Kamis, 26 Agustus 2021

YESUS ADALAH ROTI HIDUP

Bacaan: Yohanes 6: 41-51


Pemberian makanan kepada bangsa Israel di padang gurun yang dikenal dengan “manna” adalah simbol dari roti yang akan datang. Manna dari sorga adalah gambaran awal dari roti perjamuan Tuhan yang diberikan kepada para murid-murid menjelang saat pengorbanan Tuhan Yesus. Jika manna yang diberikan kepada bangsa Israel pada waktu itu tidak bisa memberikan hidup yang kekal, tentu berbeda dengan yang dimaksudkan Tuhan Yesus yang menyebut diri-Nya sebagai Roti Hidup. Yang diberikan oleh Tuhan Yesus adalah roti sorgawi yang menghasilkan hidup Ilahi dalam diri kita. Yaitu roti yang sesungguhnya dapat memenuhi kebutuhan hakiki manusia, memuaskan dari rasa lapar dalam hati dan jiwa. Jadi roti hidup yang dinyatakan Tuhan Yesus, bukanlah sebagaimana yang umat Israel ketahui seperti manna yang turun dari sorga, namun tidak demikian dengan Roti Hidup yang datang dari sorga ini, setiap manusia yang menerimanya akan memperoleh hidup yang kekal.

Tuhan Yesus menyatakan diri sebagai Roti Hidup bukanlah ingin mengungkapkan bahwa tidaklah penting mencari kebutuhan jasmani saat berada di dunia ini, namun supaya manusia mengerti bahwa ada “Sosok Hidup” yang mengendalikan perjalanan dan dinamika kehidupan di dunia ini. Tuhan Yesus menginginkan manusia mengenal dan mendekat kepada siapa yang pegang kendali dalam mengatasi perjalanan kehidupan dan tentu saja percaya kepada-Nya. Tuhan Yesus tidak menginginkan manusia hanya terpusat dan pada akhirnya terpikat untuk memperhatikan kebutuhan jasmaninya saja. Sebab jika demikian maka manusia cenderung semakin tertutup untuk menerima kebenaran dan keberadaan Tuhan. Semakin manusia mencurahkan seluruh waktu dan tenaga untuk kenikmatan duniawi, semakin terbawa arus dan menjauh sekaligus melupakan Sang Roti Hidup. Kehadiran Tuhan Yesus di dunia ini sangatlah jelas kemudian, memberi makanan yang mampu memelihara kehidupan rohani dan memberi hidup yang kekal. Penjelmaan diri sebagai manusia sekaligus sebagai Roti Hidup, Tuhan Yesus ingin memposisikan peran sebagai pusat dan pemilik kehidupan. Sehingga, siapapun yang makan daging dan minum darah-Nya, mereka akan memiliki hidup yang kekal dan pasti dibangkitkan dari kuasa maut.

Dalam perjamuan kudus ini, kita akan menerima roti dan anggur sebagai simbol daging dan darah Tuhan Yesus. Itu juga berarti kita menerima Roti Hidup dengan segala peran yang diberikan kepada hidup kita. Ketika kita menerimanya, petanda kita bersedia menyatukan diri dengan Tuhan Yesus. Roti Hidup yang kita terima ini menyembuhkan tubuh dan jiwa serta menguatkan kita dalam perjalanan menuju ke kehidupan sorgawi yang kekal. Tidaklah mudah berproses bersama dengan Tuhan Yesus, membutuhkan kesediaan untuk bersinergi dengan Tuhan Allah. Membangun komunitas dalam gereja Tuhan, memerlukan kehadiran Allah sendiri untuk memampukan kita tetap bertahan dalam kerendahan hati, kejujuran, mengendalikan emosional, bekerja keras, penuh kasih dengan sesama, terlebih mereka yang benar-benar memerlukan bantuan. Jauhkan diri dari segala upaya yang akan meruntuhkan semangat perjalanan pelayanan kita dalam membangun gereja milik Tuhan. Perkenankan senantiasa, Tuhan Yesus yang memiliki hak kehidupan yang berkarya untuk kita semua, agar kita terus diberi kekuatan dan pengharapan serta dimampukan berkarya yang terbaik untuk gereja-Nya.

Tuhan Yesus memberkati   

Amin

Minggu, 01 Agustus 2021

TAAT KEPADA ALLAH YANG PEDULI

Bacaan: Yohanes 6:24-35 

Bila kita kembali mengingat perjalanan umat Israel menuju tanah perjanjian, bukanlah peristiwa yang mudah untuk dipahami. Janji Allah yang diberikan melalui nabi Musa kepada umat Israel tidaklah mudah diterima. Janji akan adanya dunia baru yang masih dalam angan-angan tak kunjung diperolehnya, malahan mereka harus menghadapi krisis di padang gurun yang tidak mengarah kepada situasi yang membaik. Tuhan yang menyertai mereka pastilah mendengar seruan atau bahkan keluhannya. Hal yang mendasar yang dibutuhkan oleh umat pada waktu itu, yaitu makanan dan Allah mengirimkannya. Semua berkat itu berasal dari Allah dan untuk memberi hidup kepada dunia, “mereka diberi-Nya makan roti dari sorga”. Yang menjadi tantangan ketika Allah menyediakan makanan yang berlimpah kepada umat-Nya adalah mengambil secukupnya. Allah menginginkan mereka mengambil menurut ukuran yang secukupnya, sebab jika mengambil makanan yang disediakan Allah itu berlebihan, makanan itu akan membusuk. Tidaklah mudah untuk memerangi diri dengan menekan nafsu keserakahan, hal itu disebabkan rasa kawatir akan kekurangan, padahal Allah terus siap sedia menyediakan sesuai dengan yang dibutuhkan. Allah yang peduli tidak menginginkan semua umat menjadi kawatir dan serakah, sebab ternyata jika mengambil diluar ukuran yang diinginkan Allah yaitu secukupnya, akan berdampak buruk dalam kehidupan umat. 

Bacaan kita hari ini kembali mengingatkan ketika Tuhan Yesus menceritakan ulang bagaimana Allah memberi makan kepada umat Israel pada zaman Musa. Umat Israel diberi makan Tuhan agar supaya memiliki kekuatan untuk kembali melanjutkan perjalanan mengikuti rencana dan kehendak Allah menuju tanah yang dijanjikan-Nya. Dengan demikian tanpa disadari, bahwa umat Israel ikut terlibat dalam karya Allah. Tuhan Yesus juga menginginkan hal yang sama, bahwa setelah Allah memberi umat makanan yang cukup, hendaknya mereka berkenan terlibat dalam karya-Nya. Menjadikan dunia yang haus akan kasih, kebenaran, keadilan serta damai sejahtera itu akan terpenuhi. Sehingga menjadi umat Kristen yang adalah umat pilihan Tuhan Yesus, tidak hanya untuk kepentingan bahkan kepuasan pribadi saja, namun tetap berkarya bersama-Nya menghadirkan cinta kasih yang dunia butuhkan. Seperti halnya umat Israel yang diberi roti dari sorga, demikianlah Tuhan Yesus dengan pernyataan-Nya, “Akulah roti hidup” menunjukkan bahwa Tuhan Yesus berasal dari sorga, dan barang siapa yang telah menerima “roti hidup yang dari sorga tersebut” hendaknya juga terlibat dalam karya Allah dalam mewujudkan kasih, kebenaran, keadilan dan damai sejahtera. 

Menjadi catatan setiap pribadi kita sebagai umat Kristen, keberadaan kita sebagai umat Tuhan, hendaknya tetap memiliki keyakinan bahwa Allah akan melepaskan kita dari kelaparan. Namun Tuhan juga mengingatkan bahwa kita hendaknya mengambil secukupnya, supaya kita terbebas dari bencana yang kita buat sendiri. Jauhkan dari pemikiran bahwa mengikut Tuhan Yesus hanya bertujuan supaya hidup kita layak bergelimang harta. Sebagai pengikut Tuhan Yesus yang telah dicukupi kebutuhannya, tentu akan menggerakkan kita berkarya dengan mewujudkan “Roti yang benar dari sorga” dalam hidup sehari-hari, sehingga setiap umat yang ada di sekitar kita merasakan kasih, kebenaran, keadilan dan damai sejahtera. Itulah wujud karya Allah dalam kehidupan kita, yang akan terus berlangsung sesuai dengan waktu Tuhan yang diberikan kepada kita. 

Tuhan Yesus memberkati 
Amin

Aku ini, Jangan Takut

Bacaan: Yohanes 6:1-21 

Perjalanan kehidupan manusia tidak bisa terhindarkan dengan situasi yang tidak menyenangkan, situasi genting atau lebih mudahnya disebut krisis. Situasi seperti ini juga melanda umat Tuhan, dalam perjalanan para nabi yang tercatat di Perjanjian Lama seperti yang dialami oleh Abraham dan Yakub, serta pada zaman nabi Elia, pada saat Raja Ahab yang membawa rakyatnya memuja Baal. Pada waktu itu Israel mengalami krisis pangan, kelaparan, dan kemiskinan melanda dimana-mana. Pengalaman yang sama juga terjadi dalam kisah di Perjanjian Baru, seperti termuat dalam bacaan kita hari ini, dimana Tuhan Yesus mengetahui bahwa banyak orang yang mengikutinya mengalami kelaparan. 

Pada saat ini, kita juga masuk dalam situasi yang tidak menyenangkan yang tidak hanya situasi krisis biasa, tetapi bisa disebut sebagai multi dimensi krisis, yaitu situasi yang menyebabkan banyak krisis-krisis lainnya sebagai dampak dari satu situasi krisis yang terjadi terlebih dahulu. Kita mengetahui seperti yang kita sedang alami saat ini, bermula dari krisis kesehatan, dengan adanya pandemic covid-19 yang kemudian menimbulkan beragam krisis seperti krisis sosial, ekonomi, politik di hampir semua lapisan kehidupan masyarakat. Dampak yang terjadi dengan adanya krisis yang melanda lapisan masyarakat itu, kemungkinannya akan terjadi dua hal. Pertama, membuat kita semakin tangguh, tanggap dan tumbuh daya juang untuk menciptakan daya kreasi dalam upaya menyelamatkan keluarga dari kelaparan, terbebas dari beragam godaan yang melemahkan nilai sosial, serta terus berupaya terlibat dalam gerakan untuk menjaga dinamika perpolitikan sehingga pemerintahan berjalan baik dan negara tetap utuh. Kedua, akan terjadi sebaliknya, kita menjadi putus asa, tanpa harapan, terlebih jika kemudian seseorang mengalami krisis jati diri. Seseorang tidak lagi memiliki arah, apa yang akan dilakukannya, hidupnya diliputi dengan ketakutan, ini sangat membahayakan. 

Krisis jati diri juga dialami oleh para murid Tuhan Yesus pada saat menghadapi banyak orang yang kelaparan, dan pada saat mengalami ketakutan saat perahu mereka dihantam angin kencang. Tuhan Yesus mengingatkan kepada para murid supaya tidak mudah cuci tangan dan masa bodoh dengan situasi krisis tersebut. Para murid harus memperhatikan mereka yang sedang memerlukan perhatian, mereka yang sedang mengharapkan kasih sayang. Para murid harus memiliki pemahaman bahwa dalam dirinya ada kemampuan yang senantiasa ditopang oleh Allah, bukan kemampuan manusia duniawi yang serba terbatas dan egois. Tuhan Yesus menyerukan kepada para murid, “Aku ini, jangan takut”. Seruan yang menguatkan dan sekaligus mengingatkan untuk membuka jalan pikiran kita bahwa Allah tetap memeluk kita dengan kasihNya, demikian kita hendaknya memperkenankan Allah untuk senantiasa hadir dalam kehidupan kita. Dengan demikian, kalaupun krisis masih berjalan, namun Tuhan ada dimanapun kita ada, Tuhan akan senantiasa pegang kendali dalam situasi apapun. 

Pada akhirnya, hendaknya kita memiliki sikap yang baik dalam menghadapi krisis, yaitu; marilah kita hidup dari apa yang ada, hidup dengan sikap penuh syukur, mengelola berkat Tuhan dengan benar berlandaskan hikmatNya, dan yang tidak kalah utamanya adalah tindakan berbagi sebagai wujud kita terlepas dari perilaku cuci tangan dan masa bodoh. 

Tuhan Yesus memberkati 
Amin

Kuat Menghadapi Penolakan

Bacaan: Markus 6:1-13 

Sakit rasanya kalau terjadi penolakan-penolakan yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar keberadaan kita. Ketika ide, pikiran yang ingin kita sampaikan langsung ditolak begitu saja, bahkan dengan kata-kata yang cenderung kasar. Setidaknya ada dua hal yang menjadi alasan mengapa kita sering mendapat penolakan tersebut. Pertama, kondisi dan status keluarga kita. Dalam kehidupan kita sehari-hari, seringkali setiap penolakan-penolakan yang kita alami karena orang-orang banyak menilai bukan hanya diri kita, tetapi seisi rumah kita. Kedua, lingkungan kita. Seringkali kita direndahkan, misalnya hanya kita dianggap tidak bisa melakukan hal besar seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang kedudukannya lebih tinggi. 

Pada saat kita ingin menyampaikan suatu kebenaran ternyata kita malah dijauhi, ketika kita ingin menolong orang lain ternyata pertolongan kita itu tidak dihiraukan bahkan kita menjadi bahan omongan karena dianggap ingin mencari pujian, ingin dilihat sebagai orang yang hebat dan sebagainya. Dari setiap penolakan-penolakan yang dialami ini, ada satu hal yang perlu kita lihat dari teladan Yesus, yaitu Ia tidak marah kepada orang-orang ditempat asal-Nya sendiri. Ia tidak merenungi atau meratapi nasib-Nya, Ia juga tidak menyerah begitu saja akan kondisi yang dialami-Nya. Ia bahkan fokus kepada rencana-Nya untuk melanjutkan setiap pekerjaan yang harus Ia kerjakan. Penolakan yang Yesus alami membangkitkan semangatnya untuk tetap mengajar di tempat asal-Nya. Yesus bahkan mengutus kedua belas murid-Nya untuk tetap mengajar. Murid-murid diminta untuk memberitakan bahwa setiap orang harus bertobat, bahkan mereka pun mengusir banyak setan dan menyembuhkan orang sakit. Dengan demikian dapat terlihat bahwa penolakan yang dialami Yesus, justru dimanfaatkan untuk membangkitkan semangat diri-Nya serta murid-murid-Nya untuk senantiasa mengajarkan kebenaran kepada orang-orang disekitar keberadaan-Nya. 

Penolakan yang kita alami tidak dapat dibandingkan dengan penolakan yang Tuhan Yesus alami. Penolakan terhadap Tuhan Yesus jauh lebih berat daripada penolakan yang kita alami. Tetapi pada saat yang sangat berat seperti itu, Tuhan Yesus mampu untuk bertahan dan menghalau semuanya. Tuhan Yesus adalah figur teladan bagi para pemimpin dan bagi kita semua. Beratnya tugas yang diemban oleh Tuhan Yesus sudah mulai nampak ketika Ia ditolak oleh orang-orang di kampung halaman-Nya sendiri. Padahal mereka adalah orang-orang yang paling dekat dengan-Nya yang seharusnya memberikan dukungan terhadap karya keselamatan yang mulai dikerjakan. Tetapi justru merekalah yang kini berusaha melemahkan semangat Tuhan Yesus. Namun Ia adalah pribadi yang berpandangan luas. Keselamatan bukan hanya untuk orang-orang tertentu saja, tetapi bagi semua orang. Meskipun berkarakter pemimpin, Ia tidak memaksa orang lain untuk percaya kepada-Nya. Tuhan Yesus hanya hendak membuka mata semua orang bahwa apa yang dinubuatkan oleh para nabi kini telah menjadi kenyataan. Roh Tuhan ada pada-Nya, Kristus-lah yang terurapi, yang diutus untuk memberitakan kabar gembira. 

Dalam pengalaman kita ditolak orang lain, bahkan oleh orang–orang yang terdekat dengan kita. Kita tidak perlu kecewa jika kita ditolak karena menegakkan kebenaran sesuai dengan iman Kristen kita. Suara kenabian harus kita gemakan pada masa sekarang ini. Marilah kita mengingat juga bahwa Tuhan Yesus juga pernah ditolak, bahkan sampai menderita dan mati di kayu salib. Tetapi justru melalui peristiwa itu, Ia diangkat oleh Bapa menjadi penguasa atas dunia ini. Kita pun seharusnya meneladani Tuhan Yesus. Apapun penolakan dunia ini, hendaklah kita terus maju dan berjuang demi iman kita kepada Kristus. Dan kalau kita bisa bertahan, kitalah pemenang atas hidup kita. Apapun yang terjadi dalam hidup, percayalah, Tuhan tidak akan meninggalkan kita. 

Amin

“GEREJA YANG PENUH KASIH”

Bacaan : Markus 12: 28-34 Saat ini kita hidup dalam suatu kondisi yang cenderung semakin acuh tak acuh, kita berada dalam alur kehidupan yang jauh dari kepedulian. Setiap hari kita berhubungan dengan banyak orang, namun tidak selalu mampu memperlakukannya dengan penuh kasih. Sehingga relasi yang ada dalam pengertian tidak lagi mampu melihat dan memperlakukan sesama sebagai seorang pribadi yang utuh sebagaimana adanya. Tidaklah mengherankan jikalau dalam situasi yang seperti ini, kita sering terdorong memperlakukan orang lain sebagai obyek yang hanya dimanfaatkan untuk kepentingan diri kita sendiri. Itulah sebabnya hidup kita seringkali masuk kedalam berbagai pertentangan, yang dimulai dari dalam kehidupan keluarga, dalam pekerjaan, dengan tetangga dan di lingkungan lainnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam diri setiap orang sebenarnya memiliki kecenderungan untuk mementingkan diri-sendiri. Dengan demikian, seseorang selalu berusaha untuk mempertahankan kepentingan dirinya daripada memperhatikan sesamanya. Karena itu kita dituntut untuk menaklukkan diri kepada peraturan-peraturan yang telah disepakati untuk diberlakukan dalam tatanan kehidupan. Kita telah memahami bahwa setiap pertentangan senantiasa menimbulkan penderitaan, kesedihan, kegelisahan dan luka-luka batin yang sulit terobati. Karena itu bagaimanakah kita harus mempedulikan sesama dengan penuh kasih merupakan tugas dan panggilan bersama untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai umat Kristen yang sekaligus sebagai gereja yang ditumbuhkan Tuhan dan untuk berkarya bersama-Nya. Kisah kehidupan umat Israel yang kita sering baca dalam kitab-kitab Perjanjian Lama, umumnya hanya menghayati hukum Taurat yang berisi ketetapan firman Allah untuk mengatur kehidupan, yaitu bagaimana mereka harus bersikap kepada Allah dan sesamanya. Namun dalam praktek hidup sehari-hari seringkali hanya dipahami sebagai peraturan keagamaan dalam relasinya dengan Allah dan sesama. Mereka kelihatan berusaha mentaati hukum Allah tersebut dengan setia, namun pada sisi lain, hubungan mereka dengan Allah dan sesama tidak berarti menjadi lebih sempurna. Ibadah mereka sering dipakai untuk menyembunyikan segala perbuatan yang jahat terhadap sesama. Rajin dalam ibadah kepada Tuhan, tetapi mereka juga sering berlaku kejam dan tidak adil kepada sesama di sekitarnya. Itulah sebabnya ketika seorang ahli Taurat bertanya kepada Tuhan Yesus, “Hukum manakah yang paling utama?” maka Tuhan Yesus menjawab: "Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita. Tuhan itu Esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama daripada kedua hukum ini." Inti jawaban Tuhan Yesus tersebut pada hakikatnya mau menegaskan bahwa kasih kepada Allah dengan segenap hati dan akal budi sama sekali tidak boleh dipisahkan dengan kasih kepada sesama. Dalam hal ini Allah tidak lagi diperlakukan sebagai sang Pencipta yang dikasihi dengan segenap hati, jiwa dan akal-budi; tetapi Tuhan di tuntut sebagai sarana dan diminta untuk memenuhi kebutuhan demi kepentingan diri kita sendiri. Gereja yang juga diartikan sebagai pribadi-pribadi pilihan Tuhan, terus berupaya untuk tidak membuat pemisahan kasih kepada Allah dengan sesama. Allah adalah sumber kasih, sehingga menyembah dan mempermuliakan Allah seharusnya mendorong gereja untuk semakin mengasihi dan memanusiawikan sesama. Gereja sangat dibutuhkan kehadirannya dalam kondisi saat ini, senantiasa berupaya menumbuhkan penghayatan iman Kristen yang benar. Kasih Allah ditampilkan dalam setiap sisi kehidupan gereja, yang mengasuh, marawat serta menopang setiap sisi kehidupan kehidupan dengan setia. Tuhan memberkati kita, Amin

Jumat, 12 Juni 2020

KASIH UNTUK SETIA


Bacaan  : Yohanes 14:15-31



Dalam Bacaan kita hari ini, Yesus memakai kata AKU untuk menghubungkan diri-Nya dengan hakekat Allah dan untuk menggambarkan apa yang telah Allah berikan kepada-Nya agar kemudian Ia lakukan bagi umat manusia. Yesus juga memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah yang yang menyediakan semua kebutuhan dan yang membawa pengenalan mengenai Allah kepada manusia. Yesus memiliki maksud bahwa diri-Nya sebagai jalan bagi manusia untuk bertemu dengan Allah dan menjadi umat Allah. Pada hakekatnya Yesus menunjukkan bahwa Ia sejak awal sudah ada dalam rencana Allah.
Yesus juga memberitahukan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia akan mengirim Roh Kudus untuk menolong dan mengajarkan mereka segala sesuatu, serta mengingatkan akan apa yang telah Yesus ajarkan kepada mereka. Roh Kudus akan memperlihatkan apa yang benar dan memimpin mereka kedalam seluruh kebenaran. Karya Roh Kudus itulah yang membebaskan umat Allah yang baru serta mengubah kehidupan mereka, sehingga mereka mengalami damai sejahtera dan setia untuk taat kepada Allah. Dengan demikian melalui pekerjaan Roh Kudus, manusia memiliki kemampuan untuk memahami kehendak Allah, untuk hidup bersama dalam kasih, untuk melihat apa yang mereka dapatkan di masa depan dan untuk melaksanakan berbagai tugas dalam pekerjaan dan pelayanannya.
Perwujudan cinta kasih Allah tentunya memberi peluang yang baik bagi kita untuk senantiasa berperilaku setia membalas kasih-Nya, dengan memberikan segenap keberadaan hidup kita dikuasai dan dipimpin oleh Roh Kudus yang adalah Roh Allah. Kesadaran kita akan senantiasa terbangun jika kita dikuasai oleh-Nya. Disaat rintangan kehidupan yang seolah-olah akan melumpuhkan kita, muncullah pengalaman-pengalaman baru yang spektakuler dalam kehidupan kita betapa kekuatan yang tidak tampak dari Allah melindungi kita dan melenyapkan kendala-kendala tersebut.
Sesuatu yang tidak akan terlupakan kemudian adalah, bahwa kehadiran Roh Kudus yang senantiasa menciptakan damai sejahtera dan melindungi kita, merupakan tanda atau bukti bahwa suatu saat kelak kita akan berada bersama Yesus di rumah Bapa. Sementara kita menanti saatnya tiba, maka marilah kita berlandaskan kasih-Nya, kita tunjukkan kesetiaan  dengan memperlihatkan kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari.  
Amin.

SENANTIASA BERSYUKUR


Bacaan  : I Raja-Raja 8:54-65



Rasa syukur Salomo kepada Allah didasari oleh karena tidak satupun permohonan bangsa pilihan Allah yang tidak terpenuhi. Dengan selesainya pembangunan Bait Allah, terpenuhilah dua janji penting yang telah dibuat Allah dengan bangsa Israel. Pertama, janji kepada Daud bahwa putranya akan menjadi raja dan yang membangun Bait Allah. Kedua, Israel akan mengalami masa damai setelah menaklukkan Tanah Perjanjian dan mendirikan pusat peribadatan di tempat yang telah dipilih Allah. Keberadaan Bait Allah mempersatukan seluruh bangsa secara keagamaan, serta hal ini dianggap juga memperlihatkan keberhasilan Salomo dalam mempersatukan mereka secara politis. Sebagai ungkapan kerendahan hati Salomo, bahwa segala permintaan tidak semata-mata atas usaha sendiri terlebih untuk kepentingan pribadi. Memiliki arti juga bahwa segala doa dan pujian kepada Allah atas pemenuhan segala permohonan bisa diperlihatkan kepada bangsa Israel, dan segala bangsa bahwa Tuhanlah Allah, dan tidak ada yang lain. Dengan demikian bangsa Israel senantiasa berpaut kepada Tuhan, menurut segala ketetapan-Nya dengan sepenuh hati.
Catatan yang bisa kita pahami dalam kisah kehidupan Salomo ini, membuka mata hati kita bahwa penyertaan Allah berlaku abadi bagi yang dipilih-Nya. Pemenuhan janji-Nya tidak akan terlewati dalam setiap permintaan orang percaya. Namun yang perlu diingat kemudian adalah, bahwa pemenuhan berkat Allah itu harus dipahami bukan atas dasar usaha kita sendiri. Termasuk jangan merasa hanya diri-sendirilah yang diberkati Tuhan, yang lain belum tentu terberkati, sebab yang menetapkan itu Allah sendiri. Semua wujud berkat Allah juga hendaknya dipakai untuk kebahagiaan sesama, artinya ada tindakan berbagi dengan sesama sebagai wujud berbagi cinta kasih Tuhan dan menyaksikan bahwa Tuhanlah Allah.
Rasa syukur dalam wujud doa dan pujian, biarlah itu merupakan tindakan rutinitas keseharian kita sebagai wujud cara orang-orang percaya untuk memuliakan Tuhan, sehinga kita tidak akan terjebak memuliakan diri sendiri. Selamat untuk senantiasa bergantung kepada Tuhan supaya kita senantiasa hidup dalam lingkaran kuasa Tuhan yang penuh dengan pengharapan abadi.

Amin.