana kita hadir, senantiasa akan terjadi karya keselamatan Allah yang mendamaikan. Tugas ini tidak dapat kita elakkan karena sesungguhnya Kristus telah memanggil dan menetapkan kita untuk menjadi para hambaNya, yaitu kita dipanggil untuk mengkomunikasikan jalan yang baru dalam karyaNya kepada dunia di sekitar kita, agar keselamatan Allah dapat terwujud.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar