Sabtu, 29 Maret 2025

Sudah Selesai

Bacaan: Ibrani 10:16-23

 Kematian Yesus Kristus tidak berbeda jauh dengan kematian umat manusia lainnya. Kematian Yesus merupakan salah satu kematian yang tragis dan menyedihkan, tetapi makna dan pengaruh kematianNya tidaklah sama dengan kematian semua umat manusia. Peristiwa kematian Kristus sangatlah unik, mengandung misteri yang tidak terpecahkan, dan membawa pengaruh serta perubahan yang luar biasa bagi kehidupan umat manusia sepanjang abad. Tanpa melalui kematian Kristus di atas kayu salib, kita semua selaku umat manusia tidak mungkin dapat masuk ke dalam tempat kudus yaitu takhta Allah. Tepatnya tanpa melalui kematian Kristus, semua umat manusia tidak dapat memperoleh keselamatan dan hidup kekal di hadapan Allah. Mungkin tanpa kematian Kristus umat manusia tetap dapat beragama, memiliki keyakinan dan melakukan berbagai ibadah yang indah dan pengajaran yang berhikmat. Tetapi tanpa darah Kristus, dengan usaha dan berbagai jasa perbuatan baik yang dilakukan oleh manusia, sesungguhnya tidak mungkin benar di hadirat takhta Allah. Pengertian dosa dihayati sebagai suatu perlawanan atau pemberontakan terhadap diri Allah sendiri. Itu sebabnya hukuman atas dosa oleh Allah seharusnya berupa kematian. Perbuatan dosa tidak dapat dibayar dengan sekedar perbuatan baik, atau ibadah seseorang. Pendamaian atas perbuatan dosa hanya dapat dibayar dengan penumpahan darah. Jadi jelaslah alasan mengapa pencurahan darah Kristus mutlak diperlukan, karena hanya dengan darah Kristus sajalah yang memungkinkan umat yang percaya dapat masuk ke hadirat Allah dan berkenan kepadaNya. Darah Kristus yang ditumpahkan menjadi sangat sempurna untuk membuka jalan yang baru bagi kehidupan seluruh umat manusia. Sehingga melalui darah salib Kristus, kita telah diperdamaikan dengan Allah.

Menjelang kematianNya, Kristus tidak pernah berpusat perhatianNya kepada kepentingan diri sendiri. Dia tidak pernah mengucapkan kata-kata yang kasar, ungkapan-ungkapan kemarahan, kebencian dan kutukan sebagaimana dilakukan oleh orang-orang yang disalib pada zaman itu. Sebaliknya perkataan-perkataan Kristus senantiasa penuh dengan pengampunan, ucapan berkat dan penghiburan kepada orang-orang yang berada di dekat salibNya. Dalam hal ini Kristus telah membuktikan diriNya sebagai korban yang sangat sempurna di hadapan Allah dan manusia. Saat Dia akan menghembuskan nafasNya yang terakhir, perkataan yang diucapkan oleh Tuhan Yesus adalah “Sudah selesai”, lalu Dia wafat. Perkataan “sudah selesai” yang diucapkan oleh Tuhan Yesus mau menyatakan bahwa seluruh hidupNya telah menjadi korban yang sempurna di hadapan Allah. Dia telah berhasil menyelesaikan seluruh karya Allah yang mendamaikan secara sempurna sampai pada akhirnya. Itu sebabnya karya Kristus yang “sudah selesai” di atas kayu salib pada hakikatnya menunjuk kepada tindakan yang bermakna menyelesaikan atau menyempurnakan secara lengkap.

Kematian Kristus yang membuka suatu jalan yang baru bagi manusia dapat memberikan kepada kita suatu harapan iman yang mengubah cara pandang di saat kita menghadapi penderitaan, kepedihan, kegagalan. Pada saat yang demikian, kita merasa tidak sanggup lagi menjalani pergumulan kehidupan ini. Saat itu hidup kita seperti terkurung dalam api yang begitu menyiksa. Tetapi pada saat kita berada dalam bayang-bayang maut, tiba-tiba kita dapat mendengar ucapan Tuhan Yesus saat Dia akan menghembuskan nafasNya “Sudah selesai!” Apa yang terjadi dalam diri kita, bukankah pada saat itu kita merasakan atau mengalami seluruh beban yang begitu berat dan menindih kita, tiba-tiba dapat terangkat lepas? Ucapan Kristus tersebut memberikan kepada kita suatu kekuatan yang luar biasa, sehingga kita dapat menemukan suatu jalan yang baru di tengah-tengah berbagai persoalan hidup yang menerpa kita. Beban pergumulan dan dosa atau kesalahan kita hanya dapat terangkat lepas saat Kristus meneguhkan kita, bahwa kuasa maut pada hakikatnya telah dipatahkan karena Dia telah menyelesaikan karya pendamaian di atas kayu salib dengan sempurna.

Tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita senantiasa tergoda untuk menyelesaikan segala persoalan, kegagalan, dan dosa-dosa yang telah membelenggu dengan usaha dan kekuatan kita sendiri. Kematian Kristus membuka jalan yang baru bagi kita dan tidak pernah membuat diri kita hidup secara eksklusif. Karya Kristus yang mendamaikan tidak pernah mendorong kita untuk menjadi pribadi yang cinta diri dengan menutup relasi yang hangat dengan sesama. Sebaliknya karya Kristus yang mendamaikan dengan membuka jalan yang baru senantiasa mendorong kita untuk menghayati makna dan tujuan hidup kita yang baru dalam persekutuan jemaat. Karya Kristus yang mendamaikan di atas kayu salib bukan hanya mendamaikan diri kita dengan Allah, tetapi juga mendamaikan diri kita dengan setiap sesama kita, bahkan juga karya Kristus tersebut mendamaikan diri kita dengan diri sendiri sehingga kita dimampukan untuk menerima keberadaan orang lain. Tujuannya agar jalan yang baru dan yang hidup dari Kristus tersebut dapat kita nyatakan dan hadirkan dalam lingkup yang lebih luas, yaitu persekutuan demi persekutuan. Sehingga dalam setiap komunitas di mana kita hadir, senantiasa akan terjadi karya keselamatan Allah yang mendamaikan. Tugas ini tidak dapat kita elakkan karena sesungguhnya Kristus telah memanggil dan menetapkan kita untuk menjadi para hambaNya, yaitu kita dipanggil untuk mengkomunikasikan jalan yang baru dalam karyaNya kepada dunia di sekitar kita, agar keselamatan Allah dapat terwujud. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar