Kamis, 23 Mei 2013
BAHAN PA BULAN APRIL 2013
BACAAN : WAHYU 21: 1-4, 22: 1-5
SORGA (HAL KERAJAAN ALLAH)
Sorga atau Kerajaan Sorga adalah kehidupan kekal yang dijanjikan Yesus kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Istilah sorga dipakai oleh penulis Alkitab menunjuk pada tempat yang kudus di mana Allah saat ini berada. Kehidupan kekal, ciptaan yang sempurna, tempat dimana Allah menghendaki untuk tinggal secara permanen dengan umat-Nya (Wahyu 21:3). Tidak akan ada lagi pemisahan antara Allah dan manusia. Orang-orang beriman sendiri akan hidup dengan kemuliaan, dibangkitkan dengan tubuh yang baru; tidak akan ada penyakit, tidak ada kematian dan tidak ada air mata.
Kerajaan Allah adalah sebuah konsep yang berakar di dalam Perjanjian Lama, yang kemudian ditekankan oleh Yohanes Pembaptis dan Yesus Kristus dalam zaman Perjanjian Baru. Di dalam Perjanjian Lama, ada beberapa nas yang berbicara mengenai perkataan yang searti dengan Kerajaan atau pemerintahan Allah (dalam bahasa Yunani: Basileia) yaitu: Mazmur 103:19, Daniel 4:3. Di beberapa bagian Alkitab lainnya, Allah juga disapa sebagai Raja, terutama di dalam kitab Mazmur dan Nabi-nabi. Di dalam konsep tersebut ada aspek ke-akan-an atau aspek sorgawi, dan juga ada aspek duniawi atau aspek ke-kini-an.
Bertolak dari kesaksian alkitab, sorga sesungguhnya merupakan terminologi manusiawi yang terutama mengungkapkan kualitas kondisi relasional dengan Allah. Lebih daripada menunjuk suatu tempat, sorga melukiskan suatu kondisi di mana manusia berada dalam relasi dengan Allah secara benar. Sorga tidak terikat dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, tetapi sebaliknya justru mengatasi dimensi ruang dan waktu.
Dalam alkitab juga terungkap 3 makna “sorga” yang memiliki pengertian yang berbeda :
1. Berhubungan dengan kosmos (menunjuk pada langit dan bumi).
2. Digunakan sebagai sinonim untuk menunjuk Allah sendiri.
3. Adalah tempat di mana Allah berada.
Memang sering dipahami sorga adalah suatu tempat yang sangat menyenangkan, suatu tempat di mana hal-hal yang paling kita inginkan terpenuhi. Namun hal yang paling mendasar mengenai sorga dikarakteristikan sebagai kehadiran Allah, dan dari kehadiranNya itu segala berkat terpenuhi. ”Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada” (Yohanes 14:2-3).
Seperti bangsa Israel yang mencapai tanah perjanjian, demikian juga orang Kristen mengakiri “pengembaraannya” di sorga. Akhir dari perjuangan melawan daging, dunia yang penuh kejahatan, di sorga orang-orang percaya akan menyembah, memuji dan menikmati hadirat Tuhan secara penuh.
REFLEKSI DIRI:
1. Sudahkah relasi dengan Allah terbangun dan terpelihara dalam hidup kita?
2. Sorga pada hakekatnya adalah mengalami kehadiran Allah. Apa yang harus kita lakukan di bumi, ketika kita merindukan sorga?
BAHAN PA BULAN MEI 2013
BACAAN : Keluaran 35: 4-21, Efesus 5: 2
PERSEMBAHAN YANG BENAR DIMATA TUHAN
Banyak pertanyaan tentang bagaimana “Persembahan” yang benar kepada Tuhan. Untuk menggumuli pertanyaan tersebut, berikut ini akan disampaikan beberapa kesaksian Alkitab tentang persembahan.
Perjanjian Lama:
• “Hak prerogatif/ istimewa” Allah. Pada hakekatnya penilai sejati tentang persembahan kita hanya Tuhan. (cerita Kain dan Habil).
• Persembahan tidak hanya ditujukan kepada Tuhan, tetapi juga kepada sesama manusia (Kejadian 43:11-15 dan Yehezkiel 45: 16).
• Persembahan khusus dari setiap orang yang tergerak hatinya untuk membantu terpenuhinya kebutuhan bagi rumah Tuhan. (Keluaran 35:21)
• Persembahan pendamaian yaitu persembahan untuk “menebus” pelanggaran yang mereka lakukan dalam hidup. (Keluaran 30: 20-21)
• Menyerahkan beberapa persembahan sekaligus, yaitu persembahan persepuluhan, persembahan khusus, dan persembahan korban bakaran. (Perhatikan Keluaran 12: 11).
Perjanjian Baru:
• Simbol rasa hormat dan kerinduan untuk memuliakan Tuhan. (Matius 2:11)
• Kesediaan seseorang untuk bertobat. (Matius 9:13)
• Rasul Paulus menghayati persembahan bukan hanya uang atau benda, tetapi seluruh hidup. (Roma 12:1)
• Di Perjanjian Baru kesetiaan dan kepatuhan orang percaya kepada Tuhan-nya tidak lagi ditandai oleh besar kecilnya persembahan, tetapi oleh cara hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai kerajaan Allah, yaitu: kasih, keadilan, kebenaran, suka cita, damai sejahtera. (Matius 23:23, Lukas 11:42, 1 Petrus 2:5)
Dari beberapa kesaksian diatas, setidaknya kita bisa memahami arti dan makna persembahan sebagai berikut:
• Persembahan yang kita lakukan saat ini bukan lagi sebagai “korban” baik untuk penebusan dosa atau sebagai “alat” untuk mendapatkan berkat dari Tuhan. Tuhan Yesus dengan karya penebusanNya telah memperbaharui secara mendasar makna persembahan. Jangankan sepersepuluh, mempersembahkan sepertiga atau setengah dari yang kita miliki pun tidak akan cukup untuk mensyukuri kebaikan Tuhan. Oleh karena itu Tuhan Yesus tidak pernah menyinggung soal jumlah dalam hal persembahan.
• Persembahan sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan yang Tuhan berikan kepada kita. Hal yang paling utama dalam persembahan adalah hati yang bersyukur. Persembahan juga sebagai wujud nyata pengakuan kita bahwa tanpa berkat Tuhan kita tidak bisa apa-apa.
• Persembahan sebagai wujud nyata kesediaan kita untuk turut menopang pekerjaan Tuhan di dunia ini.
• Persembahan sebagai wujud nyata kesediaan kita untuk tidak membiarkan uang dan harta benda menguasai hidup kita, dengan cara mau mengurangi uang atau harta benda yang ada pada diri kita untuk kebutuhan pelayanan.
Bagaimana dengan beberapa pergumulan kita tentang Persembahan sepersepuluh, salah atau benarkah?
Mestinya tidak perlu diperdebatkan, tetapi dipahami sebagai berikut bahwa menyerahkan Persembahan sepersepuluh dari penghasilan itu boleh bahkan amat baik kita lakukan, asal dengan motivasi yang baik, yaitu: a) untuk mengucap syukur secara teratur atas kasih dan berkat keselamatan dari Tuhan yesus Kristus; b) untuk melatih diri agar kerohanian kita semakin baik dan tidak menempatkan harta-uang sebagai yang utama dalam hidup (mengikis sifat egoisme – materialisme). c) tidak menjadikan angka sepersepuluh sebagai hukum mutlak!
Namun demikian menyerahkan persembahan sepersepuluh dari penghasilan bisa saja salah kalau motivasinya tidak benar, misalnya: a) menganggap itu sebagai persembahan yang paling benar; b) ditujukan untuk mendapatkan berkat berlimpah; c) takut kalau tidak memperoleh berkat! Kalau ini yang terjadi, maka sebenarnya persembahan itu arahnya kepada diri sendiri, bukan kepada Tuhan.
Selamat mempersembahkan kepada Tuhan yang terbaik.
Kamis, 07 Juli 2011
Toleransi
TOLERANSI
ROMA 15 : 1-13
I. Pengantar
Toleransi berarti mampu memaafkan dan dapat menerima dengan tulus perbedaan yang ada dalam kehidupan, baik perbedaan pendapat, ras, adat-istiadat maupun agama. Jadi orang yang memiliki toleransi tidak akan memaksakan kehendak dan mampu menerima apa yang benar itu dengan tulus.
Toleransi juga berarti menjaga temperamen kita sebaik-baiknya. Apa yang diperoleh melalui keributan adalah permusuhan yang tidak akan memberikan kedamaian hidup. Ingatlah bahwa setiap orang itu memiliki harga diri dan rasa terhormat, jadi dalam keadaan dan kedudukan apapun hormatilah perasaan dan harga diri orang lain, siapapun dia. Orang yang mampu manghargai dan menghormati orang lain adalah orang yang terhormat.
Beberapa contoh langkah kehidupan yang penuh toleransi diantaranya adalah :
- Berbuat banyak kebaikan dengan tulus sebagai wujud dari kasih sayang terhadap sesama.
- Tidak menghujat agama orang lain, karena semua adalah ciptaan Tuhan.
- Tidak suka iri hati, membenci dan mendedam terhadap keberhasilan orang lain.
- Memiliki pikiran yang jernih terhadap kehidupan ini dengan cara melihat dunia kehidupan dari sudut yang cerah dan menyenangkan.
- Bersikap selalu rendah hati dan ramah.
- Apapun keadaannya “jangan suka mengejek apalagi keterlaluan”.
II. Penerapan Pengajaran Kristus
Perikop 15:1-13 menyimpulkan diskusi tentang orang yang kuat dan tidak kuat yang merupakan contoh nyata tentang kasih sebagai penghayatan Injil.
Kita mencari kesenangan sesama demi kebaikan untuk membangunnya. Menyenangkan di sini tidak berarti asal senang. Sehingga jemaat tidak dibiarkan dalam keegoisannya. Kita bergaul dan berupaya untuk mengoreksi dengan sabar dalam kasih.
Kristus sendiri rela menanggung penderitaan, yang tentu Dia lakukan bukan untuk kesenangan diri melainkan untuk kita. Kerukunan akibat saling menerima demi kesatuan dalam memuliakan Allah. Ringkasnya bahwa teladan Kristus dan FirmanNya mendorong kita untuk rela berkorban, dan kita diharapkan untuk memuliakan Allah bersama-sama.
Paulus menjelaskan bagaimana Kristus menerima kita. Kristus datang untuk mengokohkan janji-janji Allah kepada Israel, dan juga supaya bangsa-bangsa memuliakan Allah. Penerimaan dalam Kristus yang membawa pengharapan bagi bangsa-bangsa. Firman Tuhan kembali membawa kita ke soal pengharapan. Kesimpulan Paulus mengaitkan iman sebagai dasar, sukacita dan damai sejahtera sebagai suasana, dan Roh Kudus sebagai kuasa, dengan pengharapan. Ternyata pengharapan bukan sesuatu yang dimiliki seorang diri. Penerimaan sesama yang lemah mencerminkan penerimaan Allah yang mendasari pengharapan dan juga membangun kesatuan yang menopang pengharapan.
Amin
ROMA 15 : 1-13
I. Pengantar
Toleransi berarti mampu memaafkan dan dapat menerima dengan tulus perbedaan yang ada dalam kehidupan, baik perbedaan pendapat, ras, adat-istiadat maupun agama. Jadi orang yang memiliki toleransi tidak akan memaksakan kehendak dan mampu menerima apa yang benar itu dengan tulus.
Toleransi juga berarti menjaga temperamen kita sebaik-baiknya. Apa yang diperoleh melalui keributan adalah permusuhan yang tidak akan memberikan kedamaian hidup. Ingatlah bahwa setiap orang itu memiliki harga diri dan rasa terhormat, jadi dalam keadaan dan kedudukan apapun hormatilah perasaan dan harga diri orang lain, siapapun dia. Orang yang mampu manghargai dan menghormati orang lain adalah orang yang terhormat.
Beberapa contoh langkah kehidupan yang penuh toleransi diantaranya adalah :
- Berbuat banyak kebaikan dengan tulus sebagai wujud dari kasih sayang terhadap sesama.
- Tidak menghujat agama orang lain, karena semua adalah ciptaan Tuhan.
- Tidak suka iri hati, membenci dan mendedam terhadap keberhasilan orang lain.
- Memiliki pikiran yang jernih terhadap kehidupan ini dengan cara melihat dunia kehidupan dari sudut yang cerah dan menyenangkan.
- Bersikap selalu rendah hati dan ramah.
- Apapun keadaannya “jangan suka mengejek apalagi keterlaluan”.
II. Penerapan Pengajaran Kristus
Perikop 15:1-13 menyimpulkan diskusi tentang orang yang kuat dan tidak kuat yang merupakan contoh nyata tentang kasih sebagai penghayatan Injil.
Kita mencari kesenangan sesama demi kebaikan untuk membangunnya. Menyenangkan di sini tidak berarti asal senang. Sehingga jemaat tidak dibiarkan dalam keegoisannya. Kita bergaul dan berupaya untuk mengoreksi dengan sabar dalam kasih.
Kristus sendiri rela menanggung penderitaan, yang tentu Dia lakukan bukan untuk kesenangan diri melainkan untuk kita. Kerukunan akibat saling menerima demi kesatuan dalam memuliakan Allah. Ringkasnya bahwa teladan Kristus dan FirmanNya mendorong kita untuk rela berkorban, dan kita diharapkan untuk memuliakan Allah bersama-sama.
Paulus menjelaskan bagaimana Kristus menerima kita. Kristus datang untuk mengokohkan janji-janji Allah kepada Israel, dan juga supaya bangsa-bangsa memuliakan Allah. Penerimaan dalam Kristus yang membawa pengharapan bagi bangsa-bangsa. Firman Tuhan kembali membawa kita ke soal pengharapan. Kesimpulan Paulus mengaitkan iman sebagai dasar, sukacita dan damai sejahtera sebagai suasana, dan Roh Kudus sebagai kuasa, dengan pengharapan. Ternyata pengharapan bukan sesuatu yang dimiliki seorang diri. Penerimaan sesama yang lemah mencerminkan penerimaan Allah yang mendasari pengharapan dan juga membangun kesatuan yang menopang pengharapan.
Amin
Gereja Yang Berbuah
Gereja yang “berbuah”
Bacaan :Markus 11:12-18
Dalam bagian bacaan ini ada dua kejadian yang berkaitan.
1. Pengutukan pohon ara oleh Yesus.
2. Ketidaksetujuan Yesus terhadap apa yang terjadi di bait Allah.
Dalam alkitab kita mengenal Pohon ara yang ditampilkan dari zaman ke zaman,yaitu:
1. Zaman permulaan (Adam sampai Abraham)
2. Zaman pertengahan (Abraham sampai kedatangan Yesus I): Markus 11:12-26).
3. Zaman akhir (Kedatangan Yesus yang pertama s.d kedatangan Yesus yang kedua ): Matius 24:32-36.
Buah ara menjadi sumber makanan tambahan yang populer di Israel karena harganya tidak mahal. Jangka waktu semenjak ditanam sampai berbuah bagi pohon ara adalah 3 tahun. Setiap pohon menghasilkan buah paling banyak sebanyak 2 kali setahun, yaitu pada akhir musim semi dan di awal musim gugur. Peristiwa dalam cerita ini terjadi di awal musim semi, saat pohon ara mengeluarkan daunnya. Biasanya buah ara akan muncul beriringan dengan munculnya daun-daun. Tetapi pohon yang dijumpai Yesus, meskipun daunnya banyak tidak ada buahnya. Pohon itu kelihatannya menjanjikan tetapi tidak memberi buah.
Jadi pohon ara yang disebutkan dalam bacaan ini adalah tentang pohon ara yang mandul. Dan tentu saja pertanyaan yang muncul adalah, apa arti pohon ara ini? Apa yang mau disampaikan oleh Tuhan Yesus melalui peristiwa ini?
Hal pertama yang perlu diingat adalah bahwa cerita ini berbicara tentang gereja, yaitu tentang kita sebagai bagian pelayan Tuhan. Tuhan sedang berbicara langsung mengenai kita, orang Kristen. Dan pokok kedua adalah bahwa sekalipun ada pembela bagi kita, akan tetapi waktunya sangat singkat.
Kata-kata keras Yesus pada pohon ara itu, sebenarnya merujuk juga kepada Israel waktu itu. Hanya kelihatan “luarnya” saja menjanjikan secara rohani sebagai bangsa yang taat kepada Tuhan, tetapi di dalamnya “mandul”. Yesus mengutuk pohon ara itu, mungkin dalam kondisi “marah”. Ia mengutuk atau “marah” tetapi tidak berdosa. Yang dilakukan Yesus karena adanya kenyataan atas ketidakadilan, dan bukan hanya karena kepentingan sendiri.
Peristiwa yang kedua dalam bacaan ini adalah ketika Yesus melihat kenyataan akan kondisi Bait Allah. Bait Allah semestinya menjadi tempat untuk berbakti kepada Allah, tetapi yang terjadi tidak demikian. Begitu juga dengan pohon ara, seharusnya berbuah tetapi tidak menghasilkan. Disinilah Yesus menunjukkan ketidaknyamananNya kepada kehidupan beragama yang tidak memiliki makna atau arti bagi kehadiran harapan, dan kemuliaan Allah demi lahirnya martabat manusia.
Penukaran uang dan penjualan untuk keperluan persembahan bagi umat yang datang ke bait Allah ramai pada saat menjelang Paskah Yahudi. Mereka yang datang dari tempat yang jauh harus menukarkan mata uang mereka karena hanya mata uang bait Allah-lah yang laku untuk pajak bait suci dan membeli hewan kurban. Kadang nilai mata uang yang tinggi menguntungkan bagi para penyedia jasa penukaran uang, begitu juga penjualan hewan yang melonjak tinggi bagi para penjual hewan kurban.
Banyak kios yang ada di pelataran untuk orang-orang asing (non-Yahudi), yang menyebabkan orang-orang bukan keturunan Yahudi tidak mudah untuk beribadah di bait Allah karena kegiatan ekonomi itu. Kembali disini Yesus menampakkan ketidak nyamananNya dengan “marah” karena bait Allah menjadi tidak ramah menyambut dengan hangat lagi kepada orang yang mau datang kepada Allah.
Beberapa hal sebagai catatan alasan mengapa Yesus “marah” adalah disebabkan karena:
1. Ketika “gereja Tuhan” dijadikan tempat untuk “bisnis rohani”
2. Ketika “gereja Tuhan” telah kehilangan keintiman dengan Tuhan, kehilangan hubungan atau relasi dengan Tuhan, sehingga tidak tahu apa yang Tuhan kehendaki dan melakukan apa yang “mereka” mau.
3. Ketika “gereja Tuhan” penuh kedengkian dan memandang muka.
4. Ketika “gereja Tuhan” menghalangi orang belum percaya datang padaNya atau tidak menjadi terang dan garam dunia malah kompromi dengan dunia.
5. Ketika “gereja Tuhan” kehilangan cinta yang mula-mula pada Tuhan.
Seperti bait Allah, tidak ada gereja yang sempurna. Gereja membutuhkan pembaharuan. Begitu juga tatanan kehidupan kita: keluarga, lingkungan kerja dan masyarakat kita. Apa yang akan kita lakukan untuk menjadikan komunitas kita menjadi tempat yang lebih baik? Lalu bagaimana kita mengekspresikan ketidaknyamanan atau “kemarahan” kita selama ini? Pernahkah kita “marah”(baca:berontak)untuk menegakkan apa yang adil dan benar?
Gereja haruslah fokus kepada Allah dan bukan keinginan kita, sebab Allah dapat melakukan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin. Bahkan makna fokus kepada Allah juga berarti damai sejahtera tetap akan menjadi milik kita pada saat Allah menjawab “tidak” terhadap segala permohonan kita.
Pohon ara adalah pohon yang cukup besar dan kuat dan membutuhkan banyak sumber makanan. Inilah hal utama dari cerita ini, yaitu bahwa pohon ini hanya tahu mengambil dan tidak memberikan apa-apa. Ia menghisap segalanya, seperti kebanyakan orang yang menghisap atau menyerap segalanya namun tidak pernah memberi apa-apa.
Peringatan yang diberikan kepada kita adalah jika kita termasuk gereja atau orang Kristen yang semacam ini, kita hanya mengumpulkan dan menerima saja segala kekayaan rohani tanpa pernah menghasilkan apa-apa, waspadalah, karena toleransi dari Allah ada batasnya, waktunya sangat singkat.
Kita akan masuk dalam Perjamuan Kudus Pembangunan GKJW, kembali kita diingatkan sebagai teman sekerja Allah merefleksi diri untuk mewujudkan “Gereja yang berbuah”
Amin.
Waru, 5 Juli 2011-gi yohdik
Bacaan :Markus 11:12-18
Dalam bagian bacaan ini ada dua kejadian yang berkaitan.
1. Pengutukan pohon ara oleh Yesus.
2. Ketidaksetujuan Yesus terhadap apa yang terjadi di bait Allah.
Dalam alkitab kita mengenal Pohon ara yang ditampilkan dari zaman ke zaman,yaitu:
1. Zaman permulaan (Adam sampai Abraham)
2. Zaman pertengahan (Abraham sampai kedatangan Yesus I): Markus 11:12-26).
3. Zaman akhir (Kedatangan Yesus yang pertama s.d kedatangan Yesus yang kedua ): Matius 24:32-36.
Buah ara menjadi sumber makanan tambahan yang populer di Israel karena harganya tidak mahal. Jangka waktu semenjak ditanam sampai berbuah bagi pohon ara adalah 3 tahun. Setiap pohon menghasilkan buah paling banyak sebanyak 2 kali setahun, yaitu pada akhir musim semi dan di awal musim gugur. Peristiwa dalam cerita ini terjadi di awal musim semi, saat pohon ara mengeluarkan daunnya. Biasanya buah ara akan muncul beriringan dengan munculnya daun-daun. Tetapi pohon yang dijumpai Yesus, meskipun daunnya banyak tidak ada buahnya. Pohon itu kelihatannya menjanjikan tetapi tidak memberi buah.
Jadi pohon ara yang disebutkan dalam bacaan ini adalah tentang pohon ara yang mandul. Dan tentu saja pertanyaan yang muncul adalah, apa arti pohon ara ini? Apa yang mau disampaikan oleh Tuhan Yesus melalui peristiwa ini?
Hal pertama yang perlu diingat adalah bahwa cerita ini berbicara tentang gereja, yaitu tentang kita sebagai bagian pelayan Tuhan. Tuhan sedang berbicara langsung mengenai kita, orang Kristen. Dan pokok kedua adalah bahwa sekalipun ada pembela bagi kita, akan tetapi waktunya sangat singkat.
Kata-kata keras Yesus pada pohon ara itu, sebenarnya merujuk juga kepada Israel waktu itu. Hanya kelihatan “luarnya” saja menjanjikan secara rohani sebagai bangsa yang taat kepada Tuhan, tetapi di dalamnya “mandul”. Yesus mengutuk pohon ara itu, mungkin dalam kondisi “marah”. Ia mengutuk atau “marah” tetapi tidak berdosa. Yang dilakukan Yesus karena adanya kenyataan atas ketidakadilan, dan bukan hanya karena kepentingan sendiri.
Peristiwa yang kedua dalam bacaan ini adalah ketika Yesus melihat kenyataan akan kondisi Bait Allah. Bait Allah semestinya menjadi tempat untuk berbakti kepada Allah, tetapi yang terjadi tidak demikian. Begitu juga dengan pohon ara, seharusnya berbuah tetapi tidak menghasilkan. Disinilah Yesus menunjukkan ketidaknyamananNya kepada kehidupan beragama yang tidak memiliki makna atau arti bagi kehadiran harapan, dan kemuliaan Allah demi lahirnya martabat manusia.
Penukaran uang dan penjualan untuk keperluan persembahan bagi umat yang datang ke bait Allah ramai pada saat menjelang Paskah Yahudi. Mereka yang datang dari tempat yang jauh harus menukarkan mata uang mereka karena hanya mata uang bait Allah-lah yang laku untuk pajak bait suci dan membeli hewan kurban. Kadang nilai mata uang yang tinggi menguntungkan bagi para penyedia jasa penukaran uang, begitu juga penjualan hewan yang melonjak tinggi bagi para penjual hewan kurban.
Banyak kios yang ada di pelataran untuk orang-orang asing (non-Yahudi), yang menyebabkan orang-orang bukan keturunan Yahudi tidak mudah untuk beribadah di bait Allah karena kegiatan ekonomi itu. Kembali disini Yesus menampakkan ketidak nyamananNya dengan “marah” karena bait Allah menjadi tidak ramah menyambut dengan hangat lagi kepada orang yang mau datang kepada Allah.
Beberapa hal sebagai catatan alasan mengapa Yesus “marah” adalah disebabkan karena:
1. Ketika “gereja Tuhan” dijadikan tempat untuk “bisnis rohani”
2. Ketika “gereja Tuhan” telah kehilangan keintiman dengan Tuhan, kehilangan hubungan atau relasi dengan Tuhan, sehingga tidak tahu apa yang Tuhan kehendaki dan melakukan apa yang “mereka” mau.
3. Ketika “gereja Tuhan” penuh kedengkian dan memandang muka.
4. Ketika “gereja Tuhan” menghalangi orang belum percaya datang padaNya atau tidak menjadi terang dan garam dunia malah kompromi dengan dunia.
5. Ketika “gereja Tuhan” kehilangan cinta yang mula-mula pada Tuhan.
Seperti bait Allah, tidak ada gereja yang sempurna. Gereja membutuhkan pembaharuan. Begitu juga tatanan kehidupan kita: keluarga, lingkungan kerja dan masyarakat kita. Apa yang akan kita lakukan untuk menjadikan komunitas kita menjadi tempat yang lebih baik? Lalu bagaimana kita mengekspresikan ketidaknyamanan atau “kemarahan” kita selama ini? Pernahkah kita “marah”(baca:berontak)untuk menegakkan apa yang adil dan benar?
Gereja haruslah fokus kepada Allah dan bukan keinginan kita, sebab Allah dapat melakukan apa yang tidak mungkin menjadi mungkin. Bahkan makna fokus kepada Allah juga berarti damai sejahtera tetap akan menjadi milik kita pada saat Allah menjawab “tidak” terhadap segala permohonan kita.
Pohon ara adalah pohon yang cukup besar dan kuat dan membutuhkan banyak sumber makanan. Inilah hal utama dari cerita ini, yaitu bahwa pohon ini hanya tahu mengambil dan tidak memberikan apa-apa. Ia menghisap segalanya, seperti kebanyakan orang yang menghisap atau menyerap segalanya namun tidak pernah memberi apa-apa.
Peringatan yang diberikan kepada kita adalah jika kita termasuk gereja atau orang Kristen yang semacam ini, kita hanya mengumpulkan dan menerima saja segala kekayaan rohani tanpa pernah menghasilkan apa-apa, waspadalah, karena toleransi dari Allah ada batasnya, waktunya sangat singkat.
Kita akan masuk dalam Perjamuan Kudus Pembangunan GKJW, kembali kita diingatkan sebagai teman sekerja Allah merefleksi diri untuk mewujudkan “Gereja yang berbuah”
Amin.
Waru, 5 Juli 2011-gi yohdik
Senin, 06 Desember 2010
Ringkasan Khotbah
IBADAH MINGGU
21 NOPEMBER 2010
FIRMAN PENGANTAR
AMSAL 3: 5
PENGAKUAN DOSA
MAZMUR 51:3-9
BERITA ANUGERAH
AMSAL 5 : 1-2
BACAAN ALKITAB
2 SAMUEL 5 : 1-3
KOLOSE 1 : 15-20
LUKAS 23: 35-43
RAJA DAUD
Tidak pernah membanggakan diri, mempersilahkan Tuhan berkarya sesuai dengan kehendak dan kemuliaanNya
RASUL PAULUS
Yesus sebagai yang mulia dan berkuasa serta yang utama sehingga Jemaat Kolose sadar dan menempatkan diri dibawah kuasa Allah.
Fokus utama Bacaan 3: adalah makna gelar “Kristus sebagai Raja”
Makna motif utama tulisan dari Pontius Pilatus di atas kayu salib ?
• Sesungguhnya tulisan diatas kayu salib itu mengandung suatu ejekan atau suatu bentuk hinaan pemerintah Romawi untuk mempermalukan Tuhan Yesus serta orang-orang Yahudi.
PERBEDAAN PENGAKUAN
JENDRAL ROMAWI : Disambut dengan meriah dan dielu-elukan.
YESUS KRISTUS : Disambut dengan ejekan dan hinaan.
• “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diriMu dan kami!” (Luk. 23:39).
• “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah” (Luk. 23:40-41).
Melihat Dengan Mata Iman
• Pengakuan imannya meluncur dari lubuk hatinya yang hancur
• Mengingat secara sadar akan kesalahan dan dosa yang pernah dibuat selama hidupnya.
• Jadi pengakuan penjahat pada hakikatnya merupakan suatu pengakuan dan permohonan agar Tuhan Yesus berkenan mau mengasihani dan mengampuni dia, sehingga dia dapat diselamatkan oleh rahmatNya.
“Sungguh, orang ini adalah orang benar” (Luk. 23:47).
Kepala pasukan
Mengakui Yesus sebagai Raja dan orang benar.
• Ketika melihat secara langsung penderitaanNya yang sangat hina dan kematianNya yang tragis.
• Tidak terpengaruh oleh pemahaman dan tradisi bangsa Romawi.
• Dengan mata iman, melihat kemuliaan Kristus di saat Dia menghadapi kematian yang begitu hina.
Dengan demikian penjahat di sebelah salib Kristus dan kepala pasukan Romawi itu memiliki pengakuan iman yang melampaui keterbatasan jasmaniah.
Mereka mampu melihat cahaya kemuliaan dan kekuasaan Tuhan Yesus sebagai Raja justru ketika Tuhan Yesus berada dalam situasi yang paling hina dan batas akhir kehidupan dianggap paling tragis.
Belajar dari sikap iman Penjahat Kepala pasukan Romawi
• Menemukan rahasia iman kepada Kristus yang adalah Raja justru ketika kita berada dalam situasi yang paling buruk, gagal, sangat menyedihkan dan tragis.
• Dalam kondisi yang demikian kita sama sekali tidak melihat “titik terang” kemuliaan Kristus sebagai Raja dan Juru-selamat dalam kehidupan kita.
Bagaimana dengan kita?
• Bagaimana sikap kita ketika kita berada dalam situasi yang sangat buruk, pahit dan menyedihkan?
• Apakah kita juga mau dengan hati yang tulus dan penuh kasih memuliakan Kristus sebagai Raja justru ketika kita mengalami kesedihan, kegagalan dan penderitaan yang sangat berat?
21 NOPEMBER 2010
FIRMAN PENGANTAR
AMSAL 3: 5
PENGAKUAN DOSA
MAZMUR 51:3-9
BERITA ANUGERAH
AMSAL 5 : 1-2
BACAAN ALKITAB
2 SAMUEL 5 : 1-3
KOLOSE 1 : 15-20
LUKAS 23: 35-43
RAJA DAUD
Tidak pernah membanggakan diri, mempersilahkan Tuhan berkarya sesuai dengan kehendak dan kemuliaanNya
RASUL PAULUS
Yesus sebagai yang mulia dan berkuasa serta yang utama sehingga Jemaat Kolose sadar dan menempatkan diri dibawah kuasa Allah.
Fokus utama Bacaan 3: adalah makna gelar “Kristus sebagai Raja”
Makna motif utama tulisan dari Pontius Pilatus di atas kayu salib ?
• Sesungguhnya tulisan diatas kayu salib itu mengandung suatu ejekan atau suatu bentuk hinaan pemerintah Romawi untuk mempermalukan Tuhan Yesus serta orang-orang Yahudi.
PERBEDAAN PENGAKUAN
JENDRAL ROMAWI : Disambut dengan meriah dan dielu-elukan.
YESUS KRISTUS : Disambut dengan ejekan dan hinaan.
• “Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diriMu dan kami!” (Luk. 23:39).
• “Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama? Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah” (Luk. 23:40-41).
Melihat Dengan Mata Iman
• Pengakuan imannya meluncur dari lubuk hatinya yang hancur
• Mengingat secara sadar akan kesalahan dan dosa yang pernah dibuat selama hidupnya.
• Jadi pengakuan penjahat pada hakikatnya merupakan suatu pengakuan dan permohonan agar Tuhan Yesus berkenan mau mengasihani dan mengampuni dia, sehingga dia dapat diselamatkan oleh rahmatNya.
“Sungguh, orang ini adalah orang benar” (Luk. 23:47).
Kepala pasukan
Mengakui Yesus sebagai Raja dan orang benar.
• Ketika melihat secara langsung penderitaanNya yang sangat hina dan kematianNya yang tragis.
• Tidak terpengaruh oleh pemahaman dan tradisi bangsa Romawi.
• Dengan mata iman, melihat kemuliaan Kristus di saat Dia menghadapi kematian yang begitu hina.
Dengan demikian penjahat di sebelah salib Kristus dan kepala pasukan Romawi itu memiliki pengakuan iman yang melampaui keterbatasan jasmaniah.
Mereka mampu melihat cahaya kemuliaan dan kekuasaan Tuhan Yesus sebagai Raja justru ketika Tuhan Yesus berada dalam situasi yang paling hina dan batas akhir kehidupan dianggap paling tragis.
Belajar dari sikap iman Penjahat Kepala pasukan Romawi
• Menemukan rahasia iman kepada Kristus yang adalah Raja justru ketika kita berada dalam situasi yang paling buruk, gagal, sangat menyedihkan dan tragis.
• Dalam kondisi yang demikian kita sama sekali tidak melihat “titik terang” kemuliaan Kristus sebagai Raja dan Juru-selamat dalam kehidupan kita.
Bagaimana dengan kita?
• Bagaimana sikap kita ketika kita berada dalam situasi yang sangat buruk, pahit dan menyedihkan?
• Apakah kita juga mau dengan hati yang tulus dan penuh kasih memuliakan Kristus sebagai Raja justru ketika kita mengalami kesedihan, kegagalan dan penderitaan yang sangat berat?
Jumat, 19 November 2010
IBADAH MINGGU 31 OKTOBER 2010 GKJW WARU
IBADAH MINGGU 31 OKTOBER 2010
GKJW JEMAAT WARU
SABDA PAMBUKANING IBADAH
Mazmur 6 : 5
Gesang Pandhereke Gusti
PANGAKENING DOSA
JABUR 51: 3-5
PAWARTOS RAHAYU
WULANG BEBASAN 7 : 1-3
WAOSAN KITAB SUCI
2 TESALONIKA 1: 1 – 2:2
LUKAS 19 : 1-10
WAOSAN I:
Kacariosaken bilih pasamuwan ing Tesalonika punika saweg bingung lan kuwatos tumrap pawartos bab kratone Allah ingkang badhe rawuh, awit ing griku Gusti Yesus dalah para malaikat badhe paring kaadilan lan piwales dumateng tiyang ingkang sengit kaliyan pandhereke Gusti, pasamuwan ngrumaosi bilih gesangipun taksih asring nerak karsaning Gusti.
Paulus :
Ngengetaken bilih Gusti leres badhe paring piwales nanging tumrap tiyang ingkang wanuh kaliyan Gusti lan tiyang ingkang nerak Injil lan sengit dumateng pandhereke Gusti, nanging tiyang pitados badhe angsal kamardikan lan gesang kebak kamulyaning Gusti.
PAULUS
Nyuwun supados pandhereke Gusti tansah saos syukur, tuwuh kekiyatan iman kapitadosanipun,
sumeleh tumrap sadaya panindhes lan sregep dendonga.
WAOSANII:
Lukas nyerat bab Zakheus, Juru mupu beya ingkang nggadhahi krenteg badhe nderek Gusti Yesus, lan saguh nampi sedaya samukawis lantaran dados pandhereke Gusti.
3 Patrap Kapendet Zakheus:
Mulihaken sesambetan.
Ngenggalaken diri pribadi.
Mujudaken tanggel jawab.
Mulihaken Sesambetan.
Zakheus tiyang Yerikho punika kaanggep tiyang ingkang awon, antheke penjajah.
Mbudidaya supados saged ningali Gusti Yesus kanthi minggah wit anjir.
Kabingahan dumawah saweg Gusti Yesus ningali lan nimbali ateges bilih sesambetan kapulihaken.
Ngenggalaken Diri Pribadi.
Griyaning Zakheus piniji dados panggenan ngaso Gusti sanes griyaning para imam.
Karahayon ageng tumrap Zakheus sabrayat.
Karahayon mujudaken pamratobat tumrap diri pribadi Zakheus.
Mujudaken Tanggel Jawab
Kaslametan ingkang katampi dening Zakheus mujudaken kabingahan ageng.
Wujude kabingahan kalairaken kanthi maringaken sepalih barang darbekipun.
Tanggel jawab ndherek Gusti kedah kaetrapaken.
Pitakenan Dumateng Kitha:
Punapa purun nyambung sesambeten ingkang saweg pedhot?
Punapa ugi ngakeni bilih asring dumawah wonten ing dosa lan saguh nampeni kabingahan kanthi pamratobat?
Punapa saguh bilih wujude kabingahan kitha ugi saged karaosaken dening sesami?
Kadospundi Tumrap Kitha?
Sinau kadosdene Zakheus mbudidaya pinanggih kaliyan Gusti Yesus sanadyan kathak pepalang.
Nelangsani gesang tumuju pamratobat.
Ngetrapaken tanggel jawab dados rencang damel Gusti.
GKJW JEMAAT WARU
SABDA PAMBUKANING IBADAH
Mazmur 6 : 5
Gesang Pandhereke Gusti
PANGAKENING DOSA
JABUR 51: 3-5
PAWARTOS RAHAYU
WULANG BEBASAN 7 : 1-3
WAOSAN KITAB SUCI
2 TESALONIKA 1: 1 – 2:2
LUKAS 19 : 1-10
WAOSAN I:
Kacariosaken bilih pasamuwan ing Tesalonika punika saweg bingung lan kuwatos tumrap pawartos bab kratone Allah ingkang badhe rawuh, awit ing griku Gusti Yesus dalah para malaikat badhe paring kaadilan lan piwales dumateng tiyang ingkang sengit kaliyan pandhereke Gusti, pasamuwan ngrumaosi bilih gesangipun taksih asring nerak karsaning Gusti.
Paulus :
Ngengetaken bilih Gusti leres badhe paring piwales nanging tumrap tiyang ingkang wanuh kaliyan Gusti lan tiyang ingkang nerak Injil lan sengit dumateng pandhereke Gusti, nanging tiyang pitados badhe angsal kamardikan lan gesang kebak kamulyaning Gusti.
PAULUS
Nyuwun supados pandhereke Gusti tansah saos syukur, tuwuh kekiyatan iman kapitadosanipun,
sumeleh tumrap sadaya panindhes lan sregep dendonga.
WAOSANII:
Lukas nyerat bab Zakheus, Juru mupu beya ingkang nggadhahi krenteg badhe nderek Gusti Yesus, lan saguh nampi sedaya samukawis lantaran dados pandhereke Gusti.
3 Patrap Kapendet Zakheus:
Mulihaken sesambetan.
Ngenggalaken diri pribadi.
Mujudaken tanggel jawab.
Mulihaken Sesambetan.
Zakheus tiyang Yerikho punika kaanggep tiyang ingkang awon, antheke penjajah.
Mbudidaya supados saged ningali Gusti Yesus kanthi minggah wit anjir.
Kabingahan dumawah saweg Gusti Yesus ningali lan nimbali ateges bilih sesambetan kapulihaken.
Ngenggalaken Diri Pribadi.
Griyaning Zakheus piniji dados panggenan ngaso Gusti sanes griyaning para imam.
Karahayon ageng tumrap Zakheus sabrayat.
Karahayon mujudaken pamratobat tumrap diri pribadi Zakheus.
Mujudaken Tanggel Jawab
Kaslametan ingkang katampi dening Zakheus mujudaken kabingahan ageng.
Wujude kabingahan kalairaken kanthi maringaken sepalih barang darbekipun.
Tanggel jawab ndherek Gusti kedah kaetrapaken.
Pitakenan Dumateng Kitha:
Punapa purun nyambung sesambeten ingkang saweg pedhot?
Punapa ugi ngakeni bilih asring dumawah wonten ing dosa lan saguh nampeni kabingahan kanthi pamratobat?
Punapa saguh bilih wujude kabingahan kitha ugi saged karaosaken dening sesami?
Kadospundi Tumrap Kitha?
Sinau kadosdene Zakheus mbudidaya pinanggih kaliyan Gusti Yesus sanadyan kathak pepalang.
Nelangsani gesang tumuju pamratobat.
Ngetrapaken tanggel jawab dados rencang damel Gusti.
PERSEMBAHAN YANG SEJATI
BACAAN : ROMA 12:1-2
Kasih Allah yang begitu ajaib di dalam Kristus Yesus itu mengubah segala sesuatu dalam kehidupan kita untuk menjadi lebih baik. Paulus mengatakan “Karena itu demi kemurahan Allah, yaitu demi semua yang sudah kita lihat, yaitu betapa kedahsyatan dosa yang membuat manusia menuju kepada kebinasaan yang kekal, kasih Allah yang begitu ajaib dalam Kristus Yesus, karena itu aku menasehatkan kamu untuk mempersembahkan tubuhmu. Ini artinya jelas menunjukkan bagaimana respons yang seharusnya kalau kita mengerti kemurahan hati Allah, kita mengerti Bapa yang menunggu dari hari ke hari untuk kita kembali kepadaNya. Maka kita tidak menyia- nyiakan anugerah Allah yang seperti demikian tetapi justru kehidupan kita yang sudah diubahkan itu dipersembahkan sebagai satu respons kepada Tuhan yang telah mengasihi kita.
Ungkapan “karena itu” menunjukkan satu penekanan kepada konsekuensi logis. Karena sesuatu yang terlebih dahulu telah dinyatakan, konsekuensi logis dari semua kemurahan Allah yang begitu besar yang telah memberikan AnakNya, maka kita harus mempersembahkan diri kita. Kalimat “ibadah yang sejati” berkonsekuensi logis bahwa persembahan ibadah itu adalah sebagai sesuatu yang masuk akal, artinya kalau kita telah mengalami kemurahan hati Allah yang begitu luar biasa, kalau kita telah mengerti bagaimana kasih Allah begitu besar datang berkorban bagi kita, maka dengan begitu kita bisa lebih mengerti, untuk bisa memberi yang terbaik kepada Tuhan sebagai suatu respons. Di dalam konteks Natal kita dapati orang Majus yang mencari raja yang telah lahir, dan waktu mereka melihat bintang itu kemudian mereka berjumpa dengan Yesus, mereka menyembah Dia. Siapa yang mau menyembah seorang Anak kecil seperti itu? Mereka datang menyembah dan mereka mempersembahkan persembahan mereka yang terbaik. Apa artinya kita lihat di sini? Kalau orang Majus yang hanya berjumpa dengan Yesus yang masih anak itu menyembah Dia dan mempersembahkan yang terbaik, Amat berdosalah orang yang sudah melihat karya Kristus, yang sudah mati di kayu salib, yang bangkit dari antara orang mati, naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, lalu kemudian tidak menyembah Dia dan mempersembahkan yang terbaik untukNya. Maka kata Paulus dengan jelas, tahu dirilah. Jangan seperti orang Israel, semakin diberkati semakin kurang ajar, semakin diberkati semakin tidak tahu diri.
Penggunaan kata “menasehatkan” dan “mempersembahkan tubuh” adalah gabungan dua kata kerja yang menunjukkan kata perintah. Di sinilah Paulus memerintahkan kita sekali untuk seterusnya kita mempersembahkan tubuh kita, tidak ada lagi cadangan buat kita tetapi betul-betul kita mau ada buat Tuhan kapan saja. Tidak ada yang akan dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan Yesus Kristus. Di dalam Kristus tidak ada penghukuman bagi kita, itu adalah kemurahan Allah yang luar biasa. Dan demikian apapun dan bagaimanapun kehidupan kita, ketelanjangankah, penganiayaankah, kuasa-kuasa yang lain, tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Karena itu biar kita mempersembahkan diri kita satu kali untuk selamanya dan kita tidak akan pernah menjadi kecewa.
Bagaimanapun persembahan diri kita adalah ibadah yang sejati. Ibadah yang sejati ini maksudnya ibadah yang rohani, ibadah yang spiritual itu mempunyai arti keduanya yaitu sangat masuk akal karena kemurahan Allah dan sebagai sesuatu yang bersifat spiritual karena kita mempersembahkan tubuh kita yang sudah mati dan bangkit bersama Kristus. Kita bukan mempersembahkan tubuh kita yang berdosa, tetapi tubuh yang telah ditebus oleh darah Kristus, yang ditebus bukan dengan emas atau perak tetapi oleh darah Anak Domba yang mahal dan yang tidak bernoda dan tidak bercacat itu. Dalam karya Kristus itulah diri kita yang telah diperbaharui ini kita persembahkan sebagai persembahan rohani. Artinya, di sini bukan persembahan yang mati, bukan persembahan yang seperti binatang-binatang dalam “Kitab Perjanjian Lama”, tetapi di sini adalah satu kehidupan rohani kita yang sudah diperbaharui, dipersembahkan sebagai satu persembahan yang kudus dan yang berkenan kepada Dia.
Tuhan berkenan kepada persembahan seorang janda yang hanya dua peser. Bukan soal apa yang dipersembahkan tetapi bagaimana dia persembahkan yaitu seluruh hidupnya yang dia persembahkan. Tuhan Yesus berkata kepada perempuan Samaria akan datang waktunya penyembah-penyembah yang benar akan menyembah Allah di dalam roh dan kebenaran. Yaitu suatu sikap kehidupan yang nyata yang diberikan kepada Tuhan, yang kudus dan yang berkenan. Sehingga janganlah karena kita nama Allah dihujat. Alangkah celakanya kalau kita dengar orang menghujat Tuhan karena gereja yang tidak karu-karuan. Persembahan yang kudus, yang berkenan kepada Allah, itu jelas. Sama sebagaimana orang Majus yang memberikan yang terbaik itu, demikian persembahan yang kita berikan for all dari dasar tahu diri kita persembahan dengan kudus dan tidak bercacat, tidak bercabang hati, dengan segenap hati mempersembahkan hidup kita.
Marilah kita persembahkan yang terbaik bagi Tuhan yaitu hidup kita. Bukan soal apa yang kau berikan tetapi bagaimana engkau memberikannya, dengan hati yang bagaimana kita memberikan hidup kita bagi Tuhan.
Kasih Allah yang begitu ajaib di dalam Kristus Yesus itu mengubah segala sesuatu dalam kehidupan kita untuk menjadi lebih baik. Paulus mengatakan “Karena itu demi kemurahan Allah, yaitu demi semua yang sudah kita lihat, yaitu betapa kedahsyatan dosa yang membuat manusia menuju kepada kebinasaan yang kekal, kasih Allah yang begitu ajaib dalam Kristus Yesus, karena itu aku menasehatkan kamu untuk mempersembahkan tubuhmu. Ini artinya jelas menunjukkan bagaimana respons yang seharusnya kalau kita mengerti kemurahan hati Allah, kita mengerti Bapa yang menunggu dari hari ke hari untuk kita kembali kepadaNya. Maka kita tidak menyia- nyiakan anugerah Allah yang seperti demikian tetapi justru kehidupan kita yang sudah diubahkan itu dipersembahkan sebagai satu respons kepada Tuhan yang telah mengasihi kita.
Ungkapan “karena itu” menunjukkan satu penekanan kepada konsekuensi logis. Karena sesuatu yang terlebih dahulu telah dinyatakan, konsekuensi logis dari semua kemurahan Allah yang begitu besar yang telah memberikan AnakNya, maka kita harus mempersembahkan diri kita. Kalimat “ibadah yang sejati” berkonsekuensi logis bahwa persembahan ibadah itu adalah sebagai sesuatu yang masuk akal, artinya kalau kita telah mengalami kemurahan hati Allah yang begitu luar biasa, kalau kita telah mengerti bagaimana kasih Allah begitu besar datang berkorban bagi kita, maka dengan begitu kita bisa lebih mengerti, untuk bisa memberi yang terbaik kepada Tuhan sebagai suatu respons. Di dalam konteks Natal kita dapati orang Majus yang mencari raja yang telah lahir, dan waktu mereka melihat bintang itu kemudian mereka berjumpa dengan Yesus, mereka menyembah Dia. Siapa yang mau menyembah seorang Anak kecil seperti itu? Mereka datang menyembah dan mereka mempersembahkan persembahan mereka yang terbaik. Apa artinya kita lihat di sini? Kalau orang Majus yang hanya berjumpa dengan Yesus yang masih anak itu menyembah Dia dan mempersembahkan yang terbaik, Amat berdosalah orang yang sudah melihat karya Kristus, yang sudah mati di kayu salib, yang bangkit dari antara orang mati, naik ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa, lalu kemudian tidak menyembah Dia dan mempersembahkan yang terbaik untukNya. Maka kata Paulus dengan jelas, tahu dirilah. Jangan seperti orang Israel, semakin diberkati semakin kurang ajar, semakin diberkati semakin tidak tahu diri.
Penggunaan kata “menasehatkan” dan “mempersembahkan tubuh” adalah gabungan dua kata kerja yang menunjukkan kata perintah. Di sinilah Paulus memerintahkan kita sekali untuk seterusnya kita mempersembahkan tubuh kita, tidak ada lagi cadangan buat kita tetapi betul-betul kita mau ada buat Tuhan kapan saja. Tidak ada yang akan dapat memisahkan kita dari kasih Tuhan Yesus Kristus. Di dalam Kristus tidak ada penghukuman bagi kita, itu adalah kemurahan Allah yang luar biasa. Dan demikian apapun dan bagaimanapun kehidupan kita, ketelanjangankah, penganiayaankah, kuasa-kuasa yang lain, tidak ada yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Karena itu biar kita mempersembahkan diri kita satu kali untuk selamanya dan kita tidak akan pernah menjadi kecewa.
Bagaimanapun persembahan diri kita adalah ibadah yang sejati. Ibadah yang sejati ini maksudnya ibadah yang rohani, ibadah yang spiritual itu mempunyai arti keduanya yaitu sangat masuk akal karena kemurahan Allah dan sebagai sesuatu yang bersifat spiritual karena kita mempersembahkan tubuh kita yang sudah mati dan bangkit bersama Kristus. Kita bukan mempersembahkan tubuh kita yang berdosa, tetapi tubuh yang telah ditebus oleh darah Kristus, yang ditebus bukan dengan emas atau perak tetapi oleh darah Anak Domba yang mahal dan yang tidak bernoda dan tidak bercacat itu. Dalam karya Kristus itulah diri kita yang telah diperbaharui ini kita persembahkan sebagai persembahan rohani. Artinya, di sini bukan persembahan yang mati, bukan persembahan yang seperti binatang-binatang dalam “Kitab Perjanjian Lama”, tetapi di sini adalah satu kehidupan rohani kita yang sudah diperbaharui, dipersembahkan sebagai satu persembahan yang kudus dan yang berkenan kepada Dia.
Tuhan berkenan kepada persembahan seorang janda yang hanya dua peser. Bukan soal apa yang dipersembahkan tetapi bagaimana dia persembahkan yaitu seluruh hidupnya yang dia persembahkan. Tuhan Yesus berkata kepada perempuan Samaria akan datang waktunya penyembah-penyembah yang benar akan menyembah Allah di dalam roh dan kebenaran. Yaitu suatu sikap kehidupan yang nyata yang diberikan kepada Tuhan, yang kudus dan yang berkenan. Sehingga janganlah karena kita nama Allah dihujat. Alangkah celakanya kalau kita dengar orang menghujat Tuhan karena gereja yang tidak karu-karuan. Persembahan yang kudus, yang berkenan kepada Allah, itu jelas. Sama sebagaimana orang Majus yang memberikan yang terbaik itu, demikian persembahan yang kita berikan for all dari dasar tahu diri kita persembahan dengan kudus dan tidak bercacat, tidak bercabang hati, dengan segenap hati mempersembahkan hidup kita.
Marilah kita persembahkan yang terbaik bagi Tuhan yaitu hidup kita. Bukan soal apa yang kau berikan tetapi bagaimana engkau memberikannya, dengan hati yang bagaimana kita memberikan hidup kita bagi Tuhan.
Langganan:
Postingan (Atom)