Senin, 10 Februari 2025

MENYEMBAH KEPADA YANG MENCIPTAKAN

 Bahan Bacaan: Keluaran 32: 1-14


Betapa sulitnya manusia untuk setia dan memihak pada yang memiliki kehidupan yaitu Allah sebagai Sang Pencipta. Kesetiaan yang sudah ditunjukkan oleh Allah menyertai perjalanan panjang hidup manusia rupanya tidak cukup untuk menumbuhkan kesetiaan sebagai suatu tanggapan yang semestinya. Berkat dan kebaikan Allah cenderung untuk sekedar dinikmati sesaat. Kesulitan baru dan dorongan untuk hidup serakah gampang membuat manusia lupa akan kasih dan kebaikan Tuhan. Situasi ini sebetulnya hanya akan berakhir dengan suatu kehancuran. Syukur bahwa dalam kehidupan umat yang dikasihinya ada sosok yang berperan istimewa sebagai figur yang setia dalam keadaan apapun, termasuk dalam situasi yang secara manusiawi sudah tidak ada alasan untuk dibela, yaitu keberadaan Roh Kudus yang menuntun kehidupan manusia.

Perikop yang kita renungkan saat ini, mengingatkan akan Allah yang telah mengikat perjanjian dengan Israel di atas gunung Sinai. Allah telah memberikan berbagai peraturan dan petunjuk kepada Musa untuk membuat Kemah Suci dan berbagai kelengkapan pendukungnya. Bahkan Allah menuliskan sendiri, sepuluh hukum Allah pada dua loh batu. Kita tahu bahwa dua hukum yang pertama mengharuskan umat Israel untuk mengutamakan Allah dan melarang mereka untuk menyembah ilah lain. Namun sangat bertentangan pada kenyataannya, ketika berada di kaki gunung saat menantikan Musa, ternyata membuat umat Israel tidak sabar. Mereka mengira bahwa Musa sudah binasa dalam api yang terlihat menghanguskan di puncak gunung Sinai. Maka bagai anak ayam kehilangan induk, bangsa Israel terlihat kacau. Lalu mereka mendesak Harun untuk membuat allah lain, yang akan memimpin mereka. Sayangnya, Harun mengikuti kemauan orang Israel dengan membuat patung lembu emas. Dengan berbuat demikian, mereka menyamakan Allah dengan patung yang tidak memiliki kuasa apapun. Mereka melupakan Allah yang masih hadir dalam kemuliaan-Nya di atas gunung Sinai. Allah yang telah membebaskan mereka dari perbudakan Mesir dan memelihara hidup mereka. Mereka lebih ingin percaya kepada allah palsu, buatan tangan mereka sendiri. Tidak heran, Allah murka sehingga ingin membinasakan Israel. Namun Musa, sebagai pemimpin yang mengasihi umat, memohon agar Tuhan mengampuni umat-Nya demi nama baik-Nya agar tidak diolok-olok oleh orang Mesir, juga demi perjanjian dengan leluhur Israel. Tuhan mendengarkan permohonan Musa yang setia terhadap bangsanya yang keras hati, bangsa Israel memperoleh pengampunan dari Tuhan. Tuhan tidak jadi menghukum atau bahkan membinasakan bangsa Israel. Kesetiaan Musa berbuah pengampunan Tuhan yang membuat sejarah penyelamatan tetap.

Karena doa Musa didengar Tuhan, Ia tidak jadi melenyapkan umat-Nya. Dibalik sikap ketegasan tersimpan cintanya yang begitu besar kepada bangsanya dan keyakinan pribadinya bahwa kasih setia Tuhan memang luar biasa. Saatnya kita mawas diri bahwa kemarahan Allah memperlihatkan ketidaksukaan-Nya bila umat tidak menjadikan Dia sebagai Allah satu-satunya. Sebab itu mari kita introspeksi, adakah kita menjadikan Allah sebagai satu-satunya yang kita sembah atau adakah pihak lain yang menjadi sandaran hidup kita? Ingatlah, kita hanya boleh menyembah dan memprioritaskan Allah di atas segala sesuatu karena Dia senantiasa mengasihi kita, terlebih telah menebus kita. Tuhan memberkati kita. Amin.

MEMELIHARA KESETIAAN

 Bahan Bacaan: Yosua 22: 1-9


Mendengar kata hadiah setidaknya tanggapan kita lebih cepat ketika mendengar kata tanggung jawab. kata hadiah menarik perhatian, namun ketika mendengar kata tanggung jawab, mungkin kita akan mengerut dahi kita. Secara alamiah, kita menyukai penghargaan dan sering kali meremehkan yang namanya tanggung jawab.

Bacaan kita mengungkapkan bagaimana Yosua berbicara, ia berbicara dengan jujur ​​dan sebagai seorang nabi Allah. Ia memuji suku Ruben, suku Gad, dan setengah suku Manasye. Kita tentu ingat bahwa suku-suku ini diberi jatah tanah di sisi timur Sungai Yordan. Namun, mereka tidak langsung menetap di sana. Mereka membantu suku-suku Israel yang tersisa dengan terus berperang melawan orang Kanaan. Atas hal ini, mereka patut dipuji. Mereka tidak meninggalkan saudara-saudara mereka, tetapi bertempur berdampingan dengan mereka. Lalu berkatalah Yosua bahwa mereka telah melakukan segala yang diperintahkan Musa, dan telah mendengarkan firman Allah dalam segala yang diperintahkan kepadanya. Pujian terhadap suku-suku tersebut tentu saja mencakup tindakan mereka dalam pertempuran militer. Namun, pujian itu juga lebih luas dari itu dengan mengatakan bahwa mereka telah menaati semua perintah Yosua, dan yang lebih penting lagi, mereka telah berhati-hati dalam memelihara tugas dari Tuhan Allah. Meskipun jelas bahwa mereka dipuji karena mereka menaati perintah Tuhan, namun penyebab sebenarnya mereka dipuji, adalah apa yang ada di balik mereka, dan itu tidak lain adalah iman. Perbuatan mereka adalah hasil dari iman. Jadi, meskipun perbuatan mereka dipuji, yang harus dipahami adalah bahwa pada akhirnya iman merekalah yang sebenarnya dipuji. Mereka percaya kepada Tuhan melalui peperangan selama bertahun-tahun bahwa suatu hari mereka akan kembali ke tanah yang telah diberikan kepada mereka.

Pada akhirnya, menarik untuk dikaji selanjutnya, bahwa sebenarnya bagi seorang yang beriman Kristus, hadiah itu adalah iman dan iman itu adalah mengenal Tuhan. Oleh karena itu, hadiahnya adalah mengenal Tuhan kita sendiri. Dia adalah hadiah iman kita. Itulah sebabnya hadiahnya ada disini dan sekarang serta selamanya. Dan inilah hadiah terbesar yang ada, yaitu mengenal Tuhan dan bersatu denganNya. Seperti yang tertulis dalam Kitab Suci, bahwa kita memiliki pikiran Kristus. Kita mengetahui sebagian dari apa yang Dia ketahui. Kita terhubung dengan Tuhan dalam pengetahuan dan iman. Demikian juga tentang tanggung jawab, mari kita cermati dari suku-suku yang diberi hadiah, mereka tetap didorong untuk tetap kuat di dalam Tuhan. Mereka telah memenangkan peperangan, tetapi mereka tidak boleh lengah dalam ketaatan mereka kepada Tuhan. Yosua menyuruh mereka pulang ke rumah mereka di sebelah timur Sungai Yordan dan berpesan bahwa mereka harus sungguh-sungguh melakukan perintah dan hukum yang diperintahkan kepadanya oleh Musa, yakni mengasihi Allah, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, berpegang pada perintah-perintah-Nya, berpaut pada-Nya dan beribadah kepada-Nya dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa. Hal tersebut dilakukan bukan untuk meraih hadiah atau meneruskan mendapatkan hadiah yang berupa tanahnya, tetapi untuk menunjukkan keimanan mereka terhadap apa yang sudah mendatangkan pahala bagi mereka. Jadi kita diselamatkan oleh iman, tetapi diberi tanggung jawab untuk mengamalkan iman itu. ini adalah tanggung jawab kita.  Tuhan memberkati kita. Amin.

BUKAN SUATU KEBETULAN

Bahan Bacaan: Rut 2: 1-23


Setiap kita tentu pernah mengalami sebuah peristiwa kehidupan yang unik, baik keunikan yang menyedihkan atau yang bahkan menyenangkan. Terkadang dibalik keunikan yang tidak menyenangkan, tiba-tiba secara kebetulan ada berkat yang kita dapatkan diluar pikiran, rencana bahkan nalar kita. Bagi kita, tentu ada banyak hal yang terjadi secara kebetulan di luar rencana kita. Namun seperti apapun cara pandang dan berpikir kita tentang sebuah peristiwa, apa yang nampak sebagai kebetulan, ternyata Tuhan sedang bekerja dibalik semuanya itu. Kita diingatkan bahwa apa yang kita anggap sebagai suatu kebetulan, sebenarnya bukanlah suatu kebetulan, peristiwa tanpa sebab, tetapi Tuhan memang sedang mengerjakan sesuatu dalam hidup kita. Oleh karena itu, amatlah baik jika dalam setiap rencana, kita meminta pimpinan Tuhan. Dengan demikian, apapun peristiwa yang kita alami, membuat kita dapat belajar memahami serta menghayati setiap kehendak Tuhan.

Bacaan kita hari ini kembali mengingatkan kembali akan sebagian kisah kehidupan seorang wanita setia yaitu Rut. Suatu saat Rut meminta ijin dari Naomi agar dapat memungut bulir-bulir jelai di ladang gandum milik Boas. Sesungguhnya Rut tidak mengetahui tentang Boas, dia hanya ingin bekerja memenuhi kebutuhan hidup mereka. Akan tetapi, peristiwa ini sedang dalam rencana Tuhan bagi masa depan Naomi dan Rut. Perjumpaan dengan Boas membuat Rut tidak hanya menerima kesempatan bekerja tetapi juga mendapat perlindungan dari Boas dalam menjalani pekerjaannya itu. Semua ini terjadi karena perhatian yang serius yang dimiliki oleh Rut dan ketulusannya serta kesetiaannya kepada Naomi. Hal ini menunjukkan kepada kita bagaimana Allah turut bekerja mendatangkan segala sesuatu yang baik dalam kehidupan.

Tantangan hidup yang kita alami karena suatu keadaan yang sulit, dapat diubah oleh Allah menjadi suatu kesempatan bagi kita untuk mendapatkan kesejahteraan di masa depan. Kuncinya adalah dua hal yang dapat kita pelajari dari pribadi Rut, yaitu; pertama, Rut tetap memiliki integritas sehingga tidak mau meninggalkan Naomi yang dengan begitu dia tetap setia kepada Allah yang disembah keluarga besar Naomi. Kedua, Rut memiliki ketulusan sehingga dengan kerendahan hati dia mau bekerja untuk kelangsungan hidupnya dan Naomi. Mari kita menghayati kehidupan Rut beserta Naomi, yang pada akhirnya kita akan memiliki dan menerapkan dua kebaikan dalam kepribadian Rut dalam kehidupan kita. Maka kesejahteraan dari Allah akan dikaruniakan kepada keluarga kita.

Melalui cerita kehidupan Rut yang adalah contoh bagaimana Allah dapat mengubah kehidupan dan membawanya ke arah yang telah Ia tentukan. Kita melihat penggenapan rancangan sempurna dalam kehidupan Rut, sama-halnya dengan semua anak-anak pilihanNya. Meskipun Rut berasal dari latar belakang keluarga yang tidak mengenal Tuhan, bahkan keluarga penyembah berhala di Moab, namun pada saat menjumpai Allah Israel, ia menjadi saksi hidup akan orang yang beriman kepada Allah. Demikian juga disaat ia harus tinggal dalam kesederhanaan sebelum menikahi Boas, ia percaya bahwa Allah setia dalam memelihara umat-Nya. Rut juga merupakan teladan pekerja keras dan penuh kesetiaan. Kita tahu bahwa Allah membalas setiap kesetiaan umat pilihanNya. Karena Allah tentunya akan memberi upah kepada orang yang sungguh mencari dan percaya kepadaNya.Tuhan memberkati kita. Amin.

TUHAN YANG BERDAULAT

 Bahan Bacaan: 1 Samuel 28: 20-25

Tentu kita pernah memaksakan kehendak kepada teman atau saudara. Tetapi dipastikan kita tidak bermaksud memaksakan kehendak kepadaTuhan. Namun tanpa kita sadari kita juga mungkin kerap menjadi orang yang memaksakan kehendak kepada Tuhan. Kita terus berupaya untuk mendapatkan sesuatu yang bukan kehendak-Nya. Kita bahkan berdoa memaksakan keinginan itu kepada Tuhan. Jika hal tersebut kita lakukan, dipastikan tetap tidak berhasil. Kita lupa bahwa Allah kita adalah Tuhan yang berdaulat yang tidak dapat diperintah oleh siapapun. Beruntung kita diberi kesemptan untuk berdoa memohon ampun, jika saja kita masih sering memaksakan kehendak kepada Tuhan. Mengaku berdosa di hadapan-Nya jika kita pernah berusaha mendikte Tuhan agar memenuhi keinginan kita.

 Bacaan kita saat ini mengingatkan bahwa Saul adalah raja yang hebat yang diberi kemampuan oleh Tuhan untuk mengalahkan musuh-musuh bangsa Israel. Pada dasarnya Saul sadar bahwa setiap pertempuran yang dilakukannya, dimenangkan karena ada penyertaan Tuhan. Namun seiring berjalannya waktu, dalam kemegahannya sebagai raja dan kemenangan-kemenangan yang diperolehnya, ia menjadi tidak setia dan tidak sabar mengikuti petunjuk dari Tuhan. Dari kisah perjalanan Saul selama menjadi raja Israel menunjukkan bahwa ia adalah seorang dengan pribadi yang tidak teguh. Walaupun ia adalah orang yang percaya kepada Tuhan dan selalu meminta petunjuk dari Tuhan, tetapi seringkali juga ia tidak sabar menunggu jawaban dari Tuhan dan mengambil tindakan sendiri. Hal itu yang membuat ia ditolak oleh Tuhan. Dan ia tahu bahwa Tuhan memang menolaknya seperti yang disampaikan oleh Samuel sebelum nabi itu mati. Keadaan yang sudah diketahuinya itu bukan membuat Saul sadar dan berbalik atau menyerahkan diri kepada keputusan Tuhan, melainkan ia berusaha untuk mengambil jalannya sendiri. Jadi, tidak heran kalau hatinya tidak tenang ketika orang Filistin mulai bergerak maju menyerang. Pemaksaan kehendak ini akhirnya membuat Saul mencari kembali para pemanggil arwah dan roh peramal. Padahal sebelumnya ia sudah mengusir mereka. Pengusiran itu sesungguhnya sudah tepat karena ritual seperti itu bertentangan dengan Hukum Musa. Ia ingin mengetahui kehendak Tuhan saat menghadapi perang melalui arwah Samuel. Akan tetapi, jawaban arwah Samuel malah semakin menegaskan bahwa ia tidak dapat memaksa Tuhan memenuhi kehendak-Nya. Semua ini menunjukkan bahwa Allah berdaulat. Ia bukanlah Allah yang dapat dipaksa untuk melakukan apa yang menjadi kehendak manusia.

Dari kisah ini dapat kita renungkan, bahwa dalam berbagai keadaan yang kita alami, adalah benar jika berserah kepada Tuhan dan mempercayakan tangan Tuhan yang bekerja, dan tetap setia meskipun mungkin apa yang Tuhan tentukan tidak sesuai dengan harapan kita. Kita tidak punya hak memaksakan keinginan kita yang sebenarnya menuntut Tuhan menjawab apa yang kita minta. Tetaplah menantikan jawabanNya sambil tetap setia berjalan pada apa yang sudah diajarkan dalam firmanNya. Dan yang tidak kalah pentingya adalah sadar dan kembali kepada Tuhan ketika Ia menegur kita dari hal yang kecil dan jangan berpaling dari Tuhan, karena jika kita berpaling dari Tuhan untuk hal yang kecil, semakin lama akan sulit bagi kita untuk kembali kepadaNya, seperti Saul yang semakin lama semakin jauh dari Tuhan bahkan ditolak oleh Tuhan. Tuhan memberkati kita. Amin.

Rabu, 06 April 2022

MELIHAT HATI

 

Bacaan: Efesus 4: 17-32

 

Tidak akan bisa ditunda lagi akan kebutuhan yang mendesak tentang pertumbuhan spiritualitas seseorang pada masa-masa sekarang ini. Masa dimana semua orang untuk senantiasa menjaga dan menahan diri dari banyak tawaran dunia yang terlihat menarik dan memikat hati. Sudah saatnya untuk mengejar sasaran terhadap apa yang Tuhan rencanakan dan sedang dikerjakan-Nya pada saat yang menentukan ini. Sebuah pengejaran hati sebagai pusat nilai diri untuk segera memahami sekaligus menghayati apa yang Tuhan sukai dan rindukan, bahkan mengerti apa yang mengganggu hati-Nya. Tuhan seringkali mencelikkan mata hati kita untuk  mampu membedakan mana yang baik dan benar. Itu berarti bahwa hati sebagai penentu arah perjalanan hidup seseorang, sehingga siapa yang ingin “memperbesar” hidupnya, ia harus “memperbesar” hatinya terlebih dahulu.

Perikop bacaan pada hari ini, kembali hati kita teruji ketajamannya untuk melihat dan sekaligus menyikapi terhadap mereka; yang tidak mengenal Allah, yang jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, yang menyerahkan diri kepada hawa nafsu, yang berdusta, yang mencuri, yang memendam kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah. Saatnya kita bersedia digiring melalui perikop ini untuk melihat hati kita masing-masing. Untuk melihat perbedaan mereka yang tidak mengenal Allah dengan mereka yang sudah secara utuh dalam hidupnya sebagai manusia baru bentukan Tuhan. Sudah saatnya kita menolak untuk mengikuti mereka yang berjalan dengan membuat jalan sendiri, mereka yang mengatur kehidupan berdasarkan diri-sendiri dan melakukan segala sesuatu berdasarkan diri-sendiri.

Allah telah memiliki catatan mengenai kualitas dan kapasitas hati kita, apakah hati kita telah menjadi arah hidup untuk menjadikan kita sebagai manusia baru yang telah menanggalkan manusia lama atau belum. Sesungguhnya kita telah mati dan bangkit bersama Kristus, itu berarti manusia lama kita telah disalibkan dengan-Nya dan berada dalam kehidupan manusia baru. Mengenakan manusia baru di dalam Kristus berarti kita telah dipersatukan dengan-Nya, diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

Pada akhirnya, biarlah bisikan Roh Kudus yang terdengar merdu di telinga dan menerobos ke dalam hati kita yang begini “Aku akan mencarimu terus dan kamu akan mendapatkan Aku” senantiasa menjadi kekuatan hidup kita. Bisikan itu adalah petanda sikap keterdesakan Allah untuk membawa kita kedalam ruang yang intim dan akrab yang dirindukan-Nya. Oleh karenanya, marilah menghiasi hidup dalam panggilan dan pelayanan yang telah diberikan Tuhan dengan sikap dan tindakan yang membangun. Tidak akan pernah menyia-siakan kesempatan yang disediakan Tuhan dan terus bekerja di ladang-Nya dengan penuh sukacita dan syukur.

Tuhan memberkati kita.

Kamis, 26 Agustus 2021

KESEDIAAN DIRI UNTUK MELAYANI

 Bacaan: Yohanes 6: 56-69

Seringkali kita menerima renungan yang bertemakan tentang Yesus sebagai Roti hidup, tepatnya dari bacaan yang terambil dari Injil Yohanes pasal yang ke-6. Pada dasanya kita terus diingatkan untuk memahami bahwa roti yang dimaksud bukanlah roti yang hanya bisa mengenyangkan kebutuhan jasmani, namun Tuhan Yesus berbicara yang mengarahkan sepenuhnya tentang kebutuhan rohani yang membawa kepada hidup yang kekal. Gambaran yang disajikan Tuhan Yesus tentang diri-Nya sebagai roti hidup adalah merupakan undangan bagi setiap orang untuk datang, percaya dan menerima Dia sebagai Tuhan yang datang dari sorga untuk menyelamatkan.

Demikian juga bacaan kita hari ini, merupakan kelanjutan tentang makna roti hidup bagi umat manusia serta tanggapan yang diberikan. Ada tiga bagian besar atau perikop yang perlu kita perhatikan, pertama terdapat dalam ayat 56-59 yang mengungkapkan bahwa barangsiapa menerima Roti Hidup, maka akan menerima karya keselamatan. Dengan demikian ada respon dari umat manusia supaya senantiasa membangun persekutuan dengan Tuhan Yesus. Yang kedua terdapat dalam ayat 60-66, menceritakan tentang orang-orang yang awalnya bersemangat untuk mendengar ajaran Tuhan Yesus, kemudian mengundurkan diri dengan alasan tidak siap menerima ajaran keras dari-Nya. Dan bagian ketiga terdapat dalam ayat 67-69 yaitu pengakuan Petrus menanggapi pertanyaan Tuhan Yesus. Petrus tidak akan pergi meninggalkan Tuhan Yesus, dan menganggap bahwa perkataan yang diucapkan Tuhan Yesus adalah perkataan yang hidup, perkataan yang dari Allah. Pengakuan Petrus inilah cermin pengikut Yesus yang setia, pengakuan yang jujur dan tulus dari hati yang mampu melihat dan merasakan kasih dan karya Allah.

Tidaklah semua pengikut Tuhan Yesus pada waktu itu seperti yang dilakukan oleh seorang yang bernama Petrus. Kebanyakan masih bingung dengan pernyataan Tuhan Yesus tentang diri-Nya, mereka memahami pengajaran Tuhan Yesus hanya dengan akal pikiran manusia yang terbatas. Petrus memandang pilihan hidupnya kepada Kristus bukanlah pilihan yang salah, pilihan yang benar yang membawa pada hidup dan keselamatan yang kekal. Tuhan Allah telah menyatakan karya dan kuasa-Nya kepada manusia melalui pemeliharaan hidup, inilah yang seharusnya membuat manusia tidak ada alasan untuk meninggalkan-Nya. Dibutuhkan komitmen yang sempurna dan mutlak kepada Tuhan, sekalipun banyak tantangan darimanapun, hal itu tidak akan menyurutkan keteguhan iman kepada Tuhan Yesus. Tentu tidak akan lupa tentang perlengkapan senjata Allah yang memampukan manusia juga untuk tetap berjalan dalan garis perjuangan dalam menghadapi serangan kuasa-kuasa jahat yang selalu menyerang manusia pilihan Tuhan.

Pada akhirnya kita selalu diingatkan bahwa kesediaan untuk tetap melayani adalah pengejawantahan kesetiaan mengikut Tuhan Yesus. Tetap memiliki keyakinan bahwa menjalani setiap tugas pelayanan yang dipercayakan Tuhan kepada kita, pastilah diberi kekuatan dari-Nya. Kesediaan untuk tetap bertahan melayani dan terlibat aktif juga didasari bahwa semua itu dilakukan sebagai bentuk respon atas anugerah dan berkat yang Tuhan selalu sediakan untuk kita. Pertolongan dan kekuatan dari Tuhan yang memampukannya.

Tuhan Yesus memberkati   

Amin


SEBAGAI PERWUJUDAN TANGAN TUHAN

 Bacaan: Markus 6:30-34; 53-56

Pemahaman tentang wanita atau perempuan, tidak pernah bergeser jauh dari pemikiran kita semua, bahwa perempuan memiliki peran yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan berkeluarga. Kelembutan dan kasih sayangnya sangat dinantikan kehadirannya oleh semua pihak dalam sebuah keluarga. Sentuhan kelemah-lembutannya dibandingkan dengan ketangguhan fisiknya menunjukkan bahwa perempuan lebih menonjolkan perasaan dalam logika berpikirnya untuk memberlakukan cinta-kasih kepada keluarga. Maka tepatlah Allah pada waktu menciptakan perempuan sebagai penolong yang sepadan dengan laki-laki. Artinya peran penolong yang sepadan ternyata benar-benar nyata sebagai penyeimbang perjalanan kehidupan keluarga. Meskipun memiliki kelemahan fisik sebagai unsur kekurangannya, namun perempuan adalah pribadi yang khas, wujud peran penolong yang sepadan juga terlihat dari sikap mandiri, pekerja keras dan sangat multi-fungsi dalam kehidupan rumah-tangga.

Kepekaan yang dimiliki seorang perempuan semakin memperkuat bahwa perempuan senantiasa menggunakan hati dan perasaan dalam bertindak. Lebih cepat tanggap untuk merasakan apa yang sedang dirasakan oleh orang lain. Terlebih perempuan Kristen yang perhiasannya adalah manusia batiniah yang tersembunyi dengan perhiasan yang tidak binasa yang berasal dari roh yang lemah lembut dan tenteram, yang sangat berharga di mata Allah. Belajar dari kisah yang terdapat dalam bacaan kita hari ini, bagaimana Tuhan Yesus lebih mengandalkan perasaan dan cinta kasih-Nya dalam bertindak, demikian juga hendaknya perempuan Kristen dan kita semua. Bukan karena kuasa dan wibawa yang dikagumi oleh banyak orang terhadap diri Tuhan Yesus saat memberi makan atau melakukan penyembuhan kepada banyak orang tersebut, tetapi Tuhan Yesus mengandalkan hati yang penuh dengan belas kasih. Belas kasih Tuhan Yesus sebagai dasar melakukan sesuatu yang menakjubkan, itu juga memiliki pengertian bahwa Dia senantiasa ikut merasakan beban pergumulan dan rasa sakit yang dimiliki banyak orang yang mengikuti-Nya. Tuhan Yesus juga merasakan dan menyertai alur pikiran umat-Nya betapa besar harapan mereka agar mengalami pembaharuan hidup.

Sebagaimana Tuhan Yesus saat berada di dunia, hidup-Nya untuk mengasihi umat ciptaan-Nya tanpa terkecuali dan tak terbatas, mengorbankan sampai mencapai titik puncak pada kematian-Nya demi kebaikan semua, maka demikianlah hendaknya para perempuan dan kita semua. Berbagi kasih kepada orang lain dan memberi diri seutuhnya adalah cara dan pendekatan Kristen yang menjadi dasar pelayanan kita sebagai anak-anak Tuhan. Peran penolong dan peran yang sepadan yang Allah berikan kepada perempuan dalam kehidupan laki-laki, demikian juga hendaknya berlaku bagi kita umat pilihan Tuhan dalam memberlakukan cinta kasih kepada sesama ciptaan terlebih kepada sesama manusia. Dengan ke-khas-an dan kepercayan yang Allah berikan kepada kita, sebagai perwujudan tangan Tuhan, marilah kita senantiasa mengupayakan beragam berkat cinta kasih bagi kehidupan sesama yang lebih baik. Hanya dengan berbagi cinta kasih-Nya dan mau berkorban seperti yang diteladankan oleh Sang Kristus, kita akan menemukan kesejatian hidup Kristen kita. Selamat bertahan untuk terus berelasi dengan Allah dan seluruh ciptaan-Nya.

Tuhan Yesus memberkati   

Amin