Sabtu, 09 Mei 2020

GEMBALA DAN KAWANAN DOMBA-NYA


Bacaan   : Yeremia 23:1-8



Kisah ini terjadi dengan latar-belakang pad masa setelah pembuangan orang Yehuda. Catatan sejarah Alkitab mengingatkan kepada kita bahwa kala itu Raja Koresh dari Persia mengalahkan Babel pada tahun 539 sebelum masehi, dan mulai mengijinkan orang Yahudi pulang ke tanah airnya pada beberapa saat kemudian yaitu pada tahun 538 sebelum masehi. Allah akan menyelamatkan umat-Nya dari Babel dan memulihkan mereka di tanah Israel.
Dalam bacaan kita hari ini, Allah mengingatkan kepada para gembala. Hal ini terjadi karena tugas para gembala adalah melindungi kawanan dombanya agar tidak tersesat. Namun, para pemimpin Israel tidak bertindak sebagai gembala yang baik. Kejahatan dan kelalaian mereka menyebabkan kawanan domba, dalam hal ini yang dimaksud adalah bangsa Israel, dibunuh atau terpencar-pencar di negeri-negeri asing. Pada dasarnya adalah bahwa Tuhan akan menegur keras para gembala yang gagal menjadi gembala yang baik. Tuhan akan turun tangan sendiri untuk mengumpulkan kawanan domba-Nya dan mengirimkan gembala-gembala yang baru.
Kita adalah gembala-gembala masa kini yang meneladani Sang Gembala Agung, Yesus Kristus, yang memerintah atau menggembalakan umat-Nya dengan bijaksana. Dia selalu mendekatkan diri untuk selalu membangun relasi yang baik dengan umat-Nya. Sehingga para kawanan domba selalu mendengar suara Sang Gembala karena Dia senantiasa memanggil domba-domba-Nya masing-masing menurut namanya. Ini adalah penggambaran relasi yang sangat erat dan dalam antara Allah dan orang-orang percaya.
Dari sinilah kita sebagai gembala masa kini bisa memahami tugas utama yaitu, memelihara dan merawat domba-dombanya. Sebagai seorang gembala, pemimpin, pembimbing yang baik, tentu akan mengorbankan waktu, tenaga, perasaan untuk orang-orang yang dipimpinnya atau digembalakannya. Tidak harus kawanan domba itu adalah yang terikat dalam persekutuan dengan kita, melainkan sesama disekitar kita. Karena mereka itu juga memerlukan pendampingan, penguatan, penghiburan dan perhatian kita. Marilah kita bersama-sama ambil bagian dan kesempatan untuk berkarya dengan Sang Gembala Agung.
Amin.

TINDAKAN YANG BERBELA-RASA


Bacaan   : Yohanes 21:1-14



Kisah tentang Yesus menampakkan diri di sungai Tiberias, ditandai dengan perolehan banyak ikan oleh para murid-Nya setelah semalaman tidak mendapatkannya. Peristiwa itu dilengkapi dengan ajakan untuk makan bersama, dengan tersedianya api arang dan diatasnya ada ikan dan roti (ayat 9). Dalam Injil Yohanes ini, ikan dan roti bukan saja sekedar persediaan makanan dari Yesus untuk para murid-murid-Nya. Tetapi mengingatkan bahwa Yesus adalah roti yang memberi hidup serta gambaran roti pada perjamuan terakhir Tuhan Yesus. Sedangkan ikan adalah simbol yang umum dipakai untuk Yesus dalam gereja perdana.
Gambaran tersedianya roti dan ikan dalam bacaan hari ini, ingin mengungkapkan juga bahwa lawatan Yesus kepada para murid, tidak hanya dipahami penekanannya pada karya mukjizat yang mengemukakan tindakan spektakuler sebagai bukti kehadiran Allah. Pekerjaan Allah yang hebat juga terukir dalam berbagai aspek kehidupan termasuk pula dalam hal-hal yang tampaknya sangat sederhana. Dengan demikian cerita lawatan atau kehadiran Yesus di tengah-tengah para murid yang sedang mencari ikan itu, juga memiliki makna bahwa Allah dalam diri Yesus berkenan hadir untuk menyatakan belarasa dan kasih-Nya.
            Tindakan belarasa Yesus itu sesungguhnya cerminan Allah untuk membawa karya agung yang dinamis, dan hendaknya terus menerus diterapkan bagi siapa saja yang percaya dan yang telah ditetapkannya sebagai milik-Nya. Hal ini sangat penting bagi kehidupan kita, yang adalah anak-anak Tuhan yang harus membawa hidup yang sudah mengenal kasih Allah ini, bersedia ambil bagian dengan segenap hati dalam karya keselamatan Allah untuk menolong sesama. Itulah sikap hidup yang seperti Yesus, yang senantiasa menghadirkan tindakan yang berbelarasa.
            Iman kekristenan kita sebenarnya sudah jelas, bahwa tindakan yang berbelarasa adalah yang menghasilkan kebahagiaan bagi mereka yang tertindas dan yang menderita. Tetapi juga perlu untuk diwaspadai bahwa tindakan yang berbelarasa, tidak didasari dengan rasa puas karena sudah punya andil menolong sesama, tetapi didasari dengan rasa hormat dan demi kemuliaan nama Tuhan.

Amin.

ANUGERAH ALLAH UNTUK YUNUS


Bacaan   : Yunus 2:1-10



Niniwe adalah ibukota Asyur, bangsa yang dimusuhi dan yang sangat dibenci bangsa Israel. Lokasinya di Timur laut Mesopotamia di sungai Tigris. Tuhan menyuruh Yunus pergi ke kota Niniwe, Ia harus memberitahukan kepada penduduk kota itu bahwa mereka akan dihukum. Namun Yunus berusaha lari dari perintah Tuhan itu. Dari antara semua tempat yang bisa dikunjungi Yunus karena diutus Allah, Niniwe mungkin adalah tempat tersulit. Bagi Yunus, bahayanya bukan hanya karena Niniwe adalah sebuah kota yang jahat, tetapi masih tersisa kepedihan dalam hati dan pikiran Yunus bahwa bangsa Israel pernah terkalahkan sekitar tahun 722 sebelum Masehi. Kesepuluh suku Israel yang dibuang dari daerah masing-masing, seluruhnya dimusnahkan, dan tidak pernah terdengar lagi.
Dalam bacaan kita hari ini, kita diingatkan bagaimana Yunus yang telah diselamatkan Allah dari kedalaman Laut. Sangat menarik untuk kita renungkan saat Yunus masih dalam perut ikan, artinya masih berada dalam lokasi yang sangat dalam. Yunus memakai gambaran sedang berada di dunia orang mati, dimana diyakini oleh orang Israel kuno bahwa tempat itu terletak di bawah laut, yang dalam bahasa Ibrani disebut “syeol”. Yunus merasakan kesunyian yang tidak pernah teralami sebelumnya. Ia merasa seolah-olah terpisah dari Allah secara jasmani dan rohani. Ia merasa terlempar jauh ke dalam liang di bawah bagian laut yang terdalam dan jauh dari Bait Allah. Namun bagi Tuhan, disini luar biasanya, tidak ada jarak jasmani yang terlalu jauh bagi-Nya untuk mendengar doa Yunus. Di bagian akhir doanya Yunus berseru (ayat 9), ada keyakinan yang sangat kuat dan itu yang terjadi. Maka ketika Yunus diselamatkan, tindakan awal yang dilakukannya adalah ucapan syukurnya. Sebagai penerapan pertumbuhan imanya bahwa Allah sanggup menyelamatkannya.
Catatan menarik untuk kita renungkan, doa Yunus tidaklah panjang namun penuh makna. Curahan hati yang penuh kejujuran dalam rangkaian kalimat yang memancar dari hati nuraninya. Anugerah itu didapatkan Yunus dari Tuhan karena wujud doanya adalah penuh kesungguhan, doanya juga berjiwakan pengampunan dosa serta pengucapan syukur. Tiga pondasi utama dalam hakekat doa.

KEPEMIMPINAN BENTUKAN ALLAH


Bacaan   : Yosua 3:1-7



Kepemimpinan yang diberkati Allah berbeda dengan kecenderungan kepemimpinan duniawi yang ingin membesarkan dirinya sendiri. Kepemimpinan yang membesarkan dirinya cenderung menjadikan dirinya sebagai pusat segalanya. Sebaliknya kepemimpinan yang namanya dibesarkan Allah adalah pribadi yang bersandar penuh kepada anugerah Allah. Karena itu melalui peran dan kehidupan seorang pemimpin, Allah berkenan hadir untuk menyatakan keselamatan dan penebusan-Nya di tengah-tengah umat sesamanya. Sebab Allah yang hidup menjadi pusat kehidupan pemimpin tersebut dan seluruh umat yang dipimpinnya.
Bacaan kita hari ini, kembali menyegarkan ingatan kita dimana sesudah kematian Musa, Allah membesarkan nama Yosua sehingga melalui peran kepemimpinannya umat Israel tidak berpaling meninggalkan Allah. Yosua memimpin umat Israel dalam ketaatan kepada kehendak Allah. Karena itu Allah meneguhkan penyertaan-Nya melalui karya mukjizat saat umat Israel menyeberangi sungai Yordan. Saat Tabut Perjanjian melewati sungai Yordan, terbelahlah airnya, peristiwa ini sama seperti kisah yang dialami oleh umat Israel yang pada waktu itu dibawah kepemimpinan Musa, saat mereka diselamatkan Allah dengan terbelahnya Laut Teberau.
Makna simbolis perlakuan yang sama atas diri Yosua seperti yang teralami oleh Musa menjadi sangat jelas dalam pemahaman kita pada saat ini. Artinya perlakukan yang sama juga terjadi kepada kita yang terpilih menjadi pemimpin dimana saja kita ditempatkan. Kepemimpinan disini jangan diartikan hanya pemimpin formal saja, Allah menempatkan kita dalam situasi dan kondisi yang beragam dimana kita akan tetap menjadi panutan bagi umat sesama disekitar kita. Inilah prinsip iman bagi kita yang harus kita pegang teguh, dimana kepemimpinan yang berkenan di hadapan Allah adalah kepemimpinan yang menjadi media kehadiran Allah di tengah umat-Nya. Berarti melalui kita yang adalah “panutan” bentukan Allah, umat sesama di sekitar kita akan senantiasa terpanggil untuk hidup kudus. Dengan demkian, karakter Allah yang tercermin dalam kehidupan kita, akan menjadi landasan sesama untuk menaikkan syukur atas kepedulian dan rahmat-Nya.

Amin.

Selasa, 10 Maret 2020

Mengenal Dan Merasakan

PERSIAPAN PK “JUMAT AGUNG” BAGI MAJELIS GKJW JEMAAT TAWANG
Selasa, 10 Maret 2020
BACAAN : Yesaya 53: 1-5

MENGENAL DAN MERASAKAN

Mengenal dan mengagumi lebih didasarkan kepada sosok dan penampilan, yang diawali dengan melihat dengan padangan mata. Ada pengharapan jika sosok tersebut memukau dan membuat seolah-olah pengharapan itu menjadi kenyataan yang membawa perubahan hidup. Gambaran sosok yang adalah “Ebed Yahweh” yang dipaparkan dalam kitab Yesaya ini, pastilah sosok yang tidak diinginkan untuk dikagumi. Sosok “Hamba Tuhan” yang tidak tampan, tidak mempesona bahkan terkesan dihina dan dihindari sehingga termasuk sosok yang penuh kesengsaraan. Sebuah pertanyaan yang tersirat dalam Yesaya 53:1; adalah ungkapan yang menggambarkan rasa pesimis, penuh keragu-raguan. Jika sosok tersebut tidak ada daya pikat secara duniawi, maka siapa yang mau percaya akan semua “berita” yang akan disampaikan? Pastilah semua yang disampaikan akan dicibir, ditolak dan diabaikan begitu saja. Namun dibalik penghinaan secara duniawi yang dialamatkan kepada “Hamba Tuhan” tersebut, ternyata Dia yang ditetapkan Allah untuk menanggung “kehinaan” kita, lebih tepatnya menjadi tumbal dosa kita, seperti yang terurai dalam ayat 4-5.

Sang “Hamba Tuhan” yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya tersebut adalah Tuhan Yesus. Tidaklah mudah bagi dunia menerima peristiwa penderitaan dan kematian-Nya sebagai karya penyelamatan Allah bagi umat-Nya. Bahkan dunia terlanjur memandang bahwa peristiwa salib adalah batu sadungan (padangan Yahudi) dan merupakan suatu kebodohan (menurut Yunani). Beragam pandangan duniapun bermunculan yang berpendapat bahwa tidak mungkin peristiwa salib itu terjadi dan diperuntukan bagi Sang Mesias. Hal tersebut menggambarkan secara jelas betapa sulitnya dunia menerima peristiwa yang ditampilkan melalui kehidupan “anak manusia” yang menderita itu. Namun Sang Sosok itu dengan tenang dan penuh ketegaran melalui proses penerimaan yang tidak mudah dan bahkan berakhir dengan sangat tragis. Perlakuan kejam bagaikan seorang pemberontak yang biasa berakhir hidupnya melalui hukuman salib.

Kematian Tuhan Yesus di kayu salib mendorong kita memiliki keberanian untuk menghampiri takhta kasih-karunia Allah. Sebab melalui kematian itu, Allah sedang memulihkan diri kita dari belenggu dosa. Melihat  atau memandang kepada tubuh Kristus yang tertikam di kayu salib tersebut, kita telah mengenal dan bahkan merasakan yang membawa kita memiliki hati yang remuk redam untuk mengakui seluruh dosa. Yang kemudian dengan sikap iman yang benar kita bersedia menyambut pengampunan dosa dan pemulihan dari Tuhan Yesus Kristus. Dengan demikian, jalan dan hidup yang dikaruniakan-Nya itu, menempatkan kita dalam kuasa anugerah Allah yang menyelamat. Pada akhirnya, kita yang memiliki hati yang telah dimurnikan tersebut, semakin layak menjadi kawan sekerja-Nya untuk senantiasa menjabarkan karya keselamatan Allah kepada dunia.

Tiga tindakan kunci yang dialami oleh Hamba Tuhan yang adalah Tuhan Yesus seperti yang tercatat dalam ayat-5 yaitu;
Dia ditikam karena pemberontakan kita,
Dia dihukum atau diganjar karena menggantikan kita,
Dia dicambuk sehingga bilur-bilur-Nya menjadikan kita terlepas dan sembuh dari segala dosa.
Bagaimana dengan kita? jika ingin lebih mengenal Kristus, maka hendaknya kita juga bersedia merasakan tiga tindakan kunci tersebut sebagai kawan sekerja-Nya, dan tentunya berkerja bersama-Nya.

Amin.

Rabu, 18 September 2019

“HARUSKAH BERSELISIH”


Bacaan : Markus 9:30-37

Perselisihan dikarenakan masing-masing pihak merasa diri berada di pihak yang paling benar dan menganggap pihak lain berada di posisi yang salah. Perselisihan tidak akan pernah menghasilkan sesuatu yang positif, justru semakin menjauhkan dari kebenaran. Perselisihan dikarenakan perkara yang kecil terkadang menyulut pertengkaran besar dengan mengorbankan banyak orang. Sebenarnya perselisihan tidak akan terjadi ketika setiap orang mampu memberikan tanggapan yang berlandaskan kasih walaupun diperlakukan secara tidak adil. Namun masih banyak orang yang tidak bersedia untuk menerapkan kasih, sebab dianggap sebagai tanda dari sikap orang yang lemah. Padahal mereka yang menganggap dirinya seorang pemberani, yang membuat sesamanya menjadi korban, justru merupakan bukti bahwa mereka lemah dalam mengendalikan diri. Mereka gagal untuk memenangkan kehidupan ini secara bermakna dan melahirkan banyak musuh. Semakin seseorang mampu mengendalikan diri, maka akan semakin mampu menjaga keselamatan dan kesejahteraan dalam kehidupan ini. Kegagalan kita untuk memahami secara positif keberadaan sesama disebabkan karena kita gagal untuk memahami secara positif keberadaan diri sendiri. Perselisihan hanya dapat diatasi apabila kita selalu memulai untuk membangun karakter diri sesuai dengan hakikat umat yang telah ditebus oleh darah Kristus. Selama kita menghayati makna karya penebusan Kristus dalam kehidupan pribadi kita, maka kita juga akan dimampukan untuk memandang sesama sebagai umat yang juga telah ditebus Kristus.
Bacaan saat ini (ayat 34) menyaksikan bagaimana sikap para murid ketika ditegur oleh Tuhan Yesus saat mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka. Sikap para murid yang tidak mempedulikan di tengah situasi Tuhan Yesus memberitahukan tentang penderitaan dan kematian yang akan dialamiNya. Sebaliknya mereka justru lebih disibukkan dengan siapa yang paling berkuasa dan besar di antara mereka. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketika seseorang menjadikan dirinya sebagai pusat, maka dia tidak akan mudah tersentuh dengan pergumulan sesamanya. Bahkan secara terbuka mempertengkarkan ambisi pribadinya. Mereka ingin memperoleh kedudukan yang tinggi dengan anggapan bahwa Tuhan Yesus adalah Mesias yang kelak akan memperoleh kekuasaan dan kemuliaan dari Allah. Sikap kecenderungan seseorang yang tamak untuk menjadi besar akan mendorong dia untuk cenderung berupaya membela dan mempertahankan diri dalam berelasi dengan sesamanya. Pada hakikatnya seorang yang berupaya membela dan mempertahankan diri disebabkan karena mereka merasa diri terancam. Mereka merasa orang-orang di sekitarnya berupaya untuk menganiaya atau melukai dirinya. Karena mereka terlalu sensitif dan merasa diri terancam, maka mereka juga akan berupaya untuk menyerang sesama yang dianggap melukai dirinya. Karena itu tidaklah mengherankan jikalau sumber utama dari setiap perselisihan disebabkan karena masing-masing pihak dilatar-belakangi oleh sikap yang berupaya membela dan mempertahankan diri.
Karya penebusan Kristus pada hakikatnya telah mendamaikan diri kita dengan Allah dan sesama, juga telah mendamaikan diri kita dengan masa lalu kita yang pahit. Sehingga dengan kuasa penebusan Kristus, kita dimampukan untuk mengampuni orang lain dan juga mengampuni diri kita sendiri. Apabila kita telah mengalami karya penebusan Kristus yang mendamaikan dan mengampuni, maka kita tidak akan lagi mengembangkan pola sikap yang berupaya membela dan mempertahankan diri. Melalui hikmat Allah, kita disadarkan untuk menyingkirkan dan membuang secara total setiap bentuk dari sikap yang berupaya membela dan mempertahankan diri. Keberadaan hidup yang dilandasi oleh hikmat dari Allah selalu bersifat membebaskan dan membangun. Hikmat dari Allah memampukan kita untuk mengutamakan peningkatan prestasi yang digunakan untuk keselamatan dan kesejahteraan sesama. Dalam pemahaman ini benarlah apa yang telah diajarkan oleh Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya”(ayat 35b). Konsep dunia mengajarkan bagaimana seseorang untuk menjadi terkemuka, dengan menonjolkan diri dan memaksa orang lain untuk melayani dia. Tetapi Kristus mengajarkan keutamaan prestasi dan kemuliaan spiritualitas. Apabila umat manusia dikuasai oleh kuasa dunia, maka umat manusia akan hidup dalam perselisihan yang lebih luas. Sebaliknya apabila setiap umat manusia bersedia untuk dikuasai oleh Roh Kudus, maka umat manusia akan hidup dalam penghargaan dan perdamaian dengan setiap sesamanya.
Perjamuan Kudus ”oikumene” mengingatkan kita akan makna bergereja yang sesungguhnya. Kata "oikumene" dalam bahasa Yunani berasal dari kata "oikos" yang berarti rumah, tempat tinggal dan "mene" dari kata "menein" yang berarti tinggal. Secara hurufiah "oikumene" berarti "rumah yang didiami" atau ”dunia yang didiami”. Pada hakekatnya Gereja itu tetap satu. Hanya saja Gereja yang satu itu menampakkan diri dalam keberagaman yang disebabkan oleh hal-hal positif dan negatif. Ada orang percaya ingin menghayati imannya dengan budaya dan bahasanya. Ketidakcocokan sekelompok warga gereja terhadap gereja, lalu mendorong mereka untuk mendirikan gereja baru. Dan masih terbuka kemungkinan terjadi keberagaman gereja, karena pemahaman manusia tentang Alkitab selalu terbatas. Ada gereja yang menekankan bagian tertentu dari Alkitab, ada gereja yang berusaha memahami secara utuh Alkitab. Melalui Perjamuan Kudus oikumene yang diselenggarakan oleh banyak gereja setiap tahunnya, merupakan upaya melestarikan sebuah gerakan oikumene untuk mewujudkan kesatuan gereja-gereja. Gerakan oikoumene ini didorong oleh keprihatinan atas mudahnya terjadi perpecahan gereja yang terus terjadi di dunia ini. Gerakan ini memiliki harapan agar Gereja bisa bersatu kembali.
Bagi kita yang terpenting adalah menghayati dan menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat, kemudian melibatkan diri secara penuh dan bertanggung jawab di dalam Gereja sebagai anggota jemaatnya. Dengan demikian, sekalipun kita menemukan berbagai ketidakpuasan didalam gereja kita, kita tidak akan dengan mudah pindah ke gereja lain. Kalau kita pindah ke gereja lain karena tidak puas, maka akan sangat mungkin kita akan kembali mengalami kekecewaan lagi di tempat yang baru. Setiap anggota jemaat dapat mengambil bagian dalam membenahi kekurangan yang terdapat pada gerejanya. Gereja amat membutuhkan warga yang mau tekun dan setia turut ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan, karena mereka merupakan benih yang baik untuk kedewasaan dan pertumbuhan gereja. Selamat mempersiapkan diri sendiri dan warga jemaat untuk masuk dalam masa-masa menghayati sebelum menerima Perjamuan Kudus.
Amin. 

Senin, 27 Mei 2019

Tinjauan Apokaliptis Kitab Wahyu Dan Kitab Daniel


"sekedar ulasan yang memerlukan waktu merenungkannya"
(yohanes didik)

I.                   Pendahuluan

Sebelum mengupas banyak hal tentang kitab Wahyu dalam Perjanjian Baru sebagai kitab apokaliptik yang dipadukan dengan Kitab Daniel dalam Perjanjian Lama yang digolongkan juga sebagai kitab Apokaliptis, perlu untuk memahami kata apokaliptik itu sendiri terlebih dahulu. Kata ini berasal dari bahasa Yunani yang artinya menyingkapkan atau membukakan dan merujuk pada sesuatu yang sebelumnya tersembunyi dan sekarang telah disingkapkan sekarang. Kitab-kitab apokaliptik yang berasal dari periode intertestamen merupakan suatu catatan tentang peristiwa sejarah dari tahun 250 SM sampai 100 M, sekaligus memuat tanggapan iman bangsa Israel ketika berhadapan dengan berbagai bentuk krisis dan tirani pada masa itu. Oleh karena itu kitab-kitab ini tidak dapat dipahami dengan baik bila dilepaskan dari pengaruh religius, politik dan ekonomi pada waktu itu. Demikian juga sebaliknya bahwa sejarah dalam kitab ini, tidak bisa dipahami bila dilepaskan dari harapan dan kekhawatiran iman umat Allah yang terus bergema di dalamnya.[1]

Kitab Daniel dan Wahyu juga merupakan karya sastra yang kemudian dikenal dengan sastra apokaliptik, dengan ciri utama yang penting dari sastra apokaliptik ini diantaranya adalah penggunaan simbol-simbol. Terkadang bahasa simbolis yang digunakan mudah dimengerti namun kadang juga sulit dipahami. Simbol-simbol yang sering dipakai adalah binatang-binatang, manusia dan bintang-bintang, makhluk-makhluk mitologi, dan angka-angka. Sebagai contoh hal ini dapat kita temukan dalam kitab Wahyu  yang menyebut Roma sebagai Babel atau Kitab Daniel yang memakai nama-nama binatang untuk menyebutkan nama empat Negara. Sastra apokaliptik sangat menekankan sifat supranatural. Aspek supranatural ini diperlihatkan melalui sosok malaikat yang mewarnai tulisan-tulisan apokaliptik dan memiliki peran penting. Misalnya, dalam kitab Daniel kita dapat menemukan dua tokoh malaikat yaitu Gabriel (Daniel 8:16) dan Mikhael (Daniel 12:1). Sedangkan bila kita membaca sastra apokaliptik di kitab Wahyu, kita dapat menemukan pembedaan yang tegas antara dunia yang sekarang dengan dunia yang akan datang. Kitab ini berbicara tentang  akhir dunia yang semakin memburuk, lalu tiba-tiba muncul dunia baru yang serba indah.

Dalam pandangan apokaliptik, bumi dilihat secara menyeluruh dan tidak hanya terbatas pada umat Israel. Tulisan apokaliptik juga tidak hanya melampaui batas sejarah sampai kedalam  situasi sesudah sejarah berakhir, tetapi juga situasi sebelum dunia diciptakan. Pola pikir dualistis seperti membedakan antara zaman sekarang dan akan datang, antara bumi dan sorga, antara orang suci dan orang jahat sangat menonjol dalam sastra apokaliptik. Sastra apokaliptik dengan demikian mendorong orang-orang agar dapat bertahan dalam penindasan. Sasaran akhir karya sastra ini adalah berakhirnya segala kejahatan, kekuasaan yang dimiliki negara-negara besar di dunia tidak akan bertahan lama, dan pada akhirnya zaman keselamatan itu tiba.[2] Dalam buku “Etika Perjanjian Baru“ berpendapat bahwa nada dasar yang mewarnai seluruh kitab Wahyu adalah pengharapan eskatologis. Allah sendiri yang digambarkan sebagai sumber penyataan menyangkut “apa yang harus segera terjadi”. Ungkapan ini menyatakan sifat determinisme yang merupakan salah satu ciri khas apokaliptik, yakni Allah telah menentukan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi dan karena itu rencana Allah haruslah berlangsung. Kuasa apapun mustahil menghindarkan penggenapan rencana Allah itu.[3]

II.                Penelusuran Apokaliptis Wahyu 21

Secara garis besar kitab Wahyu diperkirakan ditulis pada tahun sembilan puluhan, abad pertama, yaitu ketika orang Kristen menderita dibawah pemerintahan Kaisar Domitianus. Dimana penulis kitab Wahyu menganggap penganiayaan terhadap orang Kristen sebagai ciri khas pada zaman itu, perlu dibekali menjelang perjuangan melawan mereka yang antikris.[4] Kitab Wahyu merupakan kitab yang ditempatkan paling terakhir dalam urutan kitab-kitab Perjanjian Baru. Kata “Wahyu” dalam nama kitab ini merupakan terjemahan dari kata Bahasa Yunani Apokalypsis yang berarti menyingkapkan sesuatu yang tersembunyi. Kata ini sebenarnya menunjuk pada jenis sastra yang terdapat dalam kitab ini. Pada umumnya, sastra apokaliptik dalam konteks Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru sebenarnya dimaksudkan untuk menyatakan rahasia-rahasia yang berhubungan dengan akhir zaman atau makna sejarah. Kitab ini berisi simbol-simbol dan lambang-lambang yang pada zaman sekarang menimbulkan pelbagai tafsiran yang tidak hanya beragam tetapi juga seringkali kontroversial.

Mengawali penelusuran apokaliptik kitab Wahyu 21, perlu dipahami bahwa  perikop ini ditulis dalam struktur syair yang melukiskan keadaan kota Yerusalem baru. Dipahami sebagai kota pengharapan, kota kemuliaan Allah dan perwujudannya dilambangkan sama seperti permata yang paling indah, kota dari emas tulen, tembok terbuat dari beragam permata. Karena ditulis dalam struktur syair, maka pemakaian kata atau istilah memiliki makna yang beragam. Diantaranya dipahami sebagai kota suci yang dikuduskan melalui darah Kristus. Kota Yerusalem baru menunjukkan pusat penyembahan orang-orang kudus, menjadi tanda penyertaan Allah dengan umat-Nya. Perlambang itu diterjemahkan misalnya, mempelai wanita dan istri bagi Anak Domba, adalah untuk menyatakan orang-orang kudus ditebus melalui darah Kristus, serta menjadi satu dengan Dia. Kemah yang ada ditengah-tengah manusia ialah penyertaan Allah dengan manusia, dalam bahasa Ibrani yaitu: "Imanuel" (Yesaya 7:14; Matius 1:23). Yang juga merupakan perwujudan nama inkarnasi Kristus. Sedangkan umat Allah menunjukkan orang-orang kudus yang adalah milik Allah, yang dikuasai Allah, dan menjadi umat Kerajaan Allah.

Semuanya disusun dalam struktur syair yang paralel, artinya dapat saling dibandingkan, sehingga kita bisa memahaminya melampaui makna yang sebenarnya. Sebagai contoh perbadingan misalnya, pencipta bersatu dengan ciptaan, sumber kehidupan kekal bersatu dengan hidup yang sementara, persatuan antara awal dan akhir yang kekal dengan awal dan akhir yang bersifat sementara, serta memasuki kekekalan yang tanpa awal dan akhir. Secara sederhana struktur syair perbadingan itu memiliki makna bahwa kehidupan ini membutuhkan dukungan sumber hidup, sehingga manusia sanggup berkembang dengan baik, melaksanakan amanat yang dibebankan padanya. Namun manusia telah menyimpang dari jalan Allah sehingga dipisahkan dari Allah, kini melalui penebusan Kristus, manusia yang terpisah secara temporal, sekali lagi dipersatukan dengan Allah, inilah "eksistensi kekal" dalam langit dan bumi baru.[5]

Penulusuran makna lebih lanjut bisa dikembangkan pemahaman kita akan kota Yerusalem baru yang disebut sebagai mempelai wanita yang turun dari Allah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia. Semua telah menjadi baru dan sangat nyata. Dalam kota suci tersebut terdapat takhta, ada air dari sumber hidup, ada pemenang, ada pula Anak Allah yang sifatnya rohani, semuanya bersifat non-materi. Artinya dalam langit dan bumi yang tidak ada perwujudan langit, bumi, laut yang sebenarnya, demikian juga tidak ada air mata, kematian, dosa, kesengsaraan, berhala dan sebagainya yang bersifat materi. Dibandingkan dengan sebuah fakta di dunia ini, dimana manusia diperhadapkan dengan air mata, kematian, kesedihan, ratapan, kesakitan, kegelapan dan sebagainya. Semuanya ini akan berlalu, sebab akan dicampakkan ke dalam lautan api.

Jikalau kita memahami perikop ini dari sudut struktur syair, memang jika dijelaskan secara harafiah, mungkin saja ada orang menjadi senang dengan tafsiran ini, ada juga menjadi kurang bahkan tidak memahaminya. Pada saat memaparkan yang dimaksud dengan Kota suci itu adalah mempelai wanita, isteri dari Sang Anak Domba misalnya, ini adalah istilah kiasan yang menunjukkan kesatuan, sama sekali bukan rnenunjukkan hubungan suami isteri antar manusia. Dengan kilauan cahaya permata untuk menyatakan kemuliaan Allah dan keadaan terang benderang kota tersebut, jelas menunjukkan kebersihan serta nilai yang berharga dari kota itu. Kota ini juga dijelaskan dalam bahasa kiasan sebagai kota yang berbentuk empat persegi, dimana panjangnya sama dengan lebarnya. Kota itu diukur dengan tongkat dua belas ribu mil, dimana panjangnya dan lebarnya serta tingginya sama. Diskripsi ini memberi pengertian suatu ketulusan yang sempurna. Inilah kata sifat yang dipakai dalam istilah syair yang menunjukkan sifat kesempurnaan dalam bahasa rohani. Dua belas jenis permata sebagai fondasi kota itu, serta dua belas pintu mutiara semuanya juga adalah istilah kiasan, yang menyatakan kemuliaan, kebersihan serta betapa berharganya kota tersebut. Perlu untuk dipahami kemudian bahwa konsep kota suci tersebut adalah non-materi, non-konsep ruang, namun sang penulis kitab ini menganggap mutlak benar. Dengan demikian perikop ini juga ingin menyampaikan bahwa ciptaan Allah mencakup materi yang dapat dilihat oleh mata, serta keberadaan rohani yang tidak dapat terlihat oleh mata. Artinya seperti yang tertuang dalam awal perikop ini bahwa ciptaan dalam dunia materi itu akan berlalu menjelang datangnya langit dan bumi baru (Wahyu 21:1).

Sebuah analogi sederhana menunjukkan bahwa dalam kitab Kejadian Pasal 1 menunjukkan Allah memakai enam hari dalam menciptakan dunia dan umat manusia yang bersifat materi. Namun langit baru dan bumi baru ini bukanlah renovasi dari langit dan bumi yang lama, sebab langit dan bumi yang lama itu telah berlalu. Langit dan bumi baru ini turun dari Allah, dinyatakan dari Allah sendiri. Ditinjau dari sudut alur sejarah yang tertuang dalam kitab Injil, saat Yesus memulai memberitakan Injil, ada orang yang percaya kepadaNya, maka sejak itu jemaat pun didirikan. Jika pada saat itu berdirilah sebuah Jemaat, itu juga berarti berdirinya mempelai wanita Kristus, yang juga perwujudan langit dan bumi baru, yaitu berdirinya Yerusalem baru juga. Maka sebelum langit dan bumi lama itu berlalu, langit dan bumi baru itu telah ada. Sebab barang siapa yang di dalam Kristus, ialah ciptaan yang baru, yang lama telah berlalu, sesungguhnya yang baru datang (2 Korintus 5:17). Maka mempelai wanita pada langit dan bumi baru itu, bukan renovasi langit dan bumi lama, ia bukan ada setelah langit dan bumi yang lama itu berlalu, melainkan saat Kristus menggenapi karya penebusanNya. Inilah titik awal langit dan bumi yang baru, kota Yerusalem baru yang dimaksudkan oleh penulis kitab Wahyu.

Penulis kitab ini sepertinya memiliki keinginan juga untuk menarik sejarah latar belakang kehidupan masyarakat pada saat itu dengan memakai kiasan kota suci Yerusalem baru, untuk menyatakan bagaimana umat Israel yang menjadikan kota Yerusalem sebagai pusat ibadah mereka. Temboknya dibuat dari batu yaspis, kota dibuat dari emas tulen, seperti kristal yang bersih dan terang dan bila dijelaskan secara simbolik akan menjadi sangat mudah. Tembok dalam kota sebenarnya adalah satu kesatuan dalam kemuliaan, bahkan kehormatan yang tiada bandingannya. Dasar kota ini adalah terdiri dari 12 batu permata. Jikalau ditinjau dari makna simbolik Kitab Wahyu, maka permata-permata ini tidak lain melambangkan dasar kota yang murni, kudus dan satu kesatuan yang sempurna serta mulia. Dalam kota suci tidak ada Bait, sebab Allah adalah Bait kota itu sendiri. Bait Tuhan Yesus mutlak bersifat rohani, yang non-materi. Kota ini tidak membutuhkan cahaya matahari dan bulan yang materi, tetapi cahaya yang non materi yaitu kemuliaan Allah dan Anak Domba sendiri sebagai terang kota itu. 

Jika kemudian ditarik dalam sebuah konslusi, maka pemaknaan sederhana dari istilah penyebutan Yerusalem Baru merupakan salah satu nama kota yang disebutkan dalam Kitab Wahyu yang memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan kota-kota lain. Dimana Yerusalem disebut sebagai kota yang kudus, turun dari surga, dari Allah yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka kata “Yerusalem baru” berada dalam bingkai perikop yang berisi tentang “Langit dan bumi yang baru” (21:1-8). Penyebutan “kota yang kudus” sebenarnya menunjuk pada Kota yang berasal dari Allah karena kekudusan dalam Perjanjian Lama maupun baru selalu dihubungkan dengan Allah. Kekudusan dalam arti ini juga dapat dihubungkan dengan kesempurnaan. Hal ini dapat dilihat dari kelanjutan dari perikop ini: Lalu, aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru. Kota yang kudus (21;2); dalam Kitab Wahyu kota suci atau kudus adalah kota yang ideal. Di situ orang-orang yang percaya kepada Allah tinggal. Dalam sejarah keselamatan, keadaan tempat seperti itu berubah-ubah. Namun, pada akhirnya kota itu tidak hanya akan dibebaskan dari ancaman dan hambatan, tetapi akan diperbaharui secara menyeluruh dan mulia. Jadi penulis kitab ini ingin mengungkapkan bahwa Yerusalem baru merupakan perikop yang berisi tentang ”dunia baru” yang menjadi puncak dan pemenuhan seluruh pengharapan manusia beriman. Yerusalem baru adalah tujuan hidup umat yang percaya kepada Allah.[6]

Pada akhirnya kitab Wahyu memuat banyak simbol-simbol yang berupa angka, peristiwa, warna, dan sebagainya yang membingungkan itu,. tentu saja mewakili sebuah gagasan atau makna. Para ahli menyimpulkan bahwa orang Ibrani dan kebiasaannya cenderung berfikir secara kongkrit bukan abstrak. Ternyata berdasarkan konteks historis teks, paling tidak, ada dua alasan penggunaan bahasa simbol ini yakni, demi kejelasan pesan dan demi keamanan penyebaran pesan yang disampaikan melalui simbol-simbol tersebut. Tampaknya kedua alasan di atas menjadi alasan penggunaan simbol-simbol dalam kitab Wahyu ini.

Penggunaan simbol-simbol tampaknya bertujuan untuk mendukung kejelasan pesan yang akan disampaikan. Hal ini barangkali terkait dengan kecenderungan orang Ibrani untuk berfikir secara kongkrit. Namun ada juga yang menafsirkan bahwa simbol tersebut merupakan sebuah upaya penulis untuk menstimulasi pembacanya. Sementara itu simbol-simbol yang dipakai tampaknya adalah demi keamanan penyebaran pesan itu. Sebagaimana yang kita ketahui, pada saat penglihatan ini terjadi, Gereja Tuhan sedang mengalami penganiayaan yang sangat besar dibawah pemerintahan Romawi.

III.             Hubungan Apokaliptis Kitab Wahyu Dengan Kitab Daniel

Kitab Wahyu menggambarkan suatu pengalaman rohani Rasul Yohanes yang dianggap sebagai penulis. Ada banyak lambang atau simbol, dan semuanya itu dipakai untuk menggambarkan pengalaman rohani penulis kitab ini dalam bahasa manusia. Maka penulis kitab ini mendeskripsikan materi-materi, misalnya: batu-batu, tembok-tembok, pintu-pintu, model bentuk, ukuran-ukuran dan sebagainya. Semuanya adalah simbol-simbol, bukan pengertian secara harafiah, dan tidak boleh dipahami dengan konsep pola pikir manusia yang nyata. Jadi apa yang ada di kitab Wahyu yang diterima Yohanes ini tentu tidak bisa diungkapkan dalam bahasa manusia, itulah sebabnya dalam Kitab Wahyu ini memakai simbol-simbol sebagai perlambang dengan bahasa lisan dari tulisan manusia yang sangat terbatas, yang tidak sanggup dengan tuntas untuk melukiskan keadaan sebenarnya dari hal yang non-materi.

Kitab Daniel merupakan sastra apokaliptik yang paling tua, ditulis sekitar tahun 167-164 SM, dengan menggunakan bahasa Ibrani dan sebagaian lagi dalam bahasa Aram. Dalam kitab Daniel ditemukan dua pola yang berbeda antara pasal 1-6 dengan pasal 7-12. Daniel 1-6 banyak menceritakan kehidupan Daniel dan teman-temannya di dalam istana pada masa pemerintahan raja-raja Babel dan Persia abad ke-6 SM sedangkan Daniel 7-12 berisi berbagai penglihatan. Kitab Daniel berisi tentang beberapa penglihatan masa depan. Bagian apokaliptik dari Daniel terdiri dari tiga penglihatan dan sebuah komunikasi kenabian yang panjang, yang terutama berkaitan dengan masa depan Israel. Kitab ini menunjukkan pengharapan optimal bahwa masa pembuangan itu bukanlah untuk selama-lamanya. Karena bangsa yang menaklukkan Israel sendiri akan lenyap dari kancah sejarah, dan hendak diganti oleh bangsa lain. Tetapi waktu kerajaan-kerajaan itu sedang berjalan, Allah akan mendirikan suatu kerajaan yang lain, yang berbeda dari kerajaan-kerajaan manusia, yang akan meliputi seluruh alam dan akan kekal. Maka tujuan kitab Daniel ialah untuk mengajarkan kebenaran, bahwa walaupun umat Allah dalam perbudakan dari suatu bangsa lain, Allah sendirilah yang berdaulat dan menentukan nasib suatu bangsa. 

IV.             Kesimpulan

Pada dasarnya kitab Daniel dan kitab Wahyu merupakan sebuah kitab yang mengutarakan pemikiran yang diperlihatkan dengan adanya berbagai macam bentuk penglihatan. Penglihatan yang disampaikan terutama menyangkut pada zaman akhir. Relasi teologisnya adalah bahwa pada zaman akhir ini, kuasa-kuasa jahat akan menindas umat yang setia pada Allah, tetapi pada akhirnya kejahatan itu akan dihancurkan dan umat yang beriman akan diselamatkan.

Teologi kedua kitab melihat yang akan terjadi kemudian, penglihatan bukan diakhiri dengan hukuman dan kebinasaan yang dijatuhkan terhadap kerajaan atau penguasa-penguasa dunia itu, melainkan kedatangan seorang anak manusia yang diberi mahkota kehormatan, kekuasaan dan kemuliaan yang kekal untuk menguasai kerajaan yang tidak akan pernah berakhir, kekal selama-lamanya, dimana semua bangsa dan manusia akan mengabdi kepadaNya yaitu Allah itu sendiri dalam rupa manusia.

Penglihatan yang tertuang dalam kedua kitab adalah pandangan keabadian Allah yang adalah Sang Alfa dan Omega, yang awal dan akhir. Dia yang menciptakan dan Dia juga yang bisa mengakhiri ciptaanNya sesuai kehendakNya saja, sebab Allah yang berkuasa. Dunia akan berakhir, pengetahuan juga akan berakhir tapi satu hal yang tidak akan berakhir yaitu Sang Alpha dan Omega. Kedua kitab ini membuktikan bagaimana kuasa Allah akan dunia ini, yang tak seorangpun bisa sembunyi dihadapanNya.

GKJW sangat berpotensi sebagai “Yerusalem Baru”, sebuah “Gereja Kudus” kepunyaan Allah. Semua perlambang yang disajikan dalam bingkai program dengan terapan kegiatan yang sudah dan tengah serta akan dijalaninya, akan menjadi kenyataan dengan terwujudnya “Gereja Baru” yang tidak hanya untuk menopang primordial pribadi. Tetapi adalah Gereja Baru yang hadir tidak hanya sebagai perlambang kasih Kristus, tetapi yang senantiasa menyampaikan kasih yang berasal dari “Yerusalem Baru” milik Allah.

Daftar Pustaka :

[3] Pdt.Drs.Henk ten Napel,Jalan Yang Lebih Utama Lagi, Etika Perjanjian Baru,BPK Gunung Mulia 2006, hal 226
[4] Pdt.Drs.Henk ten Napel,Jalan Yang Lebih Utama Lagi, Etika Perjanjian Baru,BPK Gunung Mulia 2006, hal 225

[6] https://leonardoansis.wordpress.com/ yerusalem-baru-dalam-kitab-wahyu/(4 Mei 2016; 16;40)